Rabu, 18 Februari 2026

Sepeda di Atas Kertas Kusam: Membaca Surat Kepemilikan Sepeda di Lampung Tengah

Secarik kertas usang berwarna kecokelatan dengan ketikan mesin tik manual dan tulisan tangan membawa kita kembali ke masa 47 tahun yang lalu. Dokumen tersebut adalah "Surat Keterangan Milik Sepeda" yang dikeluarkan oleh Kantor Kepala Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 9 Februari 1977.

Oleh: Adi Setiawan

 

Surat Keterangan Milik Sepeda

(Sumber: Dok. Pribadi)

Arsip ini bukan sekadar bukti kepemilikan barang. Di balik stempel basah bertanda tangan Kepala Kampung, Tarminto KS, tersimpan narasi besar tentang kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah transmigrasi Lampung pada masa lampau.

Pada tahun 1977, memiliki sebuah sepeda merek Raleigh atau warga sering menyebutnya Relight/Ralek. Seperti yang tercantum dalam arsip tersebut, pemilik sepeda atas nama Jameni bin Sobingi, bukanlah hal yang sepele. Dalam kolom rincian, disebutkan ciri-ciri sepeda secara mendetail: warna cat hijau botol, ukuran 57 cm, bernomor seri 4043 dan dengan keterangan lain berlampu komplit.

Sepeda merek ini merupakan salah satu merek sepeda klasik asal Nottingham, Inggris, yang didirikan pada tahun 1885. Sepeda Raleigh tercatat sudah beredar di pasar Indonesia sejak tahun 1939.Pada masa Hindia Belanda, sepeda ini merupakan salah satu kendaraan utama yang digunakan oleh bangsawan, misionaris, dan saudagar kaya.

Raleigh adalah salah satu merek sepeda onthel yang sudah populer di Hindia Belanda (Indonesia) jauh sebelum kemerdekaan, bersama merek lain seperti Simplex, Gazelle, dan Hercules. Meskipun sudah ada sebelumnya, sepeda Raleigh (dan sepeda Inggris lainnya) sangat populer pasca-kemerdekaan (1950-an) hingga 1970-an, menggantikan dominasi sepeda Belanda karena alasan ketahanan dan kemudahan suku cadang pada masa itu. Sepeda Raleigh dikenal memiliki kualitas besi yang kokoh dan emblem yang khas, sering digunakan oleh masyarakat kota hingga pedesaan.

Kaitannya dengan masyarakat pedesaan, secara ekonomi pada medio 1970-an, sepeda adalah alat transportasi utama sekaligus simbol status sosial kelas menengah di pedesaan. Di saat kendaraan bermotor masih merupakan barang mewah yang hanya dimiliki oleh segelintir pejabat atau pengusaha besar, sepeda menjadi "nyawa" bagi mobilitas warga.

Mengapa harus ada surat keterangan resmi dari pemerintah desa? Ini menunjukkan betapa berharganya aset tersebut. Sepeda pada masa itu sering kali memiliki nilai investasi. Jika seseorang ingin menjualnya atau jika terjadi pencurian, surat ini berfungsi layaknya BPKB pada kendaraan bermotor zaman sekarang. Hal ini mencerminkan ketatnya administrasi keamanan tingkat desa (Siskamling) dalam menjaga ketertiban umum di wilayah pemukiman yang saat itu mungkin masih dikelilingi hutan atau perkebunan.

Lokasi yang tertera, "Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak", merujuk pada wilayah yang kental dengan sejarah transmigrasi. Nama-nama khas Jawa seperti Srimulyo menunjukkan pemukiman tersebut dibentuk oleh para pendatang yang ikut program pemerataan penduduk pemerintah.

Secara budaya, arsip ini memperlihatkan bagaimana struktur pemerintahan desa bekerja sebagai pelindung warga. Hubungan antara Kepala Kampung dan warga bersifat sangat personal namun formal. Kondisi sosial tahun 1977 adalah masa di mana Indonesia sedang berada di puncak awal pertumbuhan ekonomi Orde Baru. Namun, di tingkat akar rumput seperti di Lampung Tengah, kehidupan masih sangat sederhana. Listrik mungkin belum masuk ke seluruh rumah, dan akses jalan masih berupa tanah atau onderlagh. Dalam kondisi geografi yang menantang inilah, sepeda Raleigh hijau botol itu menjadi kawan setia untuk mengangkut hasil bumi atau sekadar membantu mobilitas warga

Ada satu kalimat menarik dalam arsip tersebut: "Demikian keterangan ini kami buat dengan sebenarnya mengingat Sumpah dan Jabatan kami...". Frasa ini bukan sekadar basa-basi birokrasi. Ia mencerminkan etika kepemimpinan masa lalu di mana jabatan dianggap sebagai amanah sakral di hadapan Tuhan. Di era itu, kata-kata seorang Kepala Kampung memiliki bobot moral yang tinggi. Integritas administrasi dijaga bukan dengan sistem digital, melainkan dengan integritas personal yang dituangkan di atas kertas segel atau surat berstempel.

Arsip dari Kampung Srimulyo ini adalah jendela kecil untuk melihat Indonesia di masa lalu. Ia bercerita tentang kesederhanaan, ketertiban administrasi, dan nilai sebuah barang yang diraih dengan kerja keras. Sepeda Raleigh hijau botol milik Jameni mungkin sudah lama berkarat atau hilang ditelan zaman, namun surat keterangan ini tetap tegak berdiri sebagai saksi bisu sebuah zaman di mana kejujuran diikat oleh sumpah jabatan dan martabat seorang warga diwakili oleh selembar kertas kusam. Kita hari ini patut belajar bahwa di balik benda yang paling sederhana sekalipun, selalu ada sejarah yang layak untuk dicatat dan diingat.

Senin, 09 Februari 2026

Eksplorasi Awal Way Panas Natar

Bukan hanya sekedar narasi tentang kegiatan ekonomi, kondisi geologi Natar juga pernah diberitakan oleh jurnal masa Kolonial Hindia Belanda. Keberadaan sumber air panas atau yang saat ini lebih dikenal dengan Way Panas Natar secara sekilas pernah tertulis pada Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 tahun 1847.

Oleh: Adi Setiawan 


Pemberitaan Air Panas Natar

(Sumber:  Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847) 

Way Panas Natar yang berada di Desa Merak Batin, Natar, Lampung Selatan dikenal masyarakat Lampung sebagai salah satu destinasi liburan keluarga di Provinsi Lampung. Masyarakat yang berkunjung bukan hanya sekadar berlibur saja, adapula pengunjung Way Panas Natar yang sengaja berendam di kolam air panas sebagai sarana pengobatan seperti penyakit sendi dan kulit. Masyarakat percaya bahwa suhu panas dapat memberikan efek pengobatan.

 Keunikan yang dimiliki oleh Way Panas Natar adalah bersumber langsung dari panas bumi. Hal ini berbeda dari air panas lainnya yang biasanya bersumber dari aktivitas gunung berapi. Mata air Way Panas Natar bersumber dari sembilan mata air yang saat ini telah dikelola sebagai objek wisata di Kabupaten Lampung Selatan.

 Peta Lokasi Way Panas Natar

(Sumber:  Shofia Faradiva Davana, 2024)

 

Eka Ruri Febriyantari dkk (2014) menuliskan berdasarkan penjelasan dari Muttaqien Djaja Taruna sebagai pengelola tempat pemandian air panas tersebut, mengatakan Way Panas Natar adalah warisan turun menurun dari zaman Puyung Canggah Umpu Sebadjau, hingga turun ke Ratu Sebuay Djaja Taruna, sampai ke Ayahanda Jardien Aja Sophia dan sekarang Muttaqien Djaja Taruna yang meneruskan pengelolaan pemandian air panas ini. Sebelum adanya dikelola seperti saat ini, pemandian air panas ini hanyalah rawa-rawa. Sumber pemandian air panas ini mulai ramai dikunjungi pada tahun 2004 karena dipercaya oleh masyarakat berkhasiat sebagai terapi penyembuhan berbagai macam penyakit seperti stroke, rematik dan penyakit kulit. 

Sementara itu, pemberitaan mengenai keberadaan air panas di Natar termuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 (1847:14). Pada jurnal yang terbit di era kolonial Hindia Belanda tersebut, dituliskan bahwa air panas Natar berada di daerah rawa-rawa. Air panas ini keluar dari tanah namun tidak menimbulkan letupan-letupan. Jurnal yang terbit pada tahun 1847 ini juga menjelaskan bahwa lokasi sekitar air panas ini menjadi habitat binatang seperti badak dan rusa. Dimana air panas tersebut menjadi tempat bagi badak mandi dan rusa minum. Sayangnya pada jurnal itu tidak dibahas lebih dalam apakah air panas di Natar itu sudah dikelola atau menjadi pemandian bagi masyarakat. Namun dituliskan bahwa masyarakat masa itu, menjadikan air panas sebagai tempat mencari pertanda baik atau buruk untuk menanam pada musim berikutnya. 

Kemudian berdasarkan literatur tahun 1862 yakni dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch disebutkan mengenai beberapa pemandian air panas di Lampung. Salah satu topik yang dibahas adalah pemandian air panas di Natar. Dituliskan bahwa lokasi air panas ini sekitar 100 meter di sebelah timur jalan utama. Terdapat area terbuka yang hampir melingkar di hutan, tempat Sungai Illahan membentuk rawa kecil. Mata air panas muncul dari beberapa bebatuan di dalam rawa. Disebutkan pula air panas ini memiliki suhu antara 85° F hingga 127° F. Air panasnya mengandung banyak asam karbonat. 

Dua literatur era kolonial sungguh memberikan gambaran tentang Way Panas Natar. Dari catatan tersebut, kita mengetahui bahwa lokasi ini pada awalnya adalah hamparan rawa-rawa, menjadi habitat alami bagi beragam fauna. Evolusi Way Panas Natar dari rawa liar menjadi sebuah destinasi yang terkelola mencerminkan bagaimana interaksi manusia dan alam telah membentuk lanskap lokal selama beberapa waktu, menempatkannya sebagai salah satu lokus alam yang penting di Lampung Selatan. 

Keberadaannya kini menjadi simbol kekayaan geologi dan potensi daerah Lampung, khususnya dalam pemanfaatan energi panas bumi. Air panas alami yang terus mengalir adalah indikasi kuat adanya aktivitas geotermal di bawah permukaan, sebuah sumber daya yang berharga. Oleh karena itu, Way Panas Natar tidak hanya menawarkan relaksasi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan keunikan geologis Lampung yang menjadikannya lokasi yang patut dijaga kelestariannya, baik sebagai warisan budaya maupun aset geowisata di masa depan.

 

Referensi:

Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch, 1862

 

Davana, Shofia Faradiva. 2024. Motivasi Wisatawan Berkunjung Ke Pemandian Air Panas Way Panas Natar Tahun 2024. Universitas Lampung: Bandar Lampung

 

Febriyantri, Eka R., dkk. "Potensi Wisata Air Panas Desa Merak Batin Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan." Jurnal Penelitian Geografi, vol. 2, no. 6, 2014.

 

Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847

Kisi-Kisi ASAJ: Sejarah

  1.        Menganalisis perkembangan politik serta bukti-bukti keberadaan Kerajaan Kutai 2.        Menganalisis hasl akulturasi budaya ...

Populer