Bukan hanya sekedar narasi tentang kegiatan ekonomi, kondisi geologi Natar juga pernah diberitakan oleh jurnal masa Kolonial Hindia Belanda. Keberadaan sumber air panas atau yang saat ini lebih dikenal dengan Way Panas Natar secara sekilas pernah tertulis pada Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 tahun 1847.
Pemberitaan Air Panas Natar
(Sumber: Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847)
Way Panas
Natar yang berada di Desa Merak Batin, Natar, Lampung Selatan dikenal
masyarakat Lampung sebagai salah satu destinasi liburan keluarga di Provinsi
Lampung. Masyarakat yang berkunjung bukan hanya sekadar berlibur saja, adapula
pengunjung Way Panas Natar yang sengaja berendam di kolam air panas sebagai
sarana pengobatan seperti penyakit sendi dan kulit. Masyarakat percaya bahwa
suhu panas dapat memberikan efek pengobatan.
(Sumber:
Shofia Faradiva Davana, 2024)
Eka Ruri Febriyantari dkk (2014) menuliskan berdasarkan penjelasan dari Muttaqien Djaja Taruna sebagai pengelola tempat pemandian air panas tersebut, mengatakan Way Panas Natar adalah warisan turun menurun dari zaman Puyung Canggah Umpu Sebadjau, hingga turun ke Ratu Sebuay Djaja Taruna, sampai ke Ayahanda Jardien Aja Sophia dan sekarang Muttaqien Djaja Taruna yang meneruskan pengelolaan pemandian air panas ini. Sebelum adanya dikelola seperti saat ini, pemandian air panas ini hanyalah rawa-rawa. Sumber pemandian air panas ini mulai ramai dikunjungi pada tahun 2004 karena dipercaya oleh masyarakat berkhasiat sebagai terapi penyembuhan berbagai macam penyakit seperti stroke, rematik dan penyakit kulit.
Sementara itu, pemberitaan mengenai keberadaan air panas di Natar termuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 (1847:14). Pada jurnal yang terbit di era kolonial Hindia Belanda tersebut, dituliskan bahwa air panas Natar berada di daerah rawa-rawa. Air panas ini keluar dari tanah namun tidak menimbulkan letupan-letupan. Jurnal yang terbit pada tahun 1847 ini juga menjelaskan bahwa lokasi sekitar air panas ini menjadi habitat binatang seperti badak dan rusa. Dimana air panas tersebut menjadi tempat bagi badak mandi dan rusa minum. Sayangnya pada jurnal itu tidak dibahas lebih dalam apakah air panas di Natar itu sudah dikelola atau menjadi pemandian bagi masyarakat. Namun dituliskan bahwa masyarakat masa itu, menjadikan air panas sebagai tempat mencari pertanda baik atau buruk untuk menanam pada musim berikutnya.
Kemudian berdasarkan literatur tahun 1862 yakni dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch disebutkan mengenai beberapa pemandian air panas di Lampung. Salah satu topik yang dibahas adalah pemandian air panas di Natar. Dituliskan bahwa lokasi air panas ini sekitar 100 meter di sebelah timur jalan utama. Terdapat area terbuka yang hampir melingkar di hutan, tempat Sungai Illahan membentuk rawa kecil. Mata air panas muncul dari beberapa bebatuan di dalam rawa. Disebutkan pula air panas ini memiliki suhu antara 85° F hingga 127° F. Air panasnya mengandung banyak asam karbonat.
Dua literatur era kolonial sungguh memberikan gambaran tentang Way Panas Natar. Dari catatan tersebut, kita mengetahui bahwa lokasi ini pada awalnya adalah hamparan rawa-rawa, menjadi habitat alami bagi beragam fauna. Evolusi Way Panas Natar dari rawa liar menjadi sebuah destinasi yang terkelola mencerminkan bagaimana interaksi manusia dan alam telah membentuk lanskap lokal selama beberapa waktu, menempatkannya sebagai salah satu lokus alam yang penting di Lampung Selatan.
Keberadaannya
kini menjadi simbol kekayaan geologi dan potensi daerah Lampung, khususnya
dalam pemanfaatan energi panas bumi. Air panas alami yang terus mengalir adalah
indikasi kuat adanya aktivitas geotermal di bawah permukaan, sebuah sumber daya
yang berharga. Oleh karena itu, Way Panas Natar tidak hanya menawarkan
relaksasi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan keunikan geologis
Lampung yang menjadikannya lokasi yang patut dijaga kelestariannya, baik
sebagai warisan budaya maupun aset geowisata di masa depan.
Referensi:
Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch, 1862
Davana, Shofia Faradiva. 2024. Motivasi
Wisatawan Berkunjung Ke Pemandian Air Panas Way Panas Natar Tahun 2024.
Universitas Lampung: Bandar Lampung
Febriyantri, Eka R., dkk. "Potensi
Wisata Air Panas Desa Merak Batin Kecamatan Natar Kabupaten Lampung
Selatan." Jurnal Penelitian Geografi, vol. 2, no. 6, 2014.
Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9,
1847
Tidak ada komentar:
Posting Komentar