Secarik kertas usang berwarna kecokelatan dengan ketikan mesin tik manual dan tulisan tangan membawa kita kembali ke masa 47 tahun yang lalu. Dokumen tersebut adalah "Surat Keterangan Milik Sepeda" yang dikeluarkan oleh Kantor Kepala Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 9 Februari 1977.
Oleh:
Adi Setiawan
Surat
Keterangan Milik Sepeda
(Sumber:
Dok. Pribadi)
Arsip ini bukan sekadar bukti kepemilikan barang. Di balik stempel basah bertanda tangan Kepala Kampung, Tarminto KS, tersimpan narasi besar tentang kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah transmigrasi Lampung pada masa lampau.
Pada tahun 1977, memiliki
sebuah sepeda merek Raleigh atau warga sering menyebutnya Relight/Ralek.
Seperti yang tercantum dalam arsip tersebut, pemilik sepeda atas nama Jameni
bin Sobingi, bukanlah hal yang sepele. Dalam kolom rincian, disebutkan
ciri-ciri sepeda secara mendetail: warna cat hijau botol, ukuran 57 cm,
bernomor seri 4043 dan dengan keterangan lain berlampu komplit.
Sepeda merek ini merupakan
salah satu merek sepeda klasik asal Nottingham, Inggris, yang didirikan pada
tahun 1885. Sepeda Raleigh tercatat sudah beredar di pasar Indonesia sejak
tahun 1939.Pada masa Hindia Belanda, sepeda ini merupakan salah satu kendaraan
utama yang digunakan oleh bangsawan, misionaris, dan saudagar kaya.
Raleigh adalah salah satu
merek sepeda onthel yang sudah populer di Hindia Belanda (Indonesia) jauh
sebelum kemerdekaan, bersama merek lain seperti Simplex, Gazelle, dan Hercules.
Meskipun sudah ada sebelumnya, sepeda Raleigh (dan sepeda Inggris lainnya)
sangat populer pasca-kemerdekaan (1950-an) hingga 1970-an, menggantikan
dominasi sepeda Belanda karena alasan ketahanan dan kemudahan suku cadang pada
masa itu. Sepeda Raleigh dikenal memiliki kualitas besi yang kokoh dan emblem
yang khas, sering digunakan oleh masyarakat kota hingga pedesaan.
Kaitannya dengan
masyarakat pedesaan, secara ekonomi pada medio 1970-an, sepeda adalah alat
transportasi utama sekaligus simbol status sosial kelas menengah di pedesaan.
Di saat kendaraan bermotor masih merupakan barang mewah yang hanya dimiliki
oleh segelintir pejabat atau pengusaha besar, sepeda menjadi "nyawa"
bagi mobilitas warga.
Mengapa harus ada surat
keterangan resmi dari pemerintah desa? Ini menunjukkan betapa berharganya aset
tersebut. Sepeda pada masa itu sering kali memiliki nilai investasi. Jika
seseorang ingin menjualnya atau jika terjadi pencurian, surat ini berfungsi layaknya
BPKB pada kendaraan bermotor zaman sekarang. Hal ini mencerminkan ketatnya
administrasi keamanan tingkat desa (Siskamling) dalam menjaga ketertiban umum
di wilayah pemukiman yang saat itu mungkin masih dikelilingi hutan atau
perkebunan.
Lokasi yang tertera,
"Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak", merujuk pada wilayah yang
kental dengan sejarah transmigrasi. Nama-nama khas Jawa seperti Srimulyo
menunjukkan pemukiman tersebut dibentuk oleh para pendatang yang ikut program
pemerataan penduduk pemerintah.
Secara budaya, arsip ini
memperlihatkan bagaimana struktur pemerintahan desa bekerja sebagai pelindung
warga. Hubungan antara Kepala Kampung dan warga bersifat sangat personal namun
formal. Kondisi sosial tahun 1977 adalah masa di mana Indonesia sedang berada
di puncak awal pertumbuhan ekonomi Orde Baru. Namun, di tingkat akar rumput
seperti di Lampung Tengah, kehidupan masih sangat sederhana. Listrik mungkin
belum masuk ke seluruh rumah, dan akses jalan masih berupa tanah atau
onderlagh. Dalam kondisi geografi yang menantang inilah, sepeda Raleigh
hijau botol itu menjadi kawan setia untuk mengangkut hasil bumi atau sekadar membantu
mobilitas warga
Ada satu kalimat menarik
dalam arsip tersebut: "Demikian keterangan ini kami buat dengan
sebenarnya mengingat Sumpah dan Jabatan kami...". Frasa ini bukan
sekadar basa-basi birokrasi. Ia mencerminkan etika kepemimpinan masa lalu di
mana jabatan dianggap sebagai amanah sakral di hadapan Tuhan. Di era itu,
kata-kata seorang Kepala Kampung memiliki bobot moral yang tinggi. Integritas
administrasi dijaga bukan dengan sistem digital, melainkan dengan integritas
personal yang dituangkan di atas kertas segel atau surat berstempel.
Arsip dari Kampung
Srimulyo ini adalah jendela kecil untuk melihat Indonesia di masa lalu. Ia
bercerita tentang kesederhanaan, ketertiban administrasi, dan nilai sebuah
barang yang diraih dengan kerja keras. Sepeda Raleigh hijau botol milik Jameni
mungkin sudah lama berkarat atau hilang ditelan zaman, namun surat keterangan
ini tetap tegak berdiri sebagai saksi bisu sebuah zaman di mana kejujuran
diikat oleh sumpah jabatan dan martabat seorang warga diwakili oleh selembar
kertas kusam. Kita hari ini patut belajar bahwa di balik benda yang paling
sederhana sekalipun, selalu ada sejarah yang layak untuk dicatat dan diingat.
