Jumat, 26 Juni 2026

Ketakutan terhadap Malaria di Oosthaven

          Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan                                     dialami jika menetap di Oosthaven.

            Oleh: Adi Setiawan

Oosthaven

(Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)

 

 

Tatkala Oosthaven mulai pembangunannya tahun 1914, Inspektur Dinas Kesehatan Hindia Belanda untuk Wilayah Luar, Dr. V. D. Heyden dan ahli malaria, Dr. Schüffner, menyampaikan laporan tentang pembangunan jalur pantai bebas malaria di kedua sisi lokasi di mana Oosthaven akan dibangun. Namun kenyataan di lapangan saat proyek mulai dikerjakan pembangunan tidak memfokuskan kegiatannya pada pemberantasan malaria, melainkan hanya pada penyediaan air minum. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Kepala Layanan Kesehatan Sipil (Burgerlijke Geneeskundigen Dienst), dalam laporannya bulan Agustus 1921 menulis surat kepada Ketua Komisi Pengembangan Lahan bahwa malaria begitu parah di Oosthaven sehingga kapal-kapal terpaksa meninggalkan pelabuhan pada malam hari (G. Sieburgh, 1936:614-615).

 

 

Peta Oosthaven

(Sumber: G. Sieburgh, 1936:619)

 

Resiko terjangkit malaria dirasa begitu besar bagi orang-orang yang tinggal di Oosthaven. Hal itu tergambar nyata yang dialami oleh warga yang tinggal di Kampung Panjang dan Kampung Lunik. Di kedua kampung tersebut, malaria menjadi endemik kronis yang parah. Anak-anak sekolah menunjukkan gejala malaria kronis, nampak pada perut yang bengkak dan anemia ringan. Kondisi ini membuat pemerintah melakukan aksi pemeriksaan kesehatan terhadap warga di Kampung Panjang pada 4 Maret 1935 dan Kampung Lunik 17 September 1935 (G. Sieburgh, 1936:617).

 

Pada tahun 1935, Dokter R. Soesilo (pemimpin pengendali malaria Hindia Belanda) melakukan kunjungan investigasi di Oosthaven. Bersama dengan timnya, seperti Insinyur Departemen Teknis Dinas Kesehatan Masyarakat (Technische Afdeeling van den Dienst der Volksgezondheid), Ir. F. Bleichrodt, ia melakukan penyelidikan terhadap wabah malaria di Oosthaven. Kunjungan itu sebagai salah satu bagian dalam tur di Sumatra dalam misi penyelidikan terhadap penyakit malaria (De Indische Courant 25 Mei 1935, De Telegraaf 03 Agustus 1935).


Penyelidikan terhadap penyakit malaria di Oosthaven juga secara intensif dilakukan oleh Dokter G. Sieburgh antara tahun 1934 sampai 1936. Riset tersebut kemudian diterbitkan dalam sebuah jurnal kesehatan Geneeskundig Tijdschrift voor Ned. Indië.  Sieburgh menggarisbawahi bahwa penanganan penyakit malaria di Oosthaven berjalan sangat lambat. Pemerintah selalu menyatakan bahwa Oosthaven adalah tempat yang layak. Ini tentu berbanding terbalik dengan temuan-temuan yang dilakukan oleh para dokter yang mengunjungi Oosthaven.

 

Dokter-dokter yang pernah berkunjung ke Oosthaven memberikan kesimpulan bahwa perkembangbiakan nyamuk di Oosthaven dipengaruhi oleh lingkungan pesisir yang tidak sehat. Nyamuk-nyamuk berkembangbiak di muara Way Panjang dan Way Lunik. Begitupun lingkungan pesisir berupa air asin juga menambah meningkatnya perkembangbiakan malaria di Oosthaven (Bredasche Courant 23 April 1936).

 

Muara Way Panjang

(Sumber: G. Sieburgh, 1936:625)

   

Buruknya kondisi lingkungan di Oosthaven juga dipengaruhi oleh kegiatan pembuatan parit. Sehingga tidak dapat dihindari munculnya genangan-genangan air, baik kecil maupun besar, yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk anopheles. Nyamuk anopheles juga berkembangbiak di tepi parit, dengan air yang mengalir, di mana pun ada tikungan kecil, atau di mana aliran air terhalang oleh tanaman atau pusaran air kecil (C.D De Langen, 1918:41-42).

 

Oosthaven memiliki reputasi buruk sejauh menyangkut malaria sehingga kapal meninggalkan pelabuhan saat matahari terbenam, dan jika perlu kembali keesokan paginya, yang mengakibatkan pemerintah kehilangan sejumlah besar biaya tambatan. Masalah penyakit malaria sesungguhnya menjadi penghambat bagi kegiatan pengangkutan dan perdagangan di Oosthaven jika tidak ditangani secara serius. Laporan yang dibuat Dokter R. Sieburgh menjelaskan hasil tes darah massal menunjukkan warga yang infeksi tertiana, sementara pasien demam yang dirawat di rumah sakit hampir semuanya terinfeksi tropica.

 

Para dokter yang melakukan penyelidikan di Oosthaven memberikan masukan dalam pengendalian malaria yakni dengan memisahkan air tawar dan air asin secara ketat (De Sumatra Post 24 Juli 1935). Lebih lanjut Dokter G. Sieburgh menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda agar melakukan penataan Oosthaven dengan cara pengalihan Way Baku ke Way Panjang dan peninggian laguna yang membatasi tepian Panjang. Serta menjaga muara sungai Way Panjang agar tetap terbuka setiap saat dan mengalihfungsikan sungai semaksimal mungkin, dengan penanaman tanaman peneduh tepi sungai. Cara ini diharapkan dapat mengubah kondisi di Oosthaven menjadi pelabuhan yang sehat (De Indische Courant 03 April 1936).

 

Sehatnya lingkungan Oosthaven tentunya akan berdampak baik bagi dunia perdagangan dan pelayaran. Bukan hanya bagi Lampung, keberadaan Oosthaven diharapkan mampu memberikan pengaruh positif bagi perekonomian di Sumatra bagian selatan. Oleh karena itu Oosthaven disebut-sebut sebagai pintu gerbang bagi Sumatra bagian selatan, terutama untuk ekspor lada, kopi dan karet.

 

Referensi:

 

Buku

C.D De Langen. 1918. Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië. Javasche Boekhandel & Drukkerij: Batavia 

 

Jurnal

G. Sieburgh. (1936). De Malaria Te Oosthaven. Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch-Indië. No. 10. Hal. 614-619.

 

Koran

Bevindengen van Dr. R. Soesilo. 24 Juli 1935. De Sumatra Post.

 

De Malaria Te Oosthaven. 03 April 1936. De Indische Courant.

 

De Malaria Te Oosthaven. 23 April 1936. Bredasche Courant.

 

Malaria Bestrijding: Tournee van Dr. Soesilo. 25 Mei 1935. De Indische Courant.

 

Malaria Onderzoek in Oosthaven. 03 Agustus 1935. De Telegraaf.

Selasa, 12 Mei 2026

Mencari Siring Kibau yang "Hilang"

Membaca kumpulan dokumen administrasi pemerintah maupun pemberitaan masa kolonial Hindia Belanda sangat menarik guna mengetahui masa lampau kehidupan masyarakat Indonesia. Begitupun dokumen yang mengulas mengenai daerah Lampung di masa lampau.

Oleh: Adi Setiawan

Distrik di Lampung Tahun 1866

(Sumber: Javasche Courant, 2 Oktober 1886) 

Dalam dokumen yang diterbitkan oleh pemerintah ataupun pemberitaan, nama Lampung sering muncul. Terutama, menyangkut pemerintahan maupun kegiatan ekonomi. Menariknya dalam dokumen yang terbit, sering kali mencantumkan nama-nama daerah di Lampung. Beberapa yang sering disebut seperti Telok Betong (Teluk Betung), Tandjong Karang (Tanjung Karang), Tarabangi (Terbanggi), Menggala, Liwa, Kroe (Krui), Kota Agoeng (Kota Agung), Semangka, Goenoeng Soegih (Gunung Sugih) serta beberapa daerah lainnya.

Satu nama yang masih menjadi pertanyaan penulis adalah Siring Kibau (Siring Kibaw, Siring Kibouw). Alasanya, jika nama-nama daerah yang tertulis sebelumnya sampai hari ini masih dapat dijumpai di Lampung. Akan tetapi untuk nama Siring Kibau ini bagi penulis masih asing. Penulis mencoba untuk mencari nama Siring Kibau melalui mesin pencarian informasi maupun pencarian lokasi, hasilnya tidak ditemukan nama Siring Kibau dalam pencarian itu.

Padahal apabila kita menyimak dalam dokumen masa kolonial nama Siring Kibau dapat ditemukan. Berikut ini beberapa dokumen yang pernah menyampaikan mengenai Siring Kibau:

1.     Staatsblad van Nederlandsch-Indië

Pada lembaran negara yang diberlakukan mulai 1 Januari 1867 ini, bahwa berdasarkan Dekret Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 25 September 1866, No. 23 serta surat dari Menteri Koloni, tertanggal 16 Juni 1866, Letnan Aaz., No. 21/703 tertulis susunan administrasi sipil di wilayah kependudukan Distrik Lampung. Bersama dengan susunan administrasi itu juga tertuang gaji setiap pejabat di Lampung, yang salah satunya adalah di Siring Kibau. Pada dokumen ini tertulis een distrikts-hoofd te Siring-Kibauw, op ƒ100 's maands atau seorang kepala distrik di Siring-Kibauw, pada 100 per bulan.

Pada dokumen ini dipaparkan beberapa distrik selain Siring Kibau diantaranya adalah Semangka, Menggala, Boemi Meranti, Boemi Agoeng, Tarabangi, Sekampong dan Ketimbang. Selain lembaran negara tahun 1866 juga terdapat sebuah lembaran negara yang lebih awal dikeluarkan yakni tahun 1863 yang juga mengulas mengenai rencana kenaikan gaji kepala distrik di Lampung, termasuk Siring Kibau. Dijelaskan bahwa berdasarkan Dekret Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 1 Juli 1863, no. 26. Setelah membaca surat dari Menteri Koloni 16 Mei 1863, Lt. Aaz., no. 7/619 bahwa gaji para demang di Bumiagung, Siring-Kibau, Tarabangi dan Semangka yang awalnya berjumlah ƒ 600 (enam ratus guilden) per tahun, akan dinaikkan menjadi ƒ 1.200 (seribu dua ratus guilden) per tahun. 

2.     Javasche Courant, 2 Oktober 1886

Pada koran yang diterbitkan pada 2 Oktober 1886 ini juga mengulas hal sama dengan Staatsblad van Nederlandsch-Indië tanggal 1 Januari 1887 di atas. Bahkan diterangkan pula mengenai gaji yang diberikan kepada dua orang polisi selain gaji bagi kepala distrik di Siring Kibau, een distrikts-hoofd te Siring-Kibauw, op ƒl00 ’smaands, twee politie-dienaren bij dezen, op ƒ 10 ’smaands (Seorang kepala distrik di Siring-Kibauw, dengan gaji ƒ100 per bulan, beserta dua petugas polisi, dengan gaji ƒ10 per bulan). 

Dari dokumen lembaran negara dan pemberitaan Javasche Courant di atas dapat diketahui bahwa Siring Kibau pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda berbentuk sebagai distrik. Jika dilihat dari struktur pemerintahan kolonial distrik merupakan satuan pemerintahan yang dikepalai oleh wedana. Mengutip dari Nur Laely (2018:10), jika dilihat secara hierarki, urutan pemerintahan pada masa kolonial dimulai dari pejabat pemerintahan tertinggi dipegang oleh seorang gubernur jendral, Gewest atau Residentie yang dijabat oleh seorang Residen. Afdeeling dijabat oleh asisten residen. Onderafdeeling dijabat oleh controlir. Distrik dijabat oleh seorang wedana (demang, punggawa). Onderdistrik dijabat oleh seorang asisten wedana (asisten demang, camat). Serta Desa dijabat seorang Lurah. Dengan demikian Siring Kibau merupakan satuan pemerintahan yang membawahi beberapa onderdistrik atau jika saat ini kecamatan. 

3.     Verslag Over De Katoenkultuur In De Lampongsche Distrikten

Dokumen ini merupakan Laporan Tentang Budidaya Kapas di Distrik Lampung, yang dibuat oleh J.E Teijsmann ketika melakukan ekspedisi pada tahun 1857–1858 di Lampung. Berikut adalah gambaran Siring Kibau menurut J.E Teijsmann:

Dari Menggala, saya ingin pergi ke Siring Kibau melalui jalan setapak yang sudah ada, tetapi para kepala suku menyatakan ini tidak praktis dengan menunggang kuda. Jadi, saya kembali ke Terbanggi, dan dari sana menuruni Sungai Pengubuan ke Siring Kibau, yang panjangnya sekitar 50 pal. Penduduk hanya mendirikan beberapa kampung di sepanjang rute ini, dan lebih jauh ke hilir sungai sampai ke laut, hanya ada satu, Surabaya Ilir, yang meskipun tidak terlalu jauh dari laut, namun terletak di tanah talang.

Tanah-tanah ini, di sini dan di tempat lain, membentuk bagian tengah dari semua cabang Sungai Seputih. Yang terakhir ini selanjutnya dibatasi oleh cabang besar Sungai Seputih, yaitu Pegadungan, yang pertama kali bermuara ke sungai di bawah Surabaya dan bercabang ke pedalaman menjadi beberapa aliran, di mana banyak kampung ditemukan di hulunya.

Di Siring Kibau, saya melakukan perjalanan lain ke lahan talang, yang di sini juga sering ditutupi hutan pohon besar dan kecil, atau ditata sebagai ladang. Tanah di sini umumnya cukup subur untuk mendukung semua tanaman yang diinginkan, meskipun budidaya di sini terbatas pada panen padi, dan kopi dianggap lebih sebagai hobi.

           

Jika menyimak hasil ekspedisi J.E Teijsmann ini, Siring Kibau sepertinya adalah daerah yang terletak di Lampung bagian tengah. Daerah terdekat yang dijelaskan J.E Teijsmann dari Siring Kibau adalah Terbanggi. Kemudian berdasarkan kondisi geografis, Siring Kibau letaknya berada antara atau sekitar Sungai Pengubuan dan Way Seputih. Kemudian dilihat dari potensi alam, Siring Kibau merupakan daerah penghasil padi dan kopi, walupun bukan tanaman prioritas.

4.     Java-bode, 16 Mei 1855

Berdasarkan berita yang ditulis dalam Java Bode tertanggal 16 Mei 1855 berjudul Lampongsche Districten, bahwa “Volgens ontvangen berigten van het districtshoofd van Sepoeti, hadden twee personen van Siring Kibouw zich met eene praauwdjalour naar Soengi Belatjan, aan de uitwatering van de rivier Toelang Bawang, begeven, om aldaar handelszaken te vcrrigten. Op hunne terugreis naar Siring Kibouw, werden zij ter hoogte van Tandjong Moehbang, gelegen tusschen de uitwatering van de rivier Sepoeti en Toelang Bawang, door eene groote llidair praauw, voerende eene zwarte vlag en bemand met twaalf man, aan boord geklampt en geheel uitgepluuderd.”

Siring Kibau dalam Java Bode

(Sumber: Java Bode, 16 Mei 1855) 

Artinya “Menurut laporan yang diterima dari kepala distrik Sepoeti, dua orang dari Siring Kibouw telah melakukan perjalanan dengan praauwdjalou ke Soengi Belatjan, di muara sungai Toelang Bawang, untuk melakukan bisnis di sana. Dalam perjalanan pulang mereka ke Siring Kibouw, dekat Tandjong Moehbang, yang terletak di antara muara sungai Sepoeti dan Toelang Bawang, mereka dihadang di atas kapal oleh sebuah llidair praauw besar yang mengibarkan bendera hitam dan dikemudikan oleh dua belas orang, dan seluruh harta benda mereka dirampok.” 

Dari berita yang mengupas tentang tindakan kriminal terhadap dua orang dari Siring Kibau di atas, tersirat mengenai aktivitas penduduk Siring Kibau yang melakukan perdagangan hingga wilayah Tulang Bawang. Adapun sarana penghubung yang digunakan saat itu berupa perahu yang dikenal dengan istilah praauwdjalou. 

            Berdasarkan rangkaian bukti dokumen primer ada, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Siring Kibau bukanlah sekadar nama kecil yang terlupakan, melainkan sebuah entitas politik berupa distrik dan ekonomi pada pertengahan abad ke-19 di Lampung. Nama "Siring Kibau" kini seolah terhapus dari peta toponimi modern. Hilangnya nama ini kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan nama administratif (re-naming), penggabungan wilayah (merger), atau pergeseran pemukiman akibat dinamika keamanan dan perubahan kebijakan perkebunan. 

Referensi:

Java Bode, 16 Mei 1855

Javasche Courant, 2 Oktober 1886

Staatsblad van Nederlandsch-Indië, 1 Januari 1863

Staatsblad van Nederlandsch-Indië, 1 Januari 1867

J.E Teijsmann. Verslag Over De Katoenkultuur In De Lampongsche Distrikten

Nur Laely. 2018. The Dutch Indies Colonial Government System in Onderafdeling Bonthain 1905-1942. Universitas Negeri Makassar

 

Rabu, 11 Maret 2026

Kisi-Kisi ASAJ: Sejarah

 



1.       Menganalisis perkembangan politik serta bukti-bukti keberadaan Kerajaan Kutai

2.       Menganalisis hasl akulturasi budaya Hindu-Budha dengan kebudayaan Nusantara

3.       Menganalisis berbagai media islamisasi di Nusantara

4.       Menganalisis berbagai teori masuknya Islam di Nusantara

5.       Menganalisis perkembangan organisasi pergerakan nasional

6.       Menganalisis perkembangan organisasi politik dan militer bentukan Jepang

7.       Menganalisis berbagai dampak politik, sosial dan budaya pemerintahan Jepang

8.       Menganalisis peristiwa di sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia

9.       Menganalisis hasil sidang PPKI 1, 2, dan 3

10.   Menganalisis perkembangan politik dan demokrasi masa Demokrasi Liberal

11.   Menganalisis berbagai kebijakan ekonomi masa Demokrasi Liberal

12.   Menganalisis proses lahirnya Orde Baru

13.   Menganalisis perkembangan politik dalam negeri dan luar negeri  masa Demokrasi Terpimpin

14.   Menganalisis kebijakan politik, ekonomi dan sosial yang dilaksanakan pemerintahan Orde Baru

15.   Menganalisis perkembangan kolonialisme bangsa Eropa di Nusantara: Portugis, VOC, Inggris dan Belanda

16.   Menganalisis peranan tokoh bangsa dalam kemerdekaan Indonesia

Rabu, 18 Februari 2026

Sepeda di Atas Kertas Kusam: Membaca Surat Kepemilikan Sepeda di Lampung Tengah

Secarik kertas usang berwarna kecokelatan dengan ketikan mesin tik manual dan tulisan tangan membawa kita kembali ke masa 47 tahun yang lalu. Dokumen tersebut adalah "Surat Keterangan Milik Sepeda" yang dikeluarkan oleh Kantor Kepala Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 9 Februari 1977.

Oleh: Adi Setiawan

 

Surat Keterangan Milik Sepeda

(Sumber: Dok. Pribadi)

Arsip ini bukan sekadar bukti kepemilikan barang. Di balik stempel basah bertanda tangan Kepala Kampung, Tarminto KS, tersimpan narasi besar tentang kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah transmigrasi Lampung pada masa lampau.

Pada tahun 1977, memiliki sebuah sepeda merek Raleigh atau warga sering menyebutnya Relight/Ralek. Seperti yang tercantum dalam arsip tersebut, pemilik sepeda atas nama Jameni bin Sobingi, bukanlah hal yang sepele. Dalam kolom rincian, disebutkan ciri-ciri sepeda secara mendetail: warna cat hijau botol, ukuran 57 cm, bernomor seri 4043 dan dengan keterangan lain berlampu komplit.

Sepeda merek ini merupakan salah satu merek sepeda klasik asal Nottingham, Inggris, yang didirikan pada tahun 1885. Sepeda Raleigh tercatat sudah beredar di pasar Indonesia sejak tahun 1939.Pada masa Hindia Belanda, sepeda ini merupakan salah satu kendaraan utama yang digunakan oleh bangsawan, misionaris, dan saudagar kaya.

Raleigh adalah salah satu merek sepeda onthel yang sudah populer di Hindia Belanda (Indonesia) jauh sebelum kemerdekaan, bersama merek lain seperti Simplex, Gazelle, dan Hercules. Meskipun sudah ada sebelumnya, sepeda Raleigh (dan sepeda Inggris lainnya) sangat populer pasca-kemerdekaan (1950-an) hingga 1970-an, menggantikan dominasi sepeda Belanda karena alasan ketahanan dan kemudahan suku cadang pada masa itu. Sepeda Raleigh dikenal memiliki kualitas besi yang kokoh dan emblem yang khas, sering digunakan oleh masyarakat kota hingga pedesaan.

Kaitannya dengan masyarakat pedesaan, secara ekonomi pada medio 1970-an, sepeda adalah alat transportasi utama sekaligus simbol status sosial kelas menengah di pedesaan. Di saat kendaraan bermotor masih merupakan barang mewah yang hanya dimiliki oleh segelintir pejabat atau pengusaha besar, sepeda menjadi "nyawa" bagi mobilitas warga.

Mengapa harus ada surat keterangan resmi dari pemerintah desa? Ini menunjukkan betapa berharganya aset tersebut. Sepeda pada masa itu sering kali memiliki nilai investasi. Jika seseorang ingin menjualnya atau jika terjadi pencurian, surat ini berfungsi layaknya BPKB pada kendaraan bermotor zaman sekarang. Hal ini mencerminkan ketatnya administrasi keamanan tingkat desa (Siskamling) dalam menjaga ketertiban umum di wilayah pemukiman yang saat itu mungkin masih dikelilingi hutan atau perkebunan.

Lokasi yang tertera, "Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak", merujuk pada wilayah yang kental dengan sejarah transmigrasi. Nama-nama khas Jawa seperti Srimulyo menunjukkan pemukiman tersebut dibentuk oleh para pendatang yang ikut program pemerataan penduduk pemerintah.

Secara budaya, arsip ini memperlihatkan bagaimana struktur pemerintahan desa bekerja sebagai pelindung warga. Hubungan antara Kepala Kampung dan warga bersifat sangat personal namun formal. Kondisi sosial tahun 1977 adalah masa di mana Indonesia sedang berada di puncak awal pertumbuhan ekonomi Orde Baru. Namun, di tingkat akar rumput seperti di Lampung Tengah, kehidupan masih sangat sederhana. Listrik mungkin belum masuk ke seluruh rumah, dan akses jalan masih berupa tanah atau onderlagh. Dalam kondisi geografi yang menantang inilah, sepeda Raleigh hijau botol itu menjadi kawan setia untuk mengangkut hasil bumi atau sekadar membantu mobilitas warga

Ada satu kalimat menarik dalam arsip tersebut: "Demikian keterangan ini kami buat dengan sebenarnya mengingat Sumpah dan Jabatan kami...". Frasa ini bukan sekadar basa-basi birokrasi. Ia mencerminkan etika kepemimpinan masa lalu di mana jabatan dianggap sebagai amanah sakral di hadapan Tuhan. Di era itu, kata-kata seorang Kepala Kampung memiliki bobot moral yang tinggi. Integritas administrasi dijaga bukan dengan sistem digital, melainkan dengan integritas personal yang dituangkan di atas kertas segel atau surat berstempel.

Arsip dari Kampung Srimulyo ini adalah jendela kecil untuk melihat Indonesia di masa lalu. Ia bercerita tentang kesederhanaan, ketertiban administrasi, dan nilai sebuah barang yang diraih dengan kerja keras. Sepeda Raleigh hijau botol milik Jameni mungkin sudah lama berkarat atau hilang ditelan zaman, namun surat keterangan ini tetap tegak berdiri sebagai saksi bisu sebuah zaman di mana kejujuran diikat oleh sumpah jabatan dan martabat seorang warga diwakili oleh selembar kertas kusam. Kita hari ini patut belajar bahwa di balik benda yang paling sederhana sekalipun, selalu ada sejarah yang layak untuk dicatat dan diingat.

Senin, 09 Februari 2026

Eksplorasi Awal Way Panas Natar

Bukan hanya sekedar narasi tentang kegiatan ekonomi, kondisi geologi Natar juga pernah diberitakan oleh jurnal masa Kolonial Hindia Belanda. Keberadaan sumber air panas atau yang saat ini lebih dikenal dengan Way Panas Natar secara sekilas pernah tertulis pada Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 tahun 1847.

Oleh: Adi Setiawan 


Pemberitaan Air Panas Natar

(Sumber:  Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847) 

Way Panas Natar yang berada di Desa Merak Batin, Natar, Lampung Selatan dikenal masyarakat Lampung sebagai salah satu destinasi liburan keluarga di Provinsi Lampung. Masyarakat yang berkunjung bukan hanya sekadar berlibur saja, adapula pengunjung Way Panas Natar yang sengaja berendam di kolam air panas sebagai sarana pengobatan seperti penyakit sendi dan kulit. Masyarakat percaya bahwa suhu panas dapat memberikan efek pengobatan.

 Keunikan yang dimiliki oleh Way Panas Natar adalah bersumber langsung dari panas bumi. Hal ini berbeda dari air panas lainnya yang biasanya bersumber dari aktivitas gunung berapi. Mata air Way Panas Natar bersumber dari sembilan mata air yang saat ini telah dikelola sebagai objek wisata di Kabupaten Lampung Selatan.

 Peta Lokasi Way Panas Natar

(Sumber:  Shofia Faradiva Davana, 2024)

 

Eka Ruri Febriyantari dkk (2014) menuliskan berdasarkan penjelasan dari Muttaqien Djaja Taruna sebagai pengelola tempat pemandian air panas tersebut, mengatakan Way Panas Natar adalah warisan turun menurun dari zaman Puyung Canggah Umpu Sebadjau, hingga turun ke Ratu Sebuay Djaja Taruna, sampai ke Ayahanda Jardien Aja Sophia dan sekarang Muttaqien Djaja Taruna yang meneruskan pengelolaan pemandian air panas ini. Sebelum adanya dikelola seperti saat ini, pemandian air panas ini hanyalah rawa-rawa. Sumber pemandian air panas ini mulai ramai dikunjungi pada tahun 2004 karena dipercaya oleh masyarakat berkhasiat sebagai terapi penyembuhan berbagai macam penyakit seperti stroke, rematik dan penyakit kulit. 

Sementara itu, pemberitaan mengenai keberadaan air panas di Natar termuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 (1847:14). Pada jurnal yang terbit di era kolonial Hindia Belanda tersebut, dituliskan bahwa air panas Natar berada di daerah rawa-rawa. Air panas ini keluar dari tanah namun tidak menimbulkan letupan-letupan. Jurnal yang terbit pada tahun 1847 ini juga menjelaskan bahwa lokasi sekitar air panas ini menjadi habitat binatang seperti badak dan rusa. Dimana air panas tersebut menjadi tempat bagi badak mandi dan rusa minum. Sayangnya pada jurnal itu tidak dibahas lebih dalam apakah air panas di Natar itu sudah dikelola atau menjadi pemandian bagi masyarakat. Namun dituliskan bahwa masyarakat masa itu, menjadikan air panas sebagai tempat mencari pertanda baik atau buruk untuk menanam pada musim berikutnya. 

Kemudian berdasarkan literatur tahun 1862 yakni dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch disebutkan mengenai beberapa pemandian air panas di Lampung. Salah satu topik yang dibahas adalah pemandian air panas di Natar. Dituliskan bahwa lokasi air panas ini sekitar 100 meter di sebelah timur jalan utama. Terdapat area terbuka yang hampir melingkar di hutan, tempat Sungai Illahan membentuk rawa kecil. Mata air panas muncul dari beberapa bebatuan di dalam rawa. Disebutkan pula air panas ini memiliki suhu antara 85° F hingga 127° F. Air panasnya mengandung banyak asam karbonat. 

Dua literatur era kolonial sungguh memberikan gambaran tentang Way Panas Natar. Dari catatan tersebut, kita mengetahui bahwa lokasi ini pada awalnya adalah hamparan rawa-rawa, menjadi habitat alami bagi beragam fauna. Evolusi Way Panas Natar dari rawa liar menjadi sebuah destinasi yang terkelola mencerminkan bagaimana interaksi manusia dan alam telah membentuk lanskap lokal selama beberapa waktu, menempatkannya sebagai salah satu lokus alam yang penting di Lampung Selatan. 

Keberadaannya kini menjadi simbol kekayaan geologi dan potensi daerah Lampung, khususnya dalam pemanfaatan energi panas bumi. Air panas alami yang terus mengalir adalah indikasi kuat adanya aktivitas geotermal di bawah permukaan, sebuah sumber daya yang berharga. Oleh karena itu, Way Panas Natar tidak hanya menawarkan relaksasi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan keunikan geologis Lampung yang menjadikannya lokasi yang patut dijaga kelestariannya, baik sebagai warisan budaya maupun aset geowisata di masa depan.

 

Referensi:

Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch, 1862

 

Davana, Shofia Faradiva. 2024. Motivasi Wisatawan Berkunjung Ke Pemandian Air Panas Way Panas Natar Tahun 2024. Universitas Lampung: Bandar Lampung

 

Febriyantri, Eka R., dkk. "Potensi Wisata Air Panas Desa Merak Batin Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan." Jurnal Penelitian Geografi, vol. 2, no. 6, 2014.

 

Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847

Minggu, 21 Desember 2025

Sistem Irigasi Batanghari Utara: Jejak Sejarah dan Visi Ketahanan Pangan

Keberadaan Bendung Garongan atau Swadaya menjadi satu fasilitas pengairan yang dikenal oleh masyarakat di wilayah Pekalongan dan Purbolinggo. Bendung ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem irigasi Batanghari Utara. 

Oleh: Adi Setiawan

Bendung Garongan
(Sumber: Adi Setiawan, 2025) 

Sistem Irigasi Batanghari Utara, atau yang secara historis dikenal dengan nama Batanghari Noord, bukanlah sebuah proyek yang lahir secara instan. Keberadaannya memiliki akar sejarah yang panjang, merentang hingga masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan arsip peta yang disusun pada tahun 1940, terlihat jelas bahwa cetak biru sistem irigasi ini telah direncanakan dengan sangat matang. Dalam peta tersebut, para perancang kolonial telah menggambarkan sebuah skema bendung atau dam lengkap dengan jaringan saluran irigasi primer yang membelah wilayah Lampung Timur. Perencanaan ini bukan tanpa tujuan; proyek Batanghari Noord merupakan bagian integral dari strategi besar pemerintah kolonial dalam mendukung perluasan wilayah Kolonisasi Sukadana.

Bukti sejarah ini diperkuat oleh pemberitaan surat kabar De Indische Courant edisi 28 Januari 1939. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pada awal dekade 1940-an, pemerintah kolonial telah mencanangkan pembukaan area kolonisasi baru di wilayah utara. Untuk merealisasikan visi tersebut, Ir. A.P. Wehlburg ditunjuk untuk memimpin studi lapangan guna memetakan kondisi medan dan menentukan teknis perluasan wilayah. Rencana ambisius ini sedianya akan dieksekusi pada rentang tahun 1943 hingga 1944. Meskipun dinamika politik dunia kemudian berubah akibat Perang Dunia II, garis-garis saluran irigasi yang tertuang dalam peta tahun 1940 tersebut tetap menjadi landasan fisik yang sangat akurat, di mana jalur-jalurnya hampir persis dengan jaringan irigasi yang kita temukan saat ini.

Pasca terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia, visi pengairan yang sempat tertunda di masa kolonial mendapatkan nafas baru. Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam melanjutkan pembangunan infrastruktur irigasi sebagai fondasi kedaulatan pangan nasional. Dalam garis waktu sejarah, terdapat dugaan kuat bahwa pembangunan fisik Bendung Garongan, yang juga dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bendung Swadaya, berhasil diselesaikan pada tahun 1952. Pembangunan ini memanfaatkan aliran Way Batanghari sebagai sumber utama untuk menyuplai air ke area persawahan yang kian meluas di Lampung Timur.

Nilai strategis Bendung Garongan di mata pemerintah pusat terbukti dengan kehadiran tokoh bangsa. Pada tanggal 3 Juli 1954, Wakil Presiden Mohammad Hatta melakukan kunjungan kerja atau peninjauan langsung ke lokasi bendung ini. Kunjungan Bung Hatta bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penegasan betapa pentingnya infrastruktur irigasi bagi stabilitas ekonomi rakyat pedesaan. Di lokasi tersebut, beliau memantau progres pembangunan serta memastikan fungsi teknis infrastruktur pengairan berjalan optimal. Momentum ini menjadi catatan sejarah penting yang menempatkan Sistem Irigasi Batanghari Utara sebagai prioritas pembangunan nasional sejak dekade awal kemerdekaan Indonesia.

Estafet pembangunan terus berlanjut melintasi zaman. Memasuki periode pemerintahan Orde Baru hingga era modern saat ini, kapasitas Sistem Irigasi Batanghari Utara terus ditingkatkan melalui berbagai program rehabilitasi dan modernisasi. Berdasarkan data teknis terbaru, sistem irigasi ini telah berkembang menjadi jaringan yang sangat masif. Saat ini, panjang saluran induk atau saluran primer mencapai 32.200 meter, yang kemudian didistribusikan lebih lanjut melalui jaringan saluran sekunder sepanjang 29.246 meter. Keberadaan jaringan yang terstruktur dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier ini memastikan distribusi air dapat menjangkau lahan secara presisi.

Menurut studi evaluasi yang dilakukan oleh Mardika dkk (2024), daerah irigasi ini kini memiliki luas fungsional mencapai 5.430,89 hektar. Luas lahan yang sangat signifikan ini menjadi tumpuan bagi ribuan petani di dua wilayah administratif utama, yakni Kecamatan Purbolinggo dan Kecamatan Way Bungur. Dengan efisiensi saluran yang terus terjaga, sistem ini mampu mempertahankan produktivitas padi di wilayah tersebut, menjadikan kedua kecamatan ini sebagai lumbung pangan yang krusial bagi Kabupaten Lampung Timur. Keberhasilan pengelolaan air ini secara langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat agraris di sekitarnya.

Di luar fungsi teknisnya yang vital bagi pertanian, Bendung Garongan yang terletak di Desa Gondangrejo, Kecamatan Pekalongan, juga memiliki dimensi sosial yang kental. Sebagaimana diungkapkan oleh Utara Setya Nugraha, seorang pemerhati sejarah lokal, bendung ini telah lama bertransformasi menjadi ruang publik dan destinasi wisata alternatif. Keindahan arsitektur bendung yang berpadu dengan ketenangan air sungai menciptakan daya tarik visual yang memikat masyarakat lokal. Warga sering kali datang berkunjung pada sore hari atau saat hari libur untuk sekadar menikmati pemandangan alam, bersantai, atau berfoto di sekitar struktur bendungan yang bersejarah.

Selain sebagai tempat rekreasi keluarga, kawasan genangan air di Bendung Garongan menjadi surga tersembunyi bagi para penghobi memancing. Kondisi perairan yang tenang dan ekosistem sungai yang terjaga menjadikan area genangan ini sebagai lokasi favorit untuk menyalurkan hobi. Keberadaan para pemancing yang rutin berkumpul di titik-titik genangan air menambah semarak suasana di sekitar bendungan, sekaligus menciptakan interaksi sosial antarwarga. Dengan demikian, Bendung Garongan menjalankan peran ganda yang harmonis: sebagai jantung pengairan bagi ribuan hektar sawah, sekaligus sebagai paru-paru sosial dan tempat wisata yang menghidupkan kebahagiaan masyarakat di Lampung Timur.


Referensi: 

De Indische Courant, 28 Januari 1939

Mardika, M. G. I., Fitriana, I. R., & Priyono, A. (2024). Evaluasi Efisiensi Rehabilitasi Saluran Irigasi pada Daerah Irigasi Batanghari Utara Kabupaten Lampung Timur. Journal of Civil Engineering and Infrastructure Technology, 3 (2).

Utara Setya Nugraha, pemerhati sejarah Kec. Pekalongan (wawancara, 18 Desember 2025)



Jumat, 12 Desember 2025

Katalog Buku


Apa Kabar Lampung Tempo Dulu?
Rupa-rupa yang Terlupa

Penulis:

Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
Vii + 123 hal, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Maret 2025
QRCBN: 62-2589-3014-990

Harga Buku:
55.000

Pesan:
0857-5905-2979



Membaca Lampung
Kumpulan Artikel Sejarah dan Budaya

Penulis:
Setio Widodo,  Adi Setiawan,  Datu Purwonugroho 
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
ix+129 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, November 2025 
QRCBN: 62-2589-7678-499 

Harga Buku:
60.000

Pesan:
0857-5905-2979



Rejoagung Desa yang Penuh Sejarah

Penulis:
Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi Bergambar (Anak-anak)
vii+28 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, September 2025 
QRCBN: 62-2589-3621-513 

Harga Buku:
25.000

Pesan:
0857-5905-2979


Mengenal Tinggalan Prasasti 
Masa Hindu-Budha di Lampung

Penyusun:
Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi (Buku Pengayaan)
vii+27 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, Oktober 2025 
QRCBN: 62-2589-1426-928 

Harga Buku:
30.000

Pesan:
0857-5905-2979



Warisan dan Nilai di Balik Desa

Penyusun:
Dinar Berliana, dkk.
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
vii+62 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, November 2025 
QRCBN: 62-2589-1677-541

Harga Buku:
35.000

Pesan:
0857-5905-2979



 









Ketakutan terhadap Malaria di Oosthaven

              Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan                                         ...

Populer