Warta Sejarah id
Sejarah dan Pendidikan
Kamis, 14 Mei 2026
Selasa, 12 Mei 2026
Mencari Siring Kibau yang "Hilang"
Membaca kumpulan dokumen administrasi pemerintah maupun pemberitaan masa kolonial Hindia Belanda sangat menarik guna mengetahui masa lampau kehidupan masyarakat Indonesia. Begitupun dokumen yang mengulas mengenai daerah Lampung di masa lampau.
Oleh: Adi Setiawan
Distrik di Lampung Tahun 1866
(Sumber: Javasche Courant, 2
Oktober 1886)
Dalam dokumen yang diterbitkan oleh
pemerintah ataupun pemberitaan, nama Lampung sering muncul. Terutama, menyangkut
pemerintahan maupun kegiatan ekonomi. Menariknya dalam dokumen yang terbit,
sering kali mencantumkan nama-nama daerah di Lampung. Beberapa yang sering
disebut seperti Telok Betong (Teluk Betung), Tandjong Karang (Tanjung Karang),
Tarabangi (Terbanggi), Menggala, Liwa, Kroe (Krui), Kota Agoeng (Kota Agung),
Semangka, Goenoeng Soegih (Gunung Sugih) serta beberapa daerah lainnya.
Satu nama yang masih menjadi pertanyaan
penulis adalah Siring Kibau (Siring Kibaw, Siring Kibouw). Alasanya, jika
nama-nama daerah yang tertulis sebelumnya sampai hari ini masih dapat dijumpai
di Lampung. Akan tetapi untuk nama Siring Kibau ini bagi penulis masih asing. Penulis
mencoba untuk mencari nama Siring Kibau melalui mesin pencarian informasi
maupun pencarian lokasi, hasilnya tidak ditemukan nama Siring Kibau dalam pencarian
itu.
Padahal apabila kita menyimak dalam dokumen
masa kolonial nama Siring Kibau dapat ditemukan. Berikut ini beberapa dokumen
yang pernah menyampaikan mengenai Siring Kibau:
1.
Staatsblad van Nederlandsch-Indië
Pada
lembaran negara yang diberlakukan mulai 1 Januari 1867 ini, bahwa berdasarkan
Dekret Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 25 September 1866, No. 23
serta surat dari Menteri Koloni, tertanggal 16 Juni 1866, Letnan Aaz., No.
21/703 tertulis susunan administrasi sipil di wilayah kependudukan Distrik
Lampung. Bersama dengan susunan administrasi itu juga tertuang gaji setiap
pejabat di Lampung, yang salah satunya adalah di Siring Kibau. Pada dokumen ini
tertulis een distrikts-hoofd te Siring-Kibauw, op ƒ100 's maands atau
seorang kepala distrik di Siring-Kibauw, pada 100 per bulan.
Pada dokumen ini dipaparkan beberapa distrik selain Siring Kibau diantaranya adalah Semangka, Menggala, Boemi Meranti, Boemi Agoeng, Tarabangi, Sekampong dan Ketimbang. Selain lembaran negara tahun 1866 juga terdapat sebuah lembaran negara yang lebih awal dikeluarkan yakni tahun 1863 yang juga mengulas mengenai rencana kenaikan gaji kepala distrik di Lampung, termasuk Siring Kibau. Dijelaskan bahwa berdasarkan Dekret Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 1 Juli 1863, no. 26. Setelah membaca surat dari Menteri Koloni 16 Mei 1863, Lt. Aaz., no. 7/619 bahwa gaji para demang di Bumiagung, Siring-Kibau, Tarabangi dan Semangka yang awalnya berjumlah ƒ 600 (enam ratus guilden) per tahun, akan dinaikkan menjadi ƒ 1.200 (seribu dua ratus guilden) per tahun.
2.
Javasche Courant, 2 Oktober 1886
Pada koran yang diterbitkan pada 2 Oktober 1886 ini juga mengulas hal sama dengan Staatsblad van Nederlandsch-Indië tanggal 1 Januari 1887 di atas. Bahkan diterangkan pula mengenai gaji yang diberikan kepada dua orang polisi selain gaji bagi kepala distrik di Siring Kibau, een distrikts-hoofd te Siring-Kibauw, op ƒl00 ’smaands, twee politie-dienaren bij dezen, op ƒ 10 ’smaands (Seorang kepala distrik di Siring-Kibauw, dengan gaji ƒ100 per bulan, beserta dua petugas polisi, dengan gaji ƒ10 per bulan).
Dari dokumen lembaran negara dan pemberitaan Javasche Courant di atas dapat diketahui bahwa Siring Kibau pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda berbentuk sebagai distrik. Jika dilihat dari struktur pemerintahan kolonial distrik merupakan satuan pemerintahan yang dikepalai oleh wedana. Mengutip dari Nur Laely (2018:10), jika dilihat secara hierarki, urutan pemerintahan pada masa kolonial dimulai dari pejabat pemerintahan tertinggi dipegang oleh seorang gubernur jendral, Gewest atau Residentie yang dijabat oleh seorang Residen. Afdeeling dijabat oleh asisten residen. Onderafdeeling dijabat oleh controlir. Distrik dijabat oleh seorang wedana (demang, punggawa). Onderdistrik dijabat oleh seorang asisten wedana (asisten demang, camat). Serta Desa dijabat seorang Lurah. Dengan demikian Siring Kibau merupakan satuan pemerintahan yang membawahi beberapa onderdistrik atau jika saat ini kecamatan.
3.
Verslag
Over De Katoenkultuur In De Lampongsche Distrikten
Dokumen ini merupakan Laporan Tentang Budidaya
Kapas di Distrik Lampung, yang dibuat oleh J.E Teijsmann ketika melakukan
ekspedisi pada tahun 1857–1858 di Lampung. Berikut adalah gambaran Siring Kibau
menurut J.E Teijsmann:
Dari
Menggala, saya ingin pergi ke Siring Kibau melalui jalan setapak yang sudah
ada, tetapi para kepala suku menyatakan ini tidak praktis dengan menunggang
kuda. Jadi, saya kembali ke Terbanggi, dan dari sana menuruni Sungai Pengubuan
ke Siring Kibau, yang panjangnya sekitar 50 pal. Penduduk hanya mendirikan
beberapa kampung di sepanjang rute ini, dan lebih jauh ke hilir sungai sampai
ke laut, hanya ada satu, Surabaya Ilir, yang meskipun tidak terlalu jauh dari
laut, namun terletak di tanah talang.
Tanah-tanah
ini, di sini dan di tempat lain, membentuk bagian tengah dari semua cabang
Sungai Seputih. Yang terakhir ini selanjutnya dibatasi oleh cabang besar Sungai
Seputih, yaitu Pegadungan, yang pertama kali bermuara ke sungai di bawah
Surabaya dan bercabang ke pedalaman menjadi beberapa aliran, di mana banyak
kampung ditemukan di hulunya.
Di
Siring Kibau, saya melakukan perjalanan lain ke lahan talang, yang di sini juga
sering ditutupi hutan pohon besar dan kecil, atau ditata sebagai ladang. Tanah
di sini umumnya cukup subur untuk mendukung semua tanaman yang diinginkan,
meskipun budidaya di sini terbatas pada panen padi, dan kopi dianggap lebih
sebagai hobi.
Jika menyimak hasil ekspedisi J.E
Teijsmann ini, Siring Kibau sepertinya adalah daerah yang terletak di Lampung
bagian tengah. Daerah terdekat yang dijelaskan J.E Teijsmann dari Siring Kibau
adalah Terbanggi. Kemudian berdasarkan kondisi geografis, Siring Kibau letaknya
berada antara atau sekitar Sungai Pengubuan dan Way Seputih. Kemudian dilihat
dari potensi alam, Siring Kibau merupakan daerah penghasil padi dan kopi,
walupun bukan tanaman prioritas.
4.
Java-bode,
16 Mei 1855
Berdasarkan berita yang ditulis dalam Java
Bode tertanggal 16 Mei 1855 berjudul Lampongsche Districten, bahwa “Volgens
ontvangen berigten van het districtshoofd van Sepoeti, hadden twee personen
van Siring Kibouw zich met eene praauwdjalour naar Soengi
Belatjan, aan de uitwatering van de rivier Toelang Bawang, begeven, om aldaar
handelszaken te vcrrigten. Op hunne terugreis naar Siring Kibouw,
werden zij ter hoogte van Tandjong Moehbang, gelegen tusschen de uitwatering
van de rivier Sepoeti en Toelang Bawang, door eene groote llidair praauw,
voerende eene zwarte vlag en bemand met twaalf man, aan boord geklampt en geheel
uitgepluuderd.”
Siring
Kibau dalam Java Bode
(Sumber: Java Bode, 16 Mei 1855)
Artinya “Menurut laporan yang diterima dari kepala distrik Sepoeti, dua orang dari Siring Kibouw telah melakukan perjalanan dengan praauwdjalou ke Soengi Belatjan, di muara sungai Toelang Bawang, untuk melakukan bisnis di sana. Dalam perjalanan pulang mereka ke Siring Kibouw, dekat Tandjong Moehbang, yang terletak di antara muara sungai Sepoeti dan Toelang Bawang, mereka dihadang di atas kapal oleh sebuah llidair praauw besar yang mengibarkan bendera hitam dan dikemudikan oleh dua belas orang, dan seluruh harta benda mereka dirampok.”
Dari berita yang mengupas tentang
tindakan kriminal terhadap dua orang dari Siring Kibau di atas, tersirat
mengenai aktivitas penduduk Siring Kibau yang melakukan perdagangan hingga
wilayah Tulang Bawang. Adapun sarana penghubung yang digunakan saat itu berupa
perahu yang dikenal dengan istilah praauwdjalou.
Berdasarkan
rangkaian bukti dokumen primer ada, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Siring
Kibau bukanlah sekadar nama kecil yang terlupakan, melainkan sebuah entitas
politik berupa distrik dan ekonomi pada pertengahan abad ke-19 di Lampung. Nama
"Siring Kibau" kini seolah terhapus dari peta toponimi modern. Hilangnya
nama ini kemungkinan besar disebabkan oleh perubahan nama administratif (re-naming),
penggabungan wilayah (merger), atau pergeseran pemukiman akibat dinamika
keamanan dan perubahan kebijakan perkebunan.
Referensi:
Java Bode, 16 Mei 1855
Javasche
Courant, 2 Oktober 1886
Staatsblad
van Nederlandsch-Indië, 1
Januari 1863
Staatsblad
van Nederlandsch-Indië, 1
Januari 1867
J.E
Teijsmann. Verslag Over De
Katoenkultuur In De Lampongsche Distrikten
Nur
Laely. 2018. The Dutch Indies Colonial Government System in Onderafdeling
Bonthain 1905-1942. Universitas Negeri Makassar
Rabu, 11 Maret 2026
Kisi-Kisi ASAJ: Sejarah
1.
Menganalisis perkembangan politik serta
bukti-bukti keberadaan Kerajaan Kutai
2.
Menganalisis hasl akulturasi budaya Hindu-Budha
dengan kebudayaan Nusantara
3.
Menganalisis berbagai media islamisasi di
Nusantara
4.
Menganalisis berbagai teori masuknya Islam di
Nusantara
5.
Menganalisis perkembangan organisasi pergerakan
nasional
6.
Menganalisis perkembangan organisasi politik dan
militer bentukan Jepang
7.
Menganalisis berbagai dampak politik, sosial dan
budaya pemerintahan Jepang
8.
Menganalisis peristiwa di sekitar proklamasi
kemerdekaan Indonesia
9.
Menganalisis hasil sidang PPKI 1, 2, dan 3
10.
Menganalisis perkembangan politik dan demokrasi
masa Demokrasi Liberal
11.
Menganalisis berbagai kebijakan ekonomi masa Demokrasi
Liberal
12.
Menganalisis proses lahirnya Orde Baru
13.
Menganalisis perkembangan politik dalam negeri
dan luar negeri masa Demokrasi Terpimpin
14.
Menganalisis kebijakan politik, ekonomi dan
sosial yang dilaksanakan pemerintahan Orde Baru
15.
Menganalisis perkembangan kolonialisme bangsa
Eropa di Nusantara: Portugis, VOC, Inggris dan Belanda
16.
Menganalisis peranan tokoh bangsa dalam
kemerdekaan Indonesia
Rabu, 18 Februari 2026
Sepeda di Atas Kertas Kusam: Membaca Surat Kepemilikan Sepeda di Lampung Tengah
Secarik kertas usang berwarna kecokelatan dengan ketikan mesin tik manual dan tulisan tangan membawa kita kembali ke masa 47 tahun yang lalu. Dokumen tersebut adalah "Surat Keterangan Milik Sepeda" yang dikeluarkan oleh Kantor Kepala Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 9 Februari 1977.
Oleh:
Adi Setiawan
Surat
Keterangan Milik Sepeda
(Sumber:
Dok. Pribadi)
Arsip ini bukan sekadar bukti kepemilikan barang. Di balik stempel basah bertanda tangan Kepala Kampung, Tarminto KS, tersimpan narasi besar tentang kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah transmigrasi Lampung pada masa lampau.
Pada tahun 1977, memiliki
sebuah sepeda merek Raleigh atau warga sering menyebutnya Relight/Ralek.
Seperti yang tercantum dalam arsip tersebut, pemilik sepeda atas nama Jameni
bin Sobingi, bukanlah hal yang sepele. Dalam kolom rincian, disebutkan
ciri-ciri sepeda secara mendetail: warna cat hijau botol, ukuran 57 cm,
bernomor seri 4043 dan dengan keterangan lain berlampu komplit.
Sepeda merek ini merupakan
salah satu merek sepeda klasik asal Nottingham, Inggris, yang didirikan pada
tahun 1885. Sepeda Raleigh tercatat sudah beredar di pasar Indonesia sejak
tahun 1939.Pada masa Hindia Belanda, sepeda ini merupakan salah satu kendaraan
utama yang digunakan oleh bangsawan, misionaris, dan saudagar kaya.
Raleigh adalah salah satu
merek sepeda onthel yang sudah populer di Hindia Belanda (Indonesia) jauh
sebelum kemerdekaan, bersama merek lain seperti Simplex, Gazelle, dan Hercules.
Meskipun sudah ada sebelumnya, sepeda Raleigh (dan sepeda Inggris lainnya)
sangat populer pasca-kemerdekaan (1950-an) hingga 1970-an, menggantikan
dominasi sepeda Belanda karena alasan ketahanan dan kemudahan suku cadang pada
masa itu. Sepeda Raleigh dikenal memiliki kualitas besi yang kokoh dan emblem
yang khas, sering digunakan oleh masyarakat kota hingga pedesaan.
Kaitannya dengan
masyarakat pedesaan, secara ekonomi pada medio 1970-an, sepeda adalah alat
transportasi utama sekaligus simbol status sosial kelas menengah di pedesaan.
Di saat kendaraan bermotor masih merupakan barang mewah yang hanya dimiliki
oleh segelintir pejabat atau pengusaha besar, sepeda menjadi "nyawa"
bagi mobilitas warga.
Mengapa harus ada surat
keterangan resmi dari pemerintah desa? Ini menunjukkan betapa berharganya aset
tersebut. Sepeda pada masa itu sering kali memiliki nilai investasi. Jika
seseorang ingin menjualnya atau jika terjadi pencurian, surat ini berfungsi layaknya
BPKB pada kendaraan bermotor zaman sekarang. Hal ini mencerminkan ketatnya
administrasi keamanan tingkat desa (Siskamling) dalam menjaga ketertiban umum
di wilayah pemukiman yang saat itu mungkin masih dikelilingi hutan atau
perkebunan.
Lokasi yang tertera,
"Kampung Srimulyo, Kecamatan Gunung Balak", merujuk pada wilayah yang
kental dengan sejarah transmigrasi. Nama-nama khas Jawa seperti Srimulyo
menunjukkan pemukiman tersebut dibentuk oleh para pendatang yang ikut program
pemerataan penduduk pemerintah.
Secara budaya, arsip ini
memperlihatkan bagaimana struktur pemerintahan desa bekerja sebagai pelindung
warga. Hubungan antara Kepala Kampung dan warga bersifat sangat personal namun
formal. Kondisi sosial tahun 1977 adalah masa di mana Indonesia sedang berada
di puncak awal pertumbuhan ekonomi Orde Baru. Namun, di tingkat akar rumput
seperti di Lampung Tengah, kehidupan masih sangat sederhana. Listrik mungkin
belum masuk ke seluruh rumah, dan akses jalan masih berupa tanah atau
onderlagh. Dalam kondisi geografi yang menantang inilah, sepeda Raleigh
hijau botol itu menjadi kawan setia untuk mengangkut hasil bumi atau sekadar membantu
mobilitas warga
Ada satu kalimat menarik
dalam arsip tersebut: "Demikian keterangan ini kami buat dengan
sebenarnya mengingat Sumpah dan Jabatan kami...". Frasa ini bukan
sekadar basa-basi birokrasi. Ia mencerminkan etika kepemimpinan masa lalu di
mana jabatan dianggap sebagai amanah sakral di hadapan Tuhan. Di era itu,
kata-kata seorang Kepala Kampung memiliki bobot moral yang tinggi. Integritas
administrasi dijaga bukan dengan sistem digital, melainkan dengan integritas
personal yang dituangkan di atas kertas segel atau surat berstempel.
Arsip dari Kampung
Srimulyo ini adalah jendela kecil untuk melihat Indonesia di masa lalu. Ia
bercerita tentang kesederhanaan, ketertiban administrasi, dan nilai sebuah
barang yang diraih dengan kerja keras. Sepeda Raleigh hijau botol milik Jameni
mungkin sudah lama berkarat atau hilang ditelan zaman, namun surat keterangan
ini tetap tegak berdiri sebagai saksi bisu sebuah zaman di mana kejujuran
diikat oleh sumpah jabatan dan martabat seorang warga diwakili oleh selembar
kertas kusam. Kita hari ini patut belajar bahwa di balik benda yang paling
sederhana sekalipun, selalu ada sejarah yang layak untuk dicatat dan diingat.
Senin, 09 Februari 2026
Eksplorasi Awal Way Panas Natar
Bukan hanya sekedar narasi tentang kegiatan ekonomi, kondisi geologi Natar juga pernah diberitakan oleh jurnal masa Kolonial Hindia Belanda. Keberadaan sumber air panas atau yang saat ini lebih dikenal dengan Way Panas Natar secara sekilas pernah tertulis pada Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 tahun 1847.
Pemberitaan Air Panas Natar
(Sumber: Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9, 1847)
Way Panas
Natar yang berada di Desa Merak Batin, Natar, Lampung Selatan dikenal
masyarakat Lampung sebagai salah satu destinasi liburan keluarga di Provinsi
Lampung. Masyarakat yang berkunjung bukan hanya sekadar berlibur saja, adapula
pengunjung Way Panas Natar yang sengaja berendam di kolam air panas sebagai
sarana pengobatan seperti penyakit sendi dan kulit. Masyarakat percaya bahwa
suhu panas dapat memberikan efek pengobatan.
(Sumber:
Shofia Faradiva Davana, 2024)
Eka Ruri Febriyantari dkk (2014) menuliskan berdasarkan penjelasan dari Muttaqien Djaja Taruna sebagai pengelola tempat pemandian air panas tersebut, mengatakan Way Panas Natar adalah warisan turun menurun dari zaman Puyung Canggah Umpu Sebadjau, hingga turun ke Ratu Sebuay Djaja Taruna, sampai ke Ayahanda Jardien Aja Sophia dan sekarang Muttaqien Djaja Taruna yang meneruskan pengelolaan pemandian air panas ini. Sebelum adanya dikelola seperti saat ini, pemandian air panas ini hanyalah rawa-rawa. Sumber pemandian air panas ini mulai ramai dikunjungi pada tahun 2004 karena dipercaya oleh masyarakat berkhasiat sebagai terapi penyembuhan berbagai macam penyakit seperti stroke, rematik dan penyakit kulit.
Sementara itu, pemberitaan mengenai keberadaan air panas di Natar termuat dalam Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9 (1847:14). Pada jurnal yang terbit di era kolonial Hindia Belanda tersebut, dituliskan bahwa air panas Natar berada di daerah rawa-rawa. Air panas ini keluar dari tanah namun tidak menimbulkan letupan-letupan. Jurnal yang terbit pada tahun 1847 ini juga menjelaskan bahwa lokasi sekitar air panas ini menjadi habitat binatang seperti badak dan rusa. Dimana air panas tersebut menjadi tempat bagi badak mandi dan rusa minum. Sayangnya pada jurnal itu tidak dibahas lebih dalam apakah air panas di Natar itu sudah dikelola atau menjadi pemandian bagi masyarakat. Namun dituliskan bahwa masyarakat masa itu, menjadikan air panas sebagai tempat mencari pertanda baik atau buruk untuk menanam pada musim berikutnya.
Kemudian berdasarkan literatur tahun 1862 yakni dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch disebutkan mengenai beberapa pemandian air panas di Lampung. Salah satu topik yang dibahas adalah pemandian air panas di Natar. Dituliskan bahwa lokasi air panas ini sekitar 100 meter di sebelah timur jalan utama. Terdapat area terbuka yang hampir melingkar di hutan, tempat Sungai Illahan membentuk rawa kecil. Mata air panas muncul dari beberapa bebatuan di dalam rawa. Disebutkan pula air panas ini memiliki suhu antara 85° F hingga 127° F. Air panasnya mengandung banyak asam karbonat.
Dua literatur era kolonial sungguh memberikan gambaran tentang Way Panas Natar. Dari catatan tersebut, kita mengetahui bahwa lokasi ini pada awalnya adalah hamparan rawa-rawa, menjadi habitat alami bagi beragam fauna. Evolusi Way Panas Natar dari rawa liar menjadi sebuah destinasi yang terkelola mencerminkan bagaimana interaksi manusia dan alam telah membentuk lanskap lokal selama beberapa waktu, menempatkannya sebagai salah satu lokus alam yang penting di Lampung Selatan.
Keberadaannya
kini menjadi simbol kekayaan geologi dan potensi daerah Lampung, khususnya
dalam pemanfaatan energi panas bumi. Air panas alami yang terus mengalir adalah
indikasi kuat adanya aktivitas geotermal di bawah permukaan, sebuah sumber daya
yang berharga. Oleh karena itu, Way Panas Natar tidak hanya menawarkan
relaksasi, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat akan keunikan geologis
Lampung yang menjadikannya lokasi yang patut dijaga kelestariannya, baik
sebagai warisan budaya maupun aset geowisata di masa depan.
Referensi:
Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch, 1862
Davana, Shofia Faradiva. 2024. Motivasi
Wisatawan Berkunjung Ke Pemandian Air Panas Way Panas Natar Tahun 2024.
Universitas Lampung: Bandar Lampung
Febriyantri, Eka R., dkk. "Potensi
Wisata Air Panas Desa Merak Batin Kecamatan Natar Kabupaten Lampung
Selatan." Jurnal Penelitian Geografi, vol. 2, no. 6, 2014.
Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 9,
1847
Minggu, 21 Desember 2025
Sistem Irigasi Batanghari Utara: Jejak Sejarah dan Visi Ketahanan Pangan
Keberadaan Bendung Garongan atau Swadaya menjadi satu fasilitas pengairan yang dikenal oleh masyarakat di wilayah Pekalongan dan Purbolinggo. Bendung ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem irigasi Batanghari Utara.
Oleh: Adi Setiawan
Sistem Irigasi Batanghari Utara, atau yang secara historis dikenal dengan nama Batanghari Noord, bukanlah sebuah proyek yang lahir secara instan. Keberadaannya memiliki akar sejarah yang panjang, merentang hingga masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan arsip peta yang disusun pada tahun 1940, terlihat jelas bahwa cetak biru sistem irigasi ini telah direncanakan dengan sangat matang. Dalam peta tersebut, para perancang kolonial telah menggambarkan sebuah skema bendung atau dam lengkap dengan jaringan saluran irigasi primer yang membelah wilayah Lampung Timur. Perencanaan ini bukan tanpa tujuan; proyek Batanghari Noord merupakan bagian integral dari strategi besar pemerintah kolonial dalam mendukung perluasan wilayah Kolonisasi Sukadana.
Bukti sejarah ini diperkuat oleh pemberitaan surat kabar De Indische Courant edisi 28 Januari 1939. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pada awal dekade 1940-an, pemerintah kolonial telah mencanangkan pembukaan area kolonisasi baru di wilayah utara. Untuk merealisasikan visi tersebut, Ir. A.P. Wehlburg ditunjuk untuk memimpin studi lapangan guna memetakan kondisi medan dan menentukan teknis perluasan wilayah. Rencana ambisius ini sedianya akan dieksekusi pada rentang tahun 1943 hingga 1944. Meskipun dinamika politik dunia kemudian berubah akibat Perang Dunia II, garis-garis saluran irigasi yang tertuang dalam peta tahun 1940 tersebut tetap menjadi landasan fisik yang sangat akurat, di mana jalur-jalurnya hampir persis dengan jaringan irigasi yang kita temukan saat ini.
Pasca terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia, visi pengairan yang sempat tertunda di masa kolonial mendapatkan nafas baru. Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam melanjutkan pembangunan infrastruktur irigasi sebagai fondasi kedaulatan pangan nasional. Dalam garis waktu sejarah, terdapat dugaan kuat bahwa pembangunan fisik Bendung Garongan, yang juga dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bendung Swadaya, berhasil diselesaikan pada tahun 1952. Pembangunan ini memanfaatkan aliran Way Batanghari sebagai sumber utama untuk menyuplai air ke area persawahan yang kian meluas di Lampung Timur.
Nilai strategis Bendung Garongan di mata pemerintah pusat terbukti dengan kehadiran tokoh bangsa. Pada tanggal 3 Juli 1954, Wakil Presiden Mohammad Hatta melakukan kunjungan kerja atau peninjauan langsung ke lokasi bendung ini. Kunjungan Bung Hatta bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penegasan betapa pentingnya infrastruktur irigasi bagi stabilitas ekonomi rakyat pedesaan. Di lokasi tersebut, beliau memantau progres pembangunan serta memastikan fungsi teknis infrastruktur pengairan berjalan optimal. Momentum ini menjadi catatan sejarah penting yang menempatkan Sistem Irigasi Batanghari Utara sebagai prioritas pembangunan nasional sejak dekade awal kemerdekaan Indonesia.
Estafet pembangunan terus berlanjut melintasi zaman. Memasuki periode pemerintahan Orde Baru hingga era modern saat ini, kapasitas Sistem Irigasi Batanghari Utara terus ditingkatkan melalui berbagai program rehabilitasi dan modernisasi. Berdasarkan data teknis terbaru, sistem irigasi ini telah berkembang menjadi jaringan yang sangat masif. Saat ini, panjang saluran induk atau saluran primer mencapai 32.200 meter, yang kemudian didistribusikan lebih lanjut melalui jaringan saluran sekunder sepanjang 29.246 meter. Keberadaan jaringan yang terstruktur dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier ini memastikan distribusi air dapat menjangkau lahan secara presisi.
Menurut studi evaluasi yang dilakukan oleh Mardika dkk (2024), daerah irigasi ini kini memiliki luas fungsional mencapai 5.430,89 hektar. Luas lahan yang sangat signifikan ini menjadi tumpuan bagi ribuan petani di dua wilayah administratif utama, yakni Kecamatan Purbolinggo dan Kecamatan Way Bungur. Dengan efisiensi saluran yang terus terjaga, sistem ini mampu mempertahankan produktivitas padi di wilayah tersebut, menjadikan kedua kecamatan ini sebagai lumbung pangan yang krusial bagi Kabupaten Lampung Timur. Keberhasilan pengelolaan air ini secara langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat agraris di sekitarnya.
Di luar fungsi teknisnya yang vital bagi pertanian, Bendung Garongan yang terletak di Desa Gondangrejo, Kecamatan Pekalongan, juga memiliki dimensi sosial yang kental. Sebagaimana diungkapkan oleh Utara Setya Nugraha, seorang pemerhati sejarah lokal, bendung ini telah lama bertransformasi menjadi ruang publik dan destinasi wisata alternatif. Keindahan arsitektur bendung yang berpadu dengan ketenangan air sungai menciptakan daya tarik visual yang memikat masyarakat lokal. Warga sering kali datang berkunjung pada sore hari atau saat hari libur untuk sekadar menikmati pemandangan alam, bersantai, atau berfoto di sekitar struktur bendungan yang bersejarah.
Selain sebagai tempat rekreasi keluarga, kawasan genangan air di Bendung Garongan menjadi surga tersembunyi bagi para penghobi memancing. Kondisi perairan yang tenang dan ekosistem sungai yang terjaga menjadikan area genangan ini sebagai lokasi favorit untuk menyalurkan hobi. Keberadaan para pemancing yang rutin berkumpul di titik-titik genangan air menambah semarak suasana di sekitar bendungan, sekaligus menciptakan interaksi sosial antarwarga. Dengan demikian, Bendung Garongan menjalankan peran ganda yang harmonis: sebagai jantung pengairan bagi ribuan hektar sawah, sekaligus sebagai paru-paru sosial dan tempat wisata yang menghidupkan kebahagiaan masyarakat di Lampung Timur.
Referensi:
De Indische Courant, 28 Januari 1939
Mardika, M. G. I., Fitriana, I. R., & Priyono, A. (2024). Evaluasi Efisiensi Rehabilitasi Saluran Irigasi pada Daerah Irigasi Batanghari Utara Kabupaten Lampung Timur. Journal of Civil Engineering and Infrastructure Technology, 3 (2).
Utara Setya Nugraha, pemerhati sejarah Kec. Pekalongan (wawancara, 18 Desember 2025)
Jumat, 12 Desember 2025
Katalog Buku
Penulis:
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
Detail Buku:
Nonfiksi
Cetakan Pertama, Maret 2025
QRCBN: 62-2589-3014-990
Kumpulan Artikel Sejarah dan Budaya
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
Detail Buku:
Nonfiksi
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
Detail Buku:
Nonfiksi Bergambar (Anak-anak)
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
Detail Buku:
Nonfiksi (Buku Pengayaan)
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
Detail Buku:
Nonfiksi
Sabtu, 29 November 2025
Dermaga Cabang: Gerbang Ekonomi di Muara Way Seputih
Sejarah niaga di Lampung
tentu sangat menarik untuk diperbincangkan. Aktivitas ekonomi masyarakat
Lampung masa Lampung erat sekali dengan perairan sungai. Salah satu sungai itu
adalah Way Seputih yang memiliki Dermaga Cabang yang digunakan sebagai sarana
perdagangan.
Oleh: Adi
Setiawan
|
|
|
|
Peta Daerah Cabang Tahun 1802 (Sumber: Kian Amboro, 2022) |
Citra Satelit Daerah Cabang Tahun 2025 (Sumber: Google Maps, 2025) |
Way Seputih sebagai Urat Nadi
Peradaban
Provinsi
Lampung, dengan kekayaan geografisnya, memiliki jaringan sungai yang telah lama
menjadi urat nadi kehidupan dan peradaban. Salah satu sungai itu adalah Sungai
Seputih atau dikenal sebagai Way Seputih. Way Seputih dinobatkan sebagai sungai
terpanjang ketiga di Provinsi Lampung, dengan hulu yang bersumber di Gunung
Tangkit Tebak dan mengalirkan airnya sejauh kurang lebih 190 kilometer hingga
bermuara ke laut.
Sebagaimana
sungai-sungai besar lainnya di nusantara, Way Seputih tidak hanya berfungsi
sebagai sumber air, tetapi juga menyimpan beragam narasi sejarah dan aktivitas
ekonomi masyarakat. Sungai ini telah menjadi jalur untuk transportasi,
perdagangan, dan interaksi sosial antar-daerah. Dalam konteks sejarah maritim
dan perdagangan Lampung di masa lampau, peran Way Seputih terbilang membantu
aktivitas masyarakat, terutama pada bagian muaranya yang menjadi lokasi
berdirinya sebuah dermaga penting, yaitu Dermaga Cabang atau pada ejaan lama
dikenal sebagai Tjabang. Dermaga inilah yang menjadi titik temu antara arus
sungai pedalaman dan jalur pelayaran pesisir, menjadikannya simpul strategis
dalam pergerakan barang dan manusia.
Way
Seputih Tahun 1910
(Sumber:
digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Dermaga Cabang dalam Peta
Perdagangan Timur Lampung
Dermaga
Cabang menempati posisi penting sebagai salah satu gerbang maritim di wilayah
timur Lampung. Keberadaannya disejajarkan dengan dermaga atau pelabuhan lain
yang juga berperan vital, seperti Pelabuhan Menggala yang berada di Way
Tulangbawang, dan Labuhan Maringgai. Posisi ini menegaskan bahwa Dermaga Cabang
bukanlah pelabuhan biasa, melainkan salah satu pilar penopang sistem distribusi
dan perdagangan regional pada masa kolonial.
Beberapa
literatur kolonial dari awal abad ke-20, yang seringkali memuat catatan detail
mengenai infrastruktur dan ekonomi wilayah, menyebut Dermaga Cabang bersama
dengan dermaga-dermaga lainnya seperti Labuhan Maringgai di pesisir timur dan Rantaujaya
Ilir di Sungai Pegadungan. Hal ini mengindikasikan bahwa otoritas kolonial
Belanda mengakui Cabang sebagai titik pengumpulan dan distribusi komoditas.
Dalam
publikasi yang dibuat oleh R. Broersma pada tahun 1916 berjudul De
Lampongsche Districten, disebutkan secara khusus mengenai lokasi dan
konektivitas Dermaga Cabang. Dermaga ini terletak pada titik geografis yang
sangat strategis, yaitu di pertemuan antara Way Seputih dan Way Pegadungan.
Posisi pertemuan dua sungai ini memberikan keuntungan akses ganda ke wilayah
pedalaman. Lebih lanjut, Broersma mencatat bahwa Dermaga Cabang memiliki koneksi
pelayaran yang aktif tidak hanya secara lokal tetapi juga antar pulau:
- Pertama, koneksi dengan Palembang: Jalur ini
memungkinkan pertukaran komoditas dan informasi dengan pusat ekonomi
penting di Sumatera Selatan.
- Kedua, koneksi dengan Jawa: Pelayaran ini
dilakukan menggunakan kapal layar (zeilschip), yang menghubungkan
hasil bumi Lampung langsung ke pasar-pasar besar di Jawa, yang saat itu
menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi Hindia Belanda.
Konektivitas
yang luas ini menjadikan Cabang bukan sekadar dermaga singgah, tetapi sebuah simpul
distribusi regional yang sangat efisien dalam menghubungkan wilayah pedalaman
Lampung dan sekitarnya, khususnya di Onderafdeling Seputih dengan jaringan
perdagangan yang lebih besar.
Neraca Perdagangan
Padi dan Beras di Pelabuhan Lampung
(Sumber:
JFP. Richter, 1910)
Peran
Dermaga Cabang semakin terlihat jelas dalam fungsinya sebagai moda transportasi
utama ke berbagai daerah sekitarnya, baik melalui jalur sungai Way Seputih dan
Way Pegadungan maupun melalui jalur laut. Keberadaan dermaga ini menjadi solusi
sebelum infrastruktur jalan darat berkembang pesat.
Salah
satu bukti dokumentasi mengenai aktivitas logistik di Cabang termuat dalam Rapport
Nopens Den Aanleg Van Staatsspoorwegen in Zuid-Sumatra (Laporan Mengenai
Pembangunan Jalur Kereta Api Negara di Sumatera Selatan), yang diterbitkan pada
tahun 1910 oleh JFP. Richter. Laporan ini mencantumkan jalur pelayaran antara
Cabang dengan Sukadana. Data yang tercatat dalam laporan tersebut memberikan
gambaran konkret mengenai biaya dan mekanisme transportasi yang berlaku pada
masa itu:
- Biaya Transportasi Penumpang: Pelayaran dari
Cabang ke Sukadana (dan sebaliknya) dikenakan biaya sebesar 1,50 gulden
per penumpang.
- Biaya Transportasi Barang: Untuk pengiriman
barang, biayanya adalah 2,50 gulden per pikul (satuan berat tradisional,
kurang lebih 60–80 kg).
Informasi
tarif ini menunjukkan bahwa pelayaran tersebut merupakan layanan komersial. Adapun
salah satu muatan barang yang secara reguler dikirim melalui Dermaga Cabang
adalah lada. Komoditas lada memang merupakan tanaman primadona di wilayah Onderafdeling
Seputih. Way Seputih dan daerah sekitarnya, yang subur dan cocok untuk
perkebunan lada, mengandalkan dermaga Cabang sebagai salah satu gerbang utama
untuk mengirimkan hasil panen lada hitam Lampung ke luar pulau, contohnya ke
Jawa.
Selain
itu dijelaskan oleh JFP. Richter (1910:126) melalui Dermaga Cabang perdagangan
beras dilakukan. Tercatat pernah dilakukan diimpor 170 pikul beras dengan nilai
1.172 gulden dan ekspor 70 pikul beras dengan nilai 350 gulden melalui Dermaga
Cabang ini. Komoditas lain yang juga dilakukan pengiriman melalui Dermaga
Cabang di masa lalu adalah damar, karet dan rotan. Dengan nilai masing-masing ekonomis,
karet 9.000 gulden, rotan 21.000 gulden
dan damar 20.000 gulden, sehingga total nilai ekspor dapat diperkirakan
mencapai 352.000 gulden.
Dermaga Cabang Masa Kini
Meskipun
zaman telah berubah, infrastruktur modern telah masuk, dan jalur darat semakin
dominan, Dermaga Cabang menunjukkan suatu kontinuitas fungsi yang luar biasa
hingga saat ini. Dermaga ini tidak hilang ditelan sejarah, melainkan
bertransformasi dan tetap menjadi pilihan utama dalam moda penyeberangan bagi
masyarakat lokal.
Bahkan,
Dermaga Cabang saat ini dapat disebut sebagai dermaga yang paling sibuk
melayani jasa penyeberangan orang dan barang di kawasan tersebut. Keunggulan
lokasinya yang strategis, menghubungkan dua kabupaten atau lebih di kawasan
perairan, menjadikannya tak tergantikan bagi pergerakan harian masyarakat.
Menurut
penelitian yang dilakukan oleh R. Didin Kusdian pada tahun 2011 mengenai Potensi
Revitalisasi Transportasi Sungai di Lampung, operasi Dermaga Cabang hampir
tidak pernah berhenti, ia beroperasi hampir 24 jam sehari. Terutama selama
masih ada permintaan dari masyarakat yang ingin menyeberang. Moda transportasi
yang digunakan adalah klotok (perahu bermotor tradisional), yang mampu membawa
penumpang dan barang dalam skala kecil hingga menengah. Rute penyeberangan
utama yang dilayani oleh Dermaga Cabang saat ini meliputi:
- Dermaga Antasena, Berada di wilayah Kabupaten
Tulang Bawang. Rute ini menghubungkan masyarakat di dua wilayah kabupaten
yang berbeda secara cepat melalui jalur air.
- Dermaga Kuala, Terletak di Kabupaten Lampung
Tengah. Rute ini memfasilitasi pergerakan antar-desa atau antar-kecamatan
di sepanjang muara sungai.
Kondisi
ini menegaskan bahwa meskipun peran ekspor lada telah bergeser ke
pelabuhan-pelabuhan yang lebih besar dan modern, fungsi sosial dan ekonomi
lokal Dermaga Cabang tetap relevan. Ia melayani kebutuhan esensial masyarakat,
konektivitas harian yang murah dan efisien, menjembatani jarak yang mungkin
jauh jika ditempuh melalui jalur darat yang berputar-putar.
Signifikansi Historis dan Potensi
Masa Depan
Dermaga
Cabang adalah penanda sejarah yang kaya. Kisahnya merangkum evolusi
transportasi dan perdagangan di Lampung, mulai dari era kapal layar yang
membawa lada ke Jawa hingga klotok yang mengangkut warga menyeberang
antar-kabupaten.
Secara
historis, Dermaga Cabang adalah cermin dari bagaimana infrastruktur sungai
dimanfaatkan secara maksimal sebagai basis ekonomi pada masa kolonial.
Keberadaannya memberikan gambaran tentang bagaimana ekonomi komoditas
(khususnya lada) membentuk pola permukiman, koneksi regional (Palembang, Jawa),
dan sistem logistik di pedalaman Lampung.
Secara
sosiologis, keberlangsungan operasinya hingga saat ini menunjukkan ketahanan
budaya maritim dan sungai masyarakat setempat. Peran Dermaga Cabang yang tidak
pernah berhenti beroperasi adalah pengingat bahwa infrastruktur yang berakar
pada kondisi geografis alami (sungai dan muara) seringkali lebih tahan lama dan
relevan bagi kehidupan masyarakat dibandingkan infrastruktur buatan yang tidak
terintegrasi.
Ke depan,
Dermaga Cabang dapat diposisikan bukan hanya sebagai fasilitas penyeberangan,
tetapi juga sebagai situs warisan sejarah dan budaya. Melalui narasi Dermaga
Cabang, kita dapat menghargai betapa eratnya hubungan antara sungai,
perdagangan, dan kehidupan masyarakat Lampung dari masa ke masa.
Referensi:
JFP. Richter. 1910. Rapport Nopens Den Aanleg
Van Staatsspoorwegen in Zuid-Sumutra. Batavia: Landsdrukkerij
Kusdian, R. D. (2011). Potensi Revitalisasi
Transportasi Sungai di Provinsi Lampung. Jurnal Transportasi, 11(2),
143–152.
R. Broersma. 1916. De
Lampongsche Districten. Batavia: Javasche Boekhandel & Drukkerij
Populer
-
Silakan unduh dan gunakan untuk memudahkan bapak/ibu guru sejarah dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Bahan Ajar Se...
-
Membaca kumpulan dokumen administrasi pemerintah maupun pemberitaan masa kolonial Hindia Belanda sangat menarik guna mengetahui masa lampau ...
-
Penyusun: Adi Setiawan Empat Serangkai (Sumber: Ruang Guru) 1. Perjuangan Kooperatif (Kerjasama) Sejumlah tokoh nasionalis Indonesia banya...
-
Adi Setiawan A. Latar Belakang Terpilih sebagai Presiden Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden pada tanggal 20 Oktober 1999. ...
