Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan dialami jika menetap di Oosthaven.
Oleh: Adi Setiawan
Oosthaven
(Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)
Tatkala
Oosthaven mulai pembangunannya tahun 1914, Inspektur Dinas Kesehatan Hindia
Belanda untuk Wilayah Luar, Dr. V. D. Heyden dan ahli malaria, Dr. Schüffner,
menyampaikan laporan tentang pembangunan jalur pantai bebas malaria di kedua
sisi lokasi di mana Oosthaven akan dibangun. Namun kenyataan di lapangan
saat proyek mulai dikerjakan pembangunan tidak memfokuskan kegiatannya pada
pemberantasan malaria, melainkan hanya pada penyediaan air minum. Oleh karena
itu, tidak mengherankan jika Kepala Layanan Kesehatan Sipil (Burgerlijke
Geneeskundigen Dienst), dalam laporannya bulan Agustus 1921 menulis surat
kepada Ketua Komisi Pengembangan Lahan bahwa malaria begitu parah
di Oosthaven sehingga kapal-kapal terpaksa meninggalkan pelabuhan
pada malam hari (G. Sieburgh, 1936:614-615).
Peta Oosthaven
(Sumber: G.
Sieburgh, 1936:619)
Resiko
terjangkit malaria dirasa begitu besar bagi orang-orang yang tinggal di
Oosthaven. Hal itu tergambar nyata yang dialami oleh warga yang tinggal di
Kampung Panjang dan Kampung Lunik. Di kedua kampung tersebut, malaria menjadi endemik
kronis yang parah. Anak-anak sekolah menunjukkan gejala malaria kronis, nampak
pada perut yang bengkak dan anemia ringan. Kondisi ini membuat pemerintah
melakukan aksi pemeriksaan kesehatan terhadap warga di Kampung Panjang pada 4
Maret 1935 dan Kampung Lunik 17 September 1935 (G. Sieburgh, 1936:617).
Pada tahun
1935, Dokter R. Soesilo (pemimpin pengendali malaria Hindia Belanda) melakukan
kunjungan investigasi di Oosthaven. Bersama dengan timnya, seperti Insinyur
Departemen Teknis Dinas Kesehatan Masyarakat (Technische Afdeeling van den
Dienst der Volksgezondheid), Ir. F. Bleichrodt, ia melakukan penyelidikan
terhadap wabah malaria di Oosthaven. Kunjungan itu sebagai salah satu bagian
dalam tur di Sumatra dalam misi penyelidikan terhadap penyakit malaria (De
Indische Courant 25 Mei 1935, De Telegraaf 03 Agustus 1935).
Penyelidikan
terhadap penyakit malaria di Oosthaven juga secara intensif dilakukan oleh Dokter
G. Sieburgh antara tahun 1934 sampai 1936. Riset tersebut kemudian diterbitkan
dalam sebuah jurnal kesehatan Geneeskundig Tijdschrift voor Ned. Indië. Sieburgh
menggarisbawahi bahwa penanganan penyakit malaria di Oosthaven berjalan sangat
lambat. Pemerintah selalu menyatakan bahwa Oosthaven adalah tempat yang layak.
Ini tentu berbanding terbalik dengan temuan-temuan yang dilakukan oleh para
dokter yang mengunjungi Oosthaven.
Dokter-dokter
yang pernah berkunjung ke Oosthaven memberikan kesimpulan bahwa
perkembangbiakan nyamuk di Oosthaven dipengaruhi oleh lingkungan pesisir yang
tidak sehat. Nyamuk-nyamuk berkembangbiak di muara Way Panjang dan Way Lunik.
Begitupun lingkungan pesisir berupa air asin juga menambah meningkatnya
perkembangbiakan malaria di Oosthaven (Bredasche Courant 23 April 1936).
Muara Way Panjang
(Sumber: G.
Sieburgh, 1936:625)
Buruknya
kondisi lingkungan di Oosthaven juga dipengaruhi oleh kegiatan pembuatan parit.
Sehingga tidak dapat dihindari munculnya genangan-genangan air, baik kecil
maupun besar, yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk anopheles. Nyamuk anopheles
juga berkembangbiak di tepi parit, dengan air yang mengalir, di mana pun ada
tikungan kecil, atau di mana aliran air terhalang oleh tanaman atau pusaran air
kecil (C.D De Langen, 1918:41-42).
Oosthaven memiliki
reputasi buruk sejauh menyangkut malaria sehingga kapal meninggalkan
pelabuhan saat matahari terbenam, dan jika perlu kembali keesokan paginya, yang
mengakibatkan pemerintah kehilangan sejumlah besar biaya tambatan. Masalah
penyakit malaria sesungguhnya menjadi penghambat bagi kegiatan pengangkutan dan
perdagangan di Oosthaven jika tidak ditangani secara serius. Laporan yang
dibuat Dokter R. Sieburgh menjelaskan hasil tes darah massal menunjukkan warga
yang infeksi tertiana, sementara pasien demam yang dirawat di rumah sakit
hampir semuanya terinfeksi tropica.
Para
dokter yang melakukan penyelidikan di Oosthaven memberikan masukan dalam pengendalian malaria yakni
dengan memisahkan air tawar dan air asin secara ketat (De Sumatra Post 24 Juli 1935).
Lebih lanjut Dokter G. Sieburgh menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda
agar melakukan penataan Oosthaven dengan cara pengalihan Way Baku ke Way
Panjang dan peninggian laguna yang membatasi tepian Panjang. Serta menjaga
muara sungai Way Panjang agar tetap terbuka setiap saat dan mengalihfungsikan
sungai semaksimal mungkin, dengan penanaman tanaman peneduh tepi sungai. Cara
ini diharapkan dapat mengubah kondisi di Oosthaven menjadi pelabuhan yang sehat
(De Indische Courant 03 April 1936).
Sehatnya
lingkungan Oosthaven tentunya akan berdampak baik bagi dunia perdagangan dan
pelayaran. Bukan hanya bagi Lampung, keberadaan Oosthaven diharapkan mampu memberikan
pengaruh positif bagi perekonomian di Sumatra bagian selatan. Oleh karena itu
Oosthaven disebut-sebut sebagai pintu gerbang bagi Sumatra bagian selatan,
terutama untuk ekspor lada, kopi dan karet.
Referensi:
Buku
C.D De Langen. 1918. Mededeelingen
van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indië. Javasche
Boekhandel & Drukkerij: Batavia
Jurnal
G. Sieburgh. (1936). De
Malaria Te Oosthaven. Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch-Indië. No. 10.
Hal. 614-619.
Koran
Bevindengen van Dr. R.
Soesilo. 24 Juli 1935. De Sumatra Post.
De Malaria Te Oosthaven. 03
April 1936. De Indische Courant.
De Malaria Te Oosthaven. 23
April 1936. Bredasche Courant.
Malaria Bestrijding:
Tournee van Dr. Soesilo. 25 Mei 1935. De Indische Courant.
Malaria Onderzoek in Oosthaven.
03 Agustus 1935. De Telegraaf.
