Adi Setiawan

Perkembangan Teknologi
Sekalipun belum mengenal tulisan manusia purba sudah mengembangkan
kebudayaan dan teknologi. Teknologi waktu itu bermula dari teknologi
bebatuan yang digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan. Dalam
praktiknya peralatan atau teknologi bebatuan tersebut dapat berfungsi
serba guna. Pada tahap paling awal alat yang digunakan masih bersifat
kebetulan dan seadanya serta bersifat trial and eror. Mula-mula mereka
hanya menggunakan benda-benda dari alam terutama batu. Teknologi
bebatuan pada zaman ini berkembang dalam kurun waktu yang begitu
panjang.
a. Zaman Batu
Tua (Paleolitikum)
Disebut
zaman batu tua karena alat-alat kebudayaan yang dihasilkan masih sangat kasar.
Kebudayaan Paleolitikum di Indonesia ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong,
maka sering disebut Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.
1) Kebudayaan
Pacitan
Alat-alat
kebudayaan Pacitan ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1935. Di daerah
Pacitan banyak ditemukan alat-alat dari batu yang masih sangat kasar. Alat-alat
tersebut berbentuk kapak, yakni kapak perimbas (chooper), karena tidak memakai
tangkai maka disebut Kapak Genggam. Alat budaya Pacitan diperkirakan dari
lapisan pleistosen tengah (lapisan Trinil); sedangkan pendukung kebudayaan
tersebut ialah Pithecantropus Erectus.
2) Kebudayaan
Ngandong
Di
sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo (dekat Ngawi, Madiun, Jawa Timur)
didapatkan banyak alat-alat dari tulang di samping kapak-kapak genggam dari
batu. Alat-alat Kebudayaan Ngandong ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun
1941 dan yang banyak ditemukan alat-alat dari tulang (semacam alat penusuk = belati),
dan tanduk rusa terutama di gua Sampung. Rupa-rupanya alat-alat ini untuk
menorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Ada juga alat-alat seperti ujung
tombak dengan gigi-gigi pada sisinya, yang mungkin dipergunakan untuk menangkap
ikan. Jenis alat ini ditemukan di lapisan pleistosen atas; sedangkan pendukung
Kebudayan Ngandong adalah jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo
Wajakensis
b. Zaman Batu
Madya (Mesolitikum)
Sesuai
dengan perkembangan penalarannya, zaman Mesolitikum ditandai dengan adanya kebudayaan
kyokkenmodinger dan kebudayaan abris sous roche.
1)
Kyokkenmoddinger
Suatu
corak istimewa dari zaman Mesolitikum Indonesia ialah adanya
peninggalan-peninggalan yang disebut dalam bahasa Denmark
"kyokkenmoddinger". (kyokken = dapur, modding = sampah, jadi
kyokkenmoddinger artinya sampah dapur). Sampah dapur tersebut dapat ditemukan
di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut, di antara Langsa (Aceh) - Medan; yaitu
berupa bukit atau tumpukan kerang dan siput yang tinggi dan panjang yang telah
menjadi fosil. Di tempat yang sama ditemukan pula jenis kapak genggam (chooper)
yang diberi nama pebble (kapak Sumatra)
2) Abris Sous
Roche
Hasil
penemuan kedua dari kebudayaan Mesolotikum adalah "abris sous roche"
ialah gua yang dipakai sebagai tempat tinggal manusia pra sejarah. Gua-gua itu
sebenarnya lebih menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk
memberi perlindungan terhadap hujan dan panas. Di dalam dasar gua-gua itu
didapatkan banyak peninggalan kebudayaan, dari jenis Paleolitikum sampai dengan
Neolitikum, tetapi sebagian besar dari zaman Mesolitikum. Penelitian pertama
terhadap abris sous roche dilakukan oleh Dr. P.V. Stein Callencels (1928-1931)
di Gua Lawa dekat Sampung-Ponorogo, Madiun- Jawa Timur.
c. Zaman Batu
Muda (Neolitikum)
Kebudayaan
Neolitikum adalah kebudayaan batu baru, ciri-cirinya alatalatnya sudah dibuat
dengan baik, diasah (diupam) dan halus. Masa ini merupakan masa bercocok tanam
di Indonesia yang bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengasah (mengupam)
alat-alat batu serta mulai dikenalnya teknologi pembuatan tembikar. Dengan
demikian, masa ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, yakni
perubahan dari kehidupan food gathering menjadi food producing. Hasil
kebudayaan neolitikum, di antaranya ialah kapak persegi, kapak lonjong, alat
serpih, gerabah, dan perhiasan .
d. Zaman Batu
Besar (Megalitikum)
Pada masa ini
manusia pra-aksara membuat benda-benda dengan ukuran besar. Benda-benda yang
mereka buat ada hubungannya dengan kepercayaan manusia ra-aksara. Hasil-hasil
budaya Megalitikum ialah sebagai berikut :
a. Menhir, yaitu tugu dari batu
tunggal. Fungsinya sebagai tanda peringatan suatu peristiwa atau sebagai tempat
pemujaan roh nenek moyang.
b. Dolmen, yaitu meja batu, yang fungsinya
sebagai tempat meletakkan sajian untuk pemujaan roh nenek moyang.
c. Sarkofagus atau keranda
yaitu peti batu besar bentuknya seperti palung/lesung dan diberi tutup.
Fungsinya sebagai kuburan atau peti mayat.
d. Kubur Batu, yaitu kuburan
dalam tanah dimana sisi samping, alas, dan tutupnya diberi semacam papan-papan
dari batu. Fungsinya untuk mengubur mayat.
e. Punden Berundak-undak, yaitu bangunan
dari batu yang disusun bertingkat. Fungsinya sebagai pemujaan roh nenek moyang.
Bangunan ini merupakan prototype (bentuk pendahuluan) dari candi.
f. Arca, yaitu bangunan
dari batu. Ada yang berbentuk manusia dan yang berbentuk binatang (merupakan
perwujudan dari roh nenek moyang).
g. Waruga, fungsinya
sebagai kuburan atau peti mayat.
e. Zaman Logam
Zaman
logam dibagi menjadi tiga zaman, yakni:
1. Zaman Tembaga
Pada
masa ini manusia sudah mampu mengolah logam tembaga yang sesuai dengan
bentuk-bentuk peralatan yang dibutuhkannya, seperti periuk, belanga dan
sebagainya.
2. Zaman
Perunggu
Pada
masa ini manusia sudah mampu membuat peralatan dari perunggu. Perunggu
merupakan logam campuran antara tembaga dengan timah.
3. Zaman Besi
Pada
masa ini, alat-alat kehidupan manusia sudah meningkat lagi, disamping dibuat
dari tembaga dan perunggu banyak sudah yang terbuat dari besi. Manusia telah
dapat melebur biji-biji besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan
kebutuhannya, seperti mata kapak, mata pisau, tombak, cangkul dan sebagainya.
Di
Indonesia peralatan logam yang ditemukan umumnya berasal dari zaman perunggu.
Adapun cara pembuatannya ada dua teknik, yaitu :
a. Teknik
bivolve,
yaitu cetakan yang terdiri dari dua bagian, kemudian diikat dan ke dalam rongga
dalam cetakan itu dituangkan perunggu cair. Cetakan tersebut kemudian dilepas
dan jadilah barang yang dicetak.
b. Teknik a cire
perdue
(membuat model benda dari lilin). Benda yang akan dicetak dibuat dari lilin
atau sejenisnya, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang.
Setelah itu dibakar, maka lilin akan meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi
dengan cairan perunggu; sesudah dingin perunggu membeku dan tanah liat dibuang
maka jadilah barang yang dicetak.
Hasil-hasil
kebudayaan perunggu di antaranya:
1)
Nekara
Perunggu, Nekara adalah semacam genderang dari
perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, jadi
kira-kira sama dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara yang ukurannya kecil
disebut moko, yang berfungsi sebagai mas kawin.
2) Kapak Corong, Kapak Corong
bentuk bagian tajamnya seperti kapak batu, hanya bagian tangkainya berbentuk
corong. Kapak Corong yang memiliki panjang satu sisi disebut candrasa,
bentuknya sagat indah dan penuh hiasan. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan
alat upacara keagamaan.
3) Bejana
Perunggu,
Bejana ditemukan di tepi Danau Kerinci dan di Madura bentuknya seperti periuk,
tetapi langsung dan gepeng.
4) Arca-arca
Perunggu,
Arca Perunggu yang ditemukan berupa arca yang menggambarkan orang yang sedang
menari, berdiri, naik kuda, dan ada yang sedang memegang panah.
5) Perhiasan
Perunggu,
Selain Kapak Corong dan Nekara banyak pula benda-benda lainnya dari zaman
perunggu yang didapatkan, sebagian besar berupa barang-barang perhiasan,
seperti gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung, dan cincin.
6) Candrasa, Kapak perunggu
yang digunakan sebagai sarana upacara keagamaan.
Mengenal Api
Bagi
manusia purba, proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat
penting. Berdasarkan data arkeologi, penemuan api kira-kira terjadi pada
400.000 tahun yang lalu. Penemuan pada periode manusia Homo erectus. Api
digunakan untuk menghangatkan diri dari cuaca dingin. Dengan api kehidupan menjadi
lebih bervariasi dan berbagai kemajuan akan dicapai. Teknologi api dapat
dimanfaatkan manusia untuk berbagai hal. Di samping itu penemuan api juga
memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan, yaitu memasak dengan
cara membakar dan menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Manusia juga menggunakan
api sebagai senjata. Api pada saat itu digunakan manusia untuk menghalau binatang
buas yang menyerangnya. Api dapat juga dijadikan sumber penerangan. Melalui
pembakaran pula manusia dapat menaklukkan alam, seperti membuka lahan untuk
garapan dengan cara membakar hutan.
Sebuah
Revolusi
Perkembangan
zaman batu yang dapat dikatakan paling penting dalam kehidupan manusia adalah
zaman batu baru atau neolitikum. Pada zaman neolitikum yang juga
dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi
kebudayaan”, yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering
digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan
terjadinya perubahan jenis pendukung kebudayannya. Pada zaman ini telah hidup
jenis Homo sapiens sebagai pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka
mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses untuk menghasilkan
atau memproduksi bahan makanan. Hidup bermasyarakat dengan bergotong royong
mulai dikembangkan. Hasil kebudayaan yang terkenal di zaman neolitikum ini secara garis
besar dibagi menjadi dua tahap perkembangan.
1) Kapak Persegi
Nama
kapak persegi itu berasal dari von Heine Geldern, berdasarkan kepada penampang alang
alat-alatnya, yang berupa persegi panjang atau juga berbentuk trapesium. Kapak
persegi kebanyakan terbuat dari batu api yang keras atau chalsedon, bentuknya
persegi panjang atau trapesium. Ada berbagai ukuran yang besar ialah beliung
atau cangkul untuk mengerjakan sawah, sedangkan yang kecil ialah tarah untuk
mengerjakan kayu. Pemakaiannya tidak lagi digenggam, melainkan telah
mempergunakan tangkai kayu sehingga memberikan kekuatan yang lebih besar. Daerah
penemuan kapak persegi pada umumnya di Indonesia bagian barat, seperti di
Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Kerawang, Tasikmalaya, dan Pacitan. Sebab,
penyebaran kapak persegi dari daratan Asia ke Indonesia melalui jalur barat
(Sumatra-Jawa-Bali-Nusa Tenggara- Sulawesi). Adapun pusat pembuatannya antara
lain di Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pacitan. Jenis lain
dari kapak persegi yang ada di daratan Asia (Jepang, Filipina), tetapi tidak
ada di Indonesia ialah kapak pahu.
2) Kapak Lonjong
Nama
kapak lonjong di dasarkan atas penampang alangnya yang berbentuk lonjong, dan
bentuk kapaknya bulat telur. Ujungnya yang runcing untuk tangkai dan ujung
lainnya yang bulat diasah hingga tajam. Ada dua macam kapak lonjong, yaitu
Walzenbeil (yang besar) yang banyak ditemukan di Irian sehingga sering
dinamakan Neolitikum Papua, dan Kleinbeil (yang kecil) banyak ditemukan di
kepulauan Tanimbar dan Seram. Sampai abad ke-20, kapak lonjong masih digunakan
di Irian Jaya terutama di daerah terpencil dan terasing. Di luar Indonesia kapak
lonjong banyak ditemukan di Birma, Cina, dan Jepang, sehingga dapat
diperkirakan penyebaran kapak lonjong melalui Indonesia Timur, yaitu daratan Asia-Jepang-Philipina-Minahasa-Irian
Jaya.
Konsep Ruang
pada Hunian (Arsitektur)
Bentuk
arsitektur pada masa pra-aksara dapat dilihat dari tempat hunian manusia pada
saat itu. Mungkin kita sulit membayangkan atau menyimpulkan bentuk rumah dan
bangunan yang berkembang pada masa pra-aksara saat itu. Dari pola mata
pencaharian manusia yang sudah mengenal berburu dan melakukan pertanian
sederhana dengan ladang berpindah memungkinkan adanya pola pemukiman yang telah
menetap. Gambar-gambar dinding goa tidak hanya mencerminkan kehidupan
sehari-hari, tetapi juga
kehidupan spiritual. Cap-cap tangan dan lukisan di goa yang banyak ditemukan di
Papua, Maluku, dan Sulawesi Selatan dikaitkan dengan ritual penghormatan atau
pemujaan nenek moyang, kesuburan, dan inisiasi. Gambar dinding yang tertera
pada goa-goa mengambarkan pada jenis binatang yang diburu atau binatang yang
digunakan untuk membantu dalam perburuan. Anjing adalah binatang yang digunakan
oleh manusia pra-aksara untuk berburu binatang.
Bentuk
pola hunian dengan menggunakan penadah angin, menghasilkan pola menetap pada
manusia masa itu. Pola hunian itu sampai saat ini masih digunakan oleh Suku
Bangsa Punan yang tersebar diKalimantan.
Bentuk hunian itu merupakan bagian bentuk awal arsitektur di luar tempat hunian
di goa. Secara sederhana penadah angin merupakan suatu konsep tata ruangan yang
memberikan secara implisit memberikan batas ruang. Pada kehidupan dengan masyarakat
berburu yang masih sangat tergantung pada
alam, mereka lebih mengikut ritme dan bentuk geografis alam. Dengan demikian
konsep ruang mereka masih kurang bersifat geometris teratur. Pola garis
lengkung tak teratur seperti aliran sungai, dan pola spiral seperti route yang
ditempuh mungkin adalah citra pola ruang utama mereka. Ruang demikian belum
mengutamakan arah utama. Secara sederhana dapatlah kita lihat bahwa, pada masa
praaksara konsep tata ruang, atau yang saat ini kita kenal dengan arsitektur
itu sudah mereka kenal.