Kamis, 15 Oktober 2020

Teori-teori Masuknya Pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia

 

Adi Setiawan 

  24 Candi Hindu-Buddha di Indonesia Wajib Dikunjungi - Tokopedia Blog

 

Agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang berasal dari India berkembang cukup pesat di Indonesia. Peninggalan berupa candi, sastra maupun budaya lainnya memiliki dampak nyata pada masa perkembangan Hindu-Budha di Indonesia.

Berikut ini adalah teori atau hipotesis masuknya Hindu-Budha ke Indonesia:

 a. Hipotesis Waisya

Hipotesis waisya mengungkapkan bahwa masuknya agama dan kebudayaan Hindu dibawa oleh golongan pedagang (waisya). Mereka mengikuti angin musim (setengah tahun berganti arah) dan enam bulan menetap di Indonesia dan menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu.  

Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang umumnya merupakan kelompok pedagang inilah yang berperan besar dalam menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu ke Nusantara. Mereka yang menjadikan munculnya budaya Hindu sehingga dapat diterima di kalangan masyarakat. Pada saat itu, para pedagang banyak berhubungan dengan para penguasa dan rakyat. Jalinan hubungan itu yang membuka peluang terjadinya proses penyebaran agama dan budaya Hindu. Salah satu tokoh pendukung hipotesis waisya adalah N.J. Krom.

Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana. Selain itu, terdapat kelemahan lain dalam hipotesis ini yaitu dengan melihat peta persebaran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia yang lebih banyak berada di pedalaman. Namun apabila pengaruh tersebut dibawa oleh para pedagang India, tentunya pusat kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha akan lebih banyak berada di daerah pesisir pantai.

 b. Hipotesis Kesatria

Hipotesis kesatria mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Nusantara adalah kaum kesatria. Menurut hipotesis ini, pada masa lampau di India terjadi peperangan antarkerajaan. Para prajurit yang kalah perang, kemudian mengadakan migrasi ke daerah lain. Tampaknya, di antara mereka ada yang sampai ke Indonesia dan mendirikan koloni-koloni melalui penaklukan. Mereka menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia. Salah seorang pendukung hipotesis kesatria adalah Mookerji, J.L Moens dan C.C. Berg

Namun, teori ini memiliki kelemahan, yaitu para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa, dan apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yang menggambarkan penaklukkan tersebut.

 c. Hipotesis Brahmana

Hipotesis brahmana mengungkapkan bahwa pembawa agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia ialah golongan brahmana. Para brahmana datang ke Nusantara diundang oleh penguasa Nusantara untuk menobatkan menjadi raja dengan upacara Hindu (abhiseka = penobatan). Selain itu, kaum brahmana juga memimpin upacara-upacara keagamaan dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Pendukung hipotesis ini adalah J.C. van Leur. Oleh karena itu, dia berpendapat bahwa kaum Brahmanalah yang menguasai bahasa dan huruf itu, sehingga pantas jika mereka yang memegang peranan penting dalam proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. 

Akan tetapi, bagaimana mungkin para Brahmana bisa sampai ke Indonesia yang terpisahkan dengan India oleh lautan. Dalam tradisi agama Hindu terdapat pantangan bagi kaum Brahmana untuk menyeberangi lautan, sehingga hal ini menjadi kelemahan hipotesis ini.

 d. Hipotesis Arus Balik (Teori nasional)

Hipotesis Arus Balik, mengatakan bahwa yang telah berperan dalam menyebarkan Hindu di Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Mereka adalah orang yang pernah berkunjung ke India untuk mempelajari agama Hindu dan Buddha. Di pengembaraan mereka mendirikan sebuah organisasi yang sering disebut sanggha. Setelah kembali di Indonesia, akhirnya mereka menyebarkan kembali ajaran yang telah mereka dapatkan di India. Pendapat ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch.

 

 

Perkembangan Teknologi Transportasi dan Dampaknya Bagi Kehidupan di Era Globalisasi

 Adi Setiawan

 Awal Mula Sejarah Kapal Laut | KASKUS

Mobilitas manusia di bumi ini tentu tak akan mudah jika tidak dibantu dengan alat transportasi. Transportasi didefinisikan sebagai sarana pengangkut yang memudahkan perpindahan manusia maupun barang dari satu tempat ke tempat lain.Teknologi transportasi baik itu transportasi darat, laut/air, dan udara berkembang sangat pesat. Manusia berinovasi menciptakan tekknologi transportasi yang aman dan efisien. Hal itu tentu guna mempermudah aktivitas manusia yang semakin kompleks. Berikut adalah beberapa perkembangan teknologi transportasi dari waktu ke waktu.

A.  Transportasi  Darat

Transportasi darat sudah dikenal sejak zaman kuno. Ada banyak jenis transportasi darat pada masa itu seperti kuda tunggangan, kereta berkuda, gerobak, dan sepeda. Sayangnya, jenis-jenis transportasi darat di masa itu masih menggunakan tenaga hewan dan manusia untuk berpindah tempat.

Kendaraan dengan mesin baru muncul setelah abad ke-18. Tapi pada saat itu, mesin yang digunakan masih berupa mesin uap. Kendaraan bermesin uap ini mulai digunakan sejak 1870-an oleh tentara Prancis untuk mengangkut peralatan perang. Mesin uapnya juga masih terdiri dari tiga roda penggerak, kecepatannya cuma secepat manusia saat berjalan.

Salah satu transportasi darat yang memiliki dampak besar bagi manusia adalah kereta api. Kereta api ditemukan pada tahun 1784 oleh William Murdoch, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris.

Pada tahun 1804, Richard Trevithick telah menciptakan mesin lokomotif yang dirangkai dengan kereta. Selanjutnya penyempurnaan lokomotif tersebut dilakukan oleh George Stephenson. George Stephenson merubah merubah lokomotif tersebut menjadi lokomotif uap yang lebih efektif , memiliki daya yang lebih besar serta dapat menarik lebih banyak kereta.

Pada tahun 1925, kereta bermesin diesel untuk yang pertama mulai dioperasikan. Kereta bermesin diesel tersebut adalah hasil karya Rudolft Diesel. Kereta tersebut memiliki tenaga yang lebih besar dan sangat efisien bila dibandingkan dengan lokomotif uap.

Penemuan mesin diesel berbasis solar pada 1880-an menjadi tonggak sejarah penting bagi pengembangan kendaraan, yang dalam hal ini adalah mobil. Mesin diesel bikin bahan bakar yang digunakan pun jadi lebih efisien dan pergerakan mobil jadi lebih cepat.

Sekitar tahun 1890, Karl Benz dan Gottlieb Daimler membuat mobil untuk dijual ke khalyak umum. Perkembangan industri mobil dipelopori oleh Henry Ford, yang pertama kali melakukan produksi massal mobil “murah”.

B.  Transportasi  Air

Perkembangan transportasi air tidak lepas dari penemuan mesin uap oleh James Watt. James Watt telah menginspirasi Robert Fulton, yang membuat kapal uap pertama, dengan nama "Clermont". Penemuan kapal uap dapat memudahkan banyak orang menyeberangi lautan.

Selain kapal uap, ada pula kapal selam, yaitu kapal yang bergerak di bawah permukaan air yang umumnya untuk kepentingan militer. Sejarah kapal selam berawal sejak tahun 1500 masehi dan mulai muncul pada abad ke-19. Penemu kapal selam adalah Cornelis Drebbel. Kapal selam mulai terkenal sejak digunakan pada Perang Dunia I.

C.  Transportasi  Udara

Cikal bakal transportasi udara yang ada saat ini dimulai dari sebuah balon udara. Pada tahun 1782, Joseph dan Jacques Etienne berhasil menerbangkan balon udara setinggi 300 meter untuk pertama kali. Setahun setelah itu, Etienne bersaudara menaikkan bebek, domba, dan ayam ke balon udara yang berhasil terbang setinggi 500 meter. Balon udara kemudian berkembang hingga bisa membawa manusia sebagai penumpang.

Perkembangan transportasi udara berikutnya ditandai dengan penemuan pesawat terbang yang dijuluki sebagai “Kitty Hawk”. Kala itu, pada tahun 1903, Orville dan Wilbur Wright merancang mesin pesawat terbang. Hingga akhirnya, rancangan pesawat terbang mereka bisa berguna mengangkut manusia maupun barang dengan jarak yang jauh secara cepat.

Belum puas dengan mesin pesawat yang dirancang Wright bersaudara, tepat pada tahun 1905 seorang insinyur bernama Henri Conda dari Rumania mengembangkan mesin pesawat jet. Prinsip kerja mesin jet yang diterapkan pada pesawat adalah menghisap udara dari bagian depan mesin dan mengeluarkannya dengan laju tinggi dari bagian belakang mesin. Barulah pada abad ke-20, pesawat berukuran besar seperti Airbus dan Boeing mulai digunakan untuk penumpang.

Referensi:

https://www.utakatikotak.com/kongkow/detail/5177/Penemu-Kereta-Api-William-Murdoch

https://blog.ruangguru.com/sejarah-perkembangan-transportasi

 

 

Perkembangan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

 Adi Setiawan

 Pengertian Demokrasi Terpimpin : Ciri, Tujuan & latar Belakangnya

Sejak diberlakukannya kembali UUD 1945, dimulailah pelaksanaan ekonomi terpimpin, sebagai awal berlakunya herordering ekonomi. Dimana lat-alat produksi dan distribusi yang vital harus dimiliki dan dikuasai oleh Negara atau minimal di bawahpengawasan Negara. Kondisi ekonomi dan keuangan yang ditinggalkan dari masa demokasi liberal berusaha diperbaiki oleh Presiden Soekarno.

Kondisi ekonomi pada masa awal Demokrasi Terpimpin sangat terpuruk akibat pemberontakan-pemberontakan yang terjadi. Untuk mengatasi keadaan ekonomi pada masa ini, sistem ekonomi berjalan dengan sistem komando, di mana alat-alat produksi dan distribusi yang vital harus dimiliki dan dikuasai negara atau minimal di bawah pengawasan negara.

1. Pembentukan Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Upaya perbaikan perekonomian Indonesia dilakukan dengan pembentukan Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada 15 Agustus 1959 yang dipimpin Mohammad Yamin Dapernas kemudian menyusun program kerjanya berupa pola pembangunan nasional yang disebut sebagai Pola Pembangunan Semesta Berencana dengan mempertimbangkan faktor pembiayaan dan waktu pelaksanaan pembangunan. Pola Pembangunan Semesta dan Berencana terdiri atas Blueprint tripola yaitu proyek pembangunan, pola penjelasan pembangunan dan pola pembiayaan pembangunan.

Pada tahun 1963, juga dibentuk Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin Presiden Soekarno sebagai pengganti Depernas. Tugas Bappenas adalah menyusun rencana pembangunan jangka panjang maupun pendek.

2. Penurunan nilai uang

Untuk membendung inflasi dan mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, pada tanggal 25 Agustus 1950 pemerintah mengumumkan penurunan nilai uang. Gimana sih penurunan nilai uang tersebut? Sebagai contoh, untuk uang kertas pecahan Rp500 nilainya akan berubah menjadi Rp50 begitu seterusnya. Selain itu, semua simpanan di bank yang melebihi Rp25.000 akan dibekukan.

3. Melaksanakan Deklarasi Ekonomi (Dekon)

Pada tanggal 28 Maret 1963 dikeluarkan landasan baru bagi perbaikan ekonomi secara menyeluruh yaitu Deklarasi Ekonomi (Dekon). Tujuan dibentuknya Dekon adalah untuk menciptakan ekonomi yang bersifat nasional, demokratis, dan bebas dari imperialisme. Meski begitu, dalam pelaksanaannya Dekon tidak mampu mengatasi kesulitan ekonomi dan masalah inflasi, Dekon justru mengakibatkan perekonomian Indonesia stagnan. Masalah perekonomian diatur atau dipegang oleh pemerintah sedangkan prinsip-prinsip dasar ekonomi banyak diabaikan.

4. Pembangunan Proyek Mercusuar

Keadaan perekonomian semakin buruk karena pembengkakan biaya proyek mercusuar. Proyek Mercusuar Soekarno adalah proyek pembangunan ibukota agar mendapat perhatian dari luar negeri. Untuk memfasilitasi Ganefo (Games of the New Emerging Forces) sebagai tandingan dari Olimpiade, pemerintah membangun proyek besar seperti gedung CONEFO yang sekarang dikenal sebagai DPR, MPR, DPD DKI Jakarta, Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, pembangunan Monumen Nasional (Monas), dan pusat pertokoan Sarinah.

 

Referensi:

https://www.dosenpendidikan.co.id/sistem-ekonomi-di-masa-demokrasi-terpimpin/ 

https://blog.ruangguru.com/sejarah-kelas-12-kehidupan-indonesia-di-masa-demokrasi-terpimpin

Minggu, 27 September 2020

Perkembangan Teknologi (Hasil Budaya Zaman Pra-aksara)

Adi Setiawan

 √ Zaman Praaksara Indonesia (Pengertin, Pembagian, Peninggalan, Jenis)

 
Perkembangan Teknologi 
 
Sekalipun belum mengenal tulisan manusia purba sudah mengembangkan kebudayaan dan teknologi. Teknologi waktu itu bermula dari teknologi bebatuan yang digunakan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan. Dalam praktiknya peralatan atau teknologi bebatuan tersebut dapat berfungsi serba guna. Pada tahap paling awal alat yang digunakan masih bersifat kebetulan dan seadanya serta bersifat trial and eror. Mula-mula mereka hanya menggunakan benda-benda dari alam terutama batu. Teknologi bebatuan pada zaman ini berkembang dalam kurun waktu yang begitu panjang.

  

a. Zaman Batu Tua (Paleolitikum)

Disebut zaman batu tua karena alat-alat kebudayaan yang dihasilkan masih sangat kasar. Kebudayaan Paleolitikum di Indonesia ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong, maka sering disebut Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.

1) Kebudayaan Pacitan

Alat-alat kebudayaan Pacitan ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1935. Di daerah Pacitan banyak ditemukan alat-alat dari batu yang masih sangat kasar. Alat-alat tersebut berbentuk kapak, yakni kapak perimbas (chooper), karena tidak memakai tangkai maka disebut Kapak Genggam. Alat budaya Pacitan diperkirakan dari lapisan pleistosen tengah (lapisan Trinil); sedangkan pendukung kebudayaan tersebut ialah Pithecantropus Erectus.

2) Kebudayaan Ngandong

Di sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo (dekat Ngawi, Madiun, Jawa Timur) didapatkan banyak alat-alat dari tulang di samping kapak-kapak genggam dari batu. Alat-alat Kebudayaan Ngandong ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1941 dan yang banyak ditemukan alat-alat dari tulang (semacam alat penusuk = belati), dan tanduk rusa terutama di gua Sampung. Rupa-rupanya alat-alat ini untuk menorek ubi dan keladi dari dalam tanah. Ada juga alat-alat seperti ujung tombak dengan gigi-gigi pada sisinya, yang mungkin dipergunakan untuk menangkap ikan. Jenis alat ini ditemukan di lapisan pleistosen atas; sedangkan pendukung Kebudayan Ngandong adalah jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis

 

b. Zaman Batu Madya (Mesolitikum)

Sesuai dengan perkembangan penalarannya, zaman Mesolitikum ditandai dengan adanya kebudayaan kyokkenmodinger dan kebudayaan abris sous roche.

1) Kyokkenmoddinger

Suatu corak istimewa dari zaman Mesolitikum Indonesia ialah adanya peninggalan-peninggalan yang disebut dalam bahasa Denmark "kyokkenmoddinger". (kyokken = dapur, modding = sampah, jadi kyokkenmoddinger artinya sampah dapur). Sampah dapur tersebut dapat ditemukan di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut, di antara Langsa (Aceh) - Medan; yaitu berupa bukit atau tumpukan kerang dan siput yang tinggi dan panjang yang telah menjadi fosil. Di tempat yang sama ditemukan pula jenis kapak genggam (chooper) yang diberi nama pebble (kapak Sumatra)

2) Abris Sous Roche

Hasil penemuan kedua dari kebudayaan Mesolotikum adalah "abris sous roche" ialah gua yang dipakai sebagai tempat tinggal manusia pra sejarah. Gua-gua itu sebenarnya lebih menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberi perlindungan terhadap hujan dan panas. Di dalam dasar gua-gua itu didapatkan banyak peninggalan kebudayaan, dari jenis Paleolitikum sampai dengan Neolitikum, tetapi sebagian besar dari zaman Mesolitikum. Penelitian pertama terhadap abris sous roche dilakukan oleh Dr. P.V. Stein Callencels (1928-1931) di Gua Lawa dekat Sampung-Ponorogo, Madiun- Jawa Timur.

 

c. Zaman Batu Muda (Neolitikum)

Kebudayaan Neolitikum adalah kebudayaan batu baru, ciri-cirinya alatalatnya sudah dibuat dengan baik, diasah (diupam) dan halus. Masa ini merupakan masa bercocok tanam di Indonesia yang bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengasah (mengupam) alat-alat batu serta mulai dikenalnya teknologi pembuatan tembikar. Dengan demikian, masa ini telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, yakni perubahan dari kehidupan food gathering menjadi food producing. Hasil kebudayaan neolitikum, di antaranya ialah kapak persegi, kapak lonjong, alat serpih, gerabah, dan perhiasan .

 

d. Zaman Batu Besar (Megalitikum)

Pada masa ini manusia pra-aksara membuat benda-benda dengan ukuran besar. Benda-benda yang mereka buat ada hubungannya dengan kepercayaan manusia ra-aksara. Hasil-hasil budaya Megalitikum ialah sebagai berikut :

a.  Menhir, yaitu tugu dari batu tunggal. Fungsinya sebagai tanda peringatan suatu peristiwa atau sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang.

b.  Dolmen, yaitu meja batu, yang fungsinya sebagai tempat meletakkan sajian untuk pemujaan roh nenek moyang.

c.  Sarkofagus atau keranda yaitu peti batu besar bentuknya seperti palung/lesung dan diberi tutup. Fungsinya sebagai kuburan atau peti mayat.

d. Kubur Batu, yaitu kuburan dalam tanah dimana sisi samping, alas, dan tutupnya diberi semacam papan-papan dari batu. Fungsinya untuk mengubur mayat.

e.  Punden Berundak-undak, yaitu bangunan dari batu yang disusun bertingkat. Fungsinya sebagai pemujaan roh nenek moyang. Bangunan ini merupakan prototype (bentuk pendahuluan) dari candi.

f. Arca, yaitu bangunan dari batu. Ada yang berbentuk manusia dan yang berbentuk binatang (merupakan perwujudan dari roh nenek moyang).

g. Waruga, fungsinya sebagai kuburan atau peti mayat.

 

e. Zaman Logam

Zaman logam dibagi menjadi tiga zaman, yakni:

1. Zaman Tembaga

Pada masa ini manusia sudah mampu mengolah logam tembaga yang sesuai dengan bentuk-bentuk peralatan yang dibutuhkannya, seperti periuk, belanga dan sebagainya.

2. Zaman Perunggu

Pada masa ini manusia sudah mampu membuat peralatan dari perunggu. Perunggu merupakan logam campuran antara tembaga dengan timah.

3. Zaman Besi

Pada masa ini, alat-alat kehidupan manusia sudah meningkat lagi, disamping dibuat dari tembaga dan perunggu banyak sudah yang terbuat dari besi. Manusia telah dapat melebur biji-biji besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti mata kapak, mata pisau, tombak, cangkul dan sebagainya.

Di Indonesia peralatan logam yang ditemukan umumnya berasal dari zaman perunggu. Adapun cara pembuatannya ada dua teknik, yaitu :

a. Teknik bivolve, yaitu cetakan yang terdiri dari dua bagian, kemudian diikat dan ke dalam rongga dalam cetakan itu dituangkan perunggu cair. Cetakan tersebut kemudian dilepas dan jadilah barang yang dicetak.

b. Teknik a cire perdue (membuat model benda dari lilin). Benda yang akan dicetak dibuat dari lilin atau sejenisnya, kemudian dibungkus dengan tanah liat yang diberi lubang. Setelah itu dibakar, maka lilin akan meleleh. Rongga bekas lilin tersebut diisi dengan cairan perunggu; sesudah dingin perunggu membeku dan tanah liat dibuang maka jadilah barang yang dicetak.

 Hasil-hasil kebudayaan perunggu di antaranya:

1)   Nekara Perunggu, Nekara adalah semacam genderang dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, jadi kira-kira sama dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara yang ukurannya kecil disebut moko, yang berfungsi sebagai mas kawin.

2) Kapak Corong, Kapak Corong bentuk bagian tajamnya seperti kapak batu, hanya bagian tangkainya berbentuk corong. Kapak Corong yang memiliki panjang satu sisi disebut candrasa, bentuknya sagat indah dan penuh hiasan. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan alat upacara keagamaan.

3) Bejana Perunggu, Bejana ditemukan di tepi Danau Kerinci dan di Madura bentuknya seperti periuk, tetapi langsung dan gepeng.

4) Arca-arca Perunggu, Arca Perunggu yang ditemukan berupa arca yang menggambarkan orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, dan ada yang sedang memegang panah.

5) Perhiasan Perunggu, Selain Kapak Corong dan Nekara banyak pula benda-benda lainnya dari zaman perunggu yang didapatkan, sebagian besar berupa barang-barang perhiasan, seperti gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung, dan cincin.

6) Candrasa, Kapak perunggu yang digunakan sebagai sarana upacara keagamaan.

 

Mengenal Api

Bagi manusia purba, proses penemuan api merupakan bentuk inovasi yang sangat penting. Berdasarkan data arkeologi, penemuan api kira-kira terjadi pada 400.000 tahun yang lalu. Penemuan pada periode manusia Homo erectus. Api digunakan untuk menghangatkan diri dari cuaca dingin. Dengan api kehidupan menjadi lebih bervariasi dan berbagai kemajuan akan dicapai. Teknologi api dapat dimanfaatkan manusia untuk berbagai hal. Di samping itu penemuan api juga memperkenalkan manusia pada teknologi memasak makanan, yaitu memasak dengan cara membakar dan menggunakan bumbu dengan ramuan tertentu. Manusia juga menggunakan api sebagai senjata. Api pada saat itu digunakan manusia untuk menghalau binatang buas yang menyerangnya. Api dapat juga dijadikan sumber penerangan. Melalui pembakaran pula manusia dapat menaklukkan alam, seperti membuka lahan untuk garapan dengan cara membakar hutan.

 

Sebuah Revolusi

Perkembangan zaman batu yang dapat dikatakan paling penting dalam kehidupan manusia adalah zaman batu baru atau neolitikum. Pada zaman neolitikum yang juga dapat dikatakan sebagai zaman batu muda. Pada zaman ini telah terjadi “revolusi kebudayaan”, yaitu terjadinya perubahan pola hidup manusia. Pola hidup food gathering digantikan dengan pola food producing. Hal ini seiring dengan terjadinya perubahan jenis pendukung kebudayannya. Pada zaman ini telah hidup jenis Homo sapiens sebagai pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dan beternak sebagai proses untuk menghasilkan atau memproduksi bahan makanan. Hidup bermasyarakat dengan bergotong royong mulai dikembangkan. Hasil kebudayaan yang terkenal di zaman neolitikum ini secara garis besar dibagi menjadi dua tahap perkembangan.

1) Kapak Persegi

Nama kapak persegi itu berasal dari von Heine Geldern, berdasarkan kepada penampang alang alat-alatnya, yang berupa persegi panjang atau juga berbentuk trapesium. Kapak persegi kebanyakan terbuat dari batu api yang keras atau chalsedon, bentuknya persegi panjang atau trapesium. Ada berbagai ukuran yang besar ialah beliung atau cangkul untuk mengerjakan sawah, sedangkan yang kecil ialah tarah untuk mengerjakan kayu. Pemakaiannya tidak lagi digenggam, melainkan telah mempergunakan tangkai kayu sehingga memberikan kekuatan yang lebih besar. Daerah penemuan kapak persegi pada umumnya di Indonesia bagian barat, seperti di Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Kerawang, Tasikmalaya, dan Pacitan. Sebab, penyebaran kapak persegi dari daratan Asia ke Indonesia melalui jalur barat (Sumatra-Jawa-Bali-Nusa Tenggara- Sulawesi). Adapun pusat pembuatannya antara lain di Lahat, Palembang, Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pacitan. Jenis lain dari kapak persegi yang ada di daratan Asia (Jepang, Filipina), tetapi tidak ada di Indonesia ialah kapak pahu.

2) Kapak Lonjong

Nama kapak lonjong di dasarkan atas penampang alangnya yang berbentuk lonjong, dan bentuk kapaknya bulat telur. Ujungnya yang runcing untuk tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah hingga tajam. Ada dua macam kapak lonjong, yaitu Walzenbeil (yang besar) yang banyak ditemukan di Irian sehingga sering dinamakan Neolitikum Papua, dan Kleinbeil (yang kecil) banyak ditemukan di kepulauan Tanimbar dan Seram. Sampai abad ke-20, kapak lonjong masih digunakan di Irian Jaya terutama di daerah terpencil dan terasing. Di luar Indonesia kapak lonjong banyak ditemukan di Birma, Cina, dan Jepang, sehingga dapat diperkirakan penyebaran kapak lonjong melalui Indonesia Timur, yaitu daratan Asia-Jepang-Philipina-Minahasa-Irian Jaya.

 

Konsep Ruang pada Hunian (Arsitektur)

Bentuk arsitektur pada masa pra-aksara dapat dilihat dari tempat hunian manusia pada saat itu. Mungkin kita sulit membayangkan atau menyimpulkan bentuk rumah dan bangunan yang berkembang pada masa pra-aksara saat itu. Dari pola mata pencaharian manusia yang sudah mengenal berburu dan melakukan pertanian sederhana dengan ladang berpindah memungkinkan adanya pola pemukiman yang telah menetap. Gambar-gambar dinding goa tidak hanya mencerminkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga kehidupan spiritual. Cap-cap tangan dan lukisan di goa yang banyak ditemukan di Papua, Maluku, dan Sulawesi Selatan dikaitkan dengan ritual penghormatan atau pemujaan nenek moyang, kesuburan, dan inisiasi. Gambar dinding yang tertera pada goa-goa mengambarkan pada jenis binatang yang diburu atau binatang yang digunakan untuk membantu dalam perburuan. Anjing adalah binatang yang digunakan oleh manusia pra-aksara untuk berburu binatang.

 

Bentuk pola hunian dengan menggunakan penadah angin, menghasilkan pola menetap pada manusia masa itu. Pola hunian itu sampai saat ini masih digunakan oleh Suku Bangsa Punan yang tersebar diKalimantan. Bentuk hunian itu merupakan bagian bentuk awal arsitektur di luar tempat hunian di goa. Secara sederhana penadah angin merupakan suatu konsep tata ruangan yang memberikan secara implisit memberikan batas ruang. Pada kehidupan dengan masyarakat berburu yang masih sangat tergantung pada alam, mereka lebih mengikut ritme dan bentuk geografis alam. Dengan demikian konsep ruang mereka masih kurang bersifat geometris teratur. Pola garis lengkung tak teratur seperti aliran sungai, dan pola spiral seperti route yang ditempuh mungkin adalah citra pola ruang utama mereka. Ruang demikian belum mengutamakan arah utama. Secara sederhana dapatlah kita lihat bahwa, pada masa praaksara konsep tata ruang, atau yang saat ini kita kenal dengan arsitektur itu sudah mereka kenal.

 

 

 

 

 

Ketakutan terhadap Malaria di Oosthaven

              Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan                                         ...

Populer