Rabu, 11 April 2018

SAAT SOETOMO DIANCAM DROP-OUT


SAAT SOETOMO DIANCAM DROP-OUT


Oleh : Adi Setiawan
Guru Sejarah SMAN 1 Sekampung Lampung Timur 
email: adiabuuwais@gmail.com



Bagi bangsa Indonesia tanggal 20 Mei adalah suatu momentum yang mengingatkan pada lahirnya organisasi pergerakan Budi Utomo di tahun 1908. Budi Utomo merupakan sebuah  organisasi yang bercita-cita memajukan pendidikan, khusus bagi golongan priyayi Jawa. Munculnya Budi Utomo tidak lepas dari figur Dr. Wahidin Soedirohoesodo, seorang dokter sekaligus priyayi Jawa yang memiliki harapan tentang pendidikan bagi anak-anak di pulau Jawa kala itu.

Sebelum Budi Utomo lahir, Wahidin mencoba menarik kalangan priyayi agar mereka turun tangan dalam bidang pendidikan, yakni dengan memberikan bantuan keuangan –studiefonds- bagi anak-anak di Jawa. 

Nampaknya harapan dari Wahidin saat itu belum mendapat sambutan positif dari para priyayi. Hingga pada 1907 ia terus melakukan kampanye tentang pentingnya dana pendidikan, Wahidin kemudian singgah di Batavia. Di kota ini Wahidin berjumpa dengan kalangan pemuda progresif dari lembaga sekolah dokter Jawa –STOVIA- diantaranya adalah Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeradji, dan Soewarno.

Ide Wahidin tentang perlunya studiefonds kemudian memberikan pengaruh bagi dua orang mahasiswa STOVIA yakni Soetomo dan Soeradji. Mereka terkesan dengan penjelasan Wahidin. Ketika berpamitan hendak melanjutkan kampanye studiefonds ke Banten, Soetomo menyatakan kepada Wahidin, “Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utomi.

Kalimat tersebut memiliki arti “ini merupakan perbuatan baik serta mencerminkan keluhuran budi.” Soeradji menangkap dua patah kata ucapan Soetomo terakhir untuk menjadi nama organisasi mereka, demikian tulis Gamal Komandaka dalam Boedi Oetomo Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa.

Budi Utomo secara resmi lahir pada 20 Mei 1908. Namun sebenarnya organisasi ini bukanlah organisasi pertama di Hindia Belanda kala itu. Sebelum Budi Utomo setidaknya ada beberapa organisasi seperti Tiong Hoa Hwee Koan yang dibentuk orang-orang China, Madiwara, Suria Sumirat, dan Al- Jam’iyat al Khairiyah yang didirikan orang-orang Arab.

Organisasi Budi Utomo yang dibentuk oleh sekelompok mahasiswa STOVIA, kemudian sempat mendapat tentang dari guru-guru STOVIA. Beberapa guru STOVIA merasa risau melihat Soetomo dan kawan-kawannya lebih aktif dalam Budi Utomo. Itu sebabnya para guru STOVIA pernah mengancam akan mengeluarkan Soetomo dari STOVIA dan menuduh Soetomo berusaha melawan pemerintah kolonial, tulis Gamal Komandaka.

Dalam Kenang-kenangan 1933, Sotomo mengisahkan;  “Sekali peristiwa saya hampir-hampir dikeluarkan dari sekolah dokter itu, oleh karena kedudukan saya sebagai ketua organisasi kami. Sementara guru menuduh saya hendak berusaha melawan pemerintah. Menjawab tuduhan ini, atas usul Goenawan, teman-teman kami pun minta agar mereka juga dikeluarkan jika saya keluar.”

Untungnya ancaman drop-out tersebut tak sempat jadi kenyataan, Soetomo dan kawan-kawan masih diizinkan menjadi mahasiswa STOVIA. Hal ini bisa jadi karena pemerintah kolonial saat itu belum begitu yakin tentang kegiatan-kegiatan Budi Utomo. Pemerintah masih meraba-raba apakah Budi Utomo adalah sebuah organisasi radikal atau organisasi moderat. Di sini jelas bahwa pemerintah kolonial saat itu belum dapat memvonis garis politik organisasi Budi Utomo, apalagi menyangkut tindakan yang harus diberikan bagi para pengurus organisasi ini.

Namun sejarah berkata lain, Soetomo dan kawan-kawan yang “lolos” ancaman drop-out dari guru-guru STOVIA. Mereka mendapat kenyataan, bahwa terjadinya kongres pertama di Yogyakarta di awal Oktober 1908, adalah sebuah pil pahit bahi Soetomo dan para mahasiswa STOVIA. Pasal, dalam kongres tersebut mereka tersingkir dari Badan Pengurus Budi Utomo. 

Dari sembilan nama pada pengurus Budi Utomo semuanya diduduki oleh para priyayi tua dan tanpa memberikan satu tempat duduk pun bagi pengurus lama yang sebelumnya adalah para mahasiswa STOVIA. Soetomo dan kawan-kawannya merasa dikeluarkan dari “perahu” Budi Utomo, hingga kemudian secara terpaksa mereka harus meninggalkan kegiatan di organisasi tersebut. Setelah keluar dari kepengurusan Budi Utomo mereka kemudian lebih fokus di bangku STOVIA, suatu perguruan  yang kemudian menghantarkan mereka meraih titel Dokter Jawa.

Disusun Oleh : Adi Setiawan
Kamis, 18 Mei 2017

BERAS BERKURANG GAPLEK PUN JADI


BERAS BERKURANG GAPLEK PUN JADI

Oleh : Adi Setiawan
Guru Sejarah SMAN 1 Sekampung Lampung Timur
email : adiabuuwais@gmail.com

Pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun terasa berat karena berbagai kebijakan yang menindas rakyat Indonesia. Fokus utama dari pendudukan Jepang di Indonesia diantaranya adalah menciptakan ekonomi yang mengarah pada pemenuhan kebutuhan bagi pasukannya dalam Perang Pasifik. Jepang menyadari bahwa kepastian kemenangan di Asia-Pasifik, harus perlu dukungan dari wilayah Indonesia yang menghasil sumberdaya alam berlimpah.

Maka setelah Jepang berhasil mengambil-alih Indonesia dari Belanda, Jepang berusaha melaksanakan kebijakan-kebijakan yang orientasinya untuk menyokong kemenangannya di Asia-Pasifik. Untuk  menarik hati rakyat Jepang melakukan propaganda-propaganda. Saudara Tua mengambil hati rakyat Indonesia agar mau menyokong kepentingannya tersebut.

Di sisi lain Pemerintah Jepang saat itu juga melakukan kewajiban penyerahan wajib berupa padi. Aiko Kurasawa menulis bahwa adanya wajib serah padi ini berimplikasi terhadap pasar beras bebas sama sekali dilarang, dan petani diharuskan untuk menyerahkan sejumlah tertentu dari hasil panen mereka kepada pemerintah.

Untuk menangani wajib serah padi, Pemerintah Jepang kemudian membentuk Badan Pengelola Pangan atau Shokuryo Kanri Zimusyo yang kemudian berubah menjadi Zyuuyoo Bussi Kodan. Pelaksanaan pengumpulan padi tentu tidak hanya dilakukan oleh orang Jepang sendiri. “Mereka juga melibatkan pejabat-pejabat lokal seperti Kencho (Bupati), Guncho, Soncho (camat), dan Kuncho (kepala desa),” tulis Julianto Ibrahim dalam Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan.

Menurut Aiko Kurasawa dalam Kuasa Jepang Di Jawa Perubahan Sosial Di Pedesaan 1942-1945, bahwa praktek di lapangan seorang Kuncho merekrut seseorang untuk membantunya mengelola dan menjalankan kewajiban ini. Mereka yang ikut membantu Kuncho seperti pamong desa, terutama sekretaris desa, atau para tengkulak padi. Seiring berjalannya waktu mekanisme penyerahan padi kemudian pada tahun 1944 di beberapa keresidenan, pengumpulan padi dipercayakan kepada  koperasi-koperasi pertanian yang baru dibentuk. Jenis koperasi ini disebut dengan istilah nogyo kumiai yang secara harfiah berarti koperasi pertanian.

Adanya keperluan pangan yang cukup tinggi dari pemerintah untuk disalurkan untuk prajurit Jepang di medan peperangan serta kebutuhan pangan bagi romusha memaksa pemerintah Jepang berpikir keras untuk memenuhinya. Pasalnya tidak semua produksi padi dapat mencukupi kebutuhan tersebut. Sebagai solusi, pemerintah Jepang kemudian menutupi kekurangan beras bagi romusha dengan produksi palawija seperti jagung dan kacang-kacangan.  

Perubahan iklim dan adanya serangan hama kemudian berdampak pada produksi pertanian, terutama padi. Seiring dengan semakin menurunya produksi padi, maka gaplek dianggap sebagai alternatif terbaik untuk menutupi kekurangan tersebut. Badan yang mengurusi pengumpulan gaplek dari Wonogiri dan sekitarnya Mitsui Bussan Kabushiki Khaisa dan Mangkunegaran Kooti Soomutyokan memperkirakan panenan gaplek di Wonogiri Ken pada tahun 1944 sebesar 100 ribu ton di atas tanah seluas 50 ribu hektar.  Dari produksi tersebut, penduduk Wonogiri wajib menyerahkan 10.000 ton kepada pemerintah. 

Akibat dari penyerahan gaplek kepada pemerintah, banyak penduduk Wonogiri yang mengalami kekurangan makanan. Harga gaplek melejit dari angka Rp. 2 menjadi Rp. 20 per kwintal. “Hingga penduduk terpaksa memakan “sesuatu” yang tidak layak untuk dimakan seperti bonggol  pisang dan bonggol sente yang gatal,” tulis Julianto Ibrahim.

(Oleh : Adi Setiawan Kamis, 21 April 2017)

“Buah Roti ” dan Ekspedisi Magelhaens


“Buah Roti ” dan Ekspedisi Magelhaens

 


Oleh : Adi Setiawan
Guru Sejarah SMAN 1 Sekampung Lampung Timur 
email: adiabuuwais@gmail.com
 

Breadfruit siapa yang tidak kenal buah yang satu ini. Kita orang Indonesia mengenalnya dengan nama buah sukun. Tentu olahan dari bahan dasar sukun pernah kita konsumsi. Siapa sangka ternyata buah yang tumbuh subur di negeri kita ini memiliki kaitan sejarah dengan penjelajahan samudera yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Orang Eropa yang berlayar ke Timur tentu maksud utamanya adalah mencari rempah-rempah, bukan untuk menemukan buah sukun. Namun sejarah telah menulis bahwa bukan hanya tanaman rempah-rempah yang bernilai berharga bagi bangsa Eropa, tetapi sukun pun juga buah yang berharga bagi ekspedisi Magelhaens.

Penjelajahan samudera yang dilakukan Magelhaens beserta awak kapalnya tentu telah tertulis dalam buku sejarah dunia. Ferdinand Magelhaens beserta rombongan diutus oleh Charles I untuk melakukan pelayaran ke Kepulauan Rempah dengan mengambil rute sebelah barat menyusuri Samudra Atlantik.
Alasan Magelhaens mengambil rute sebelah barat adalah adanya keinginan yang kuat untuk sampai di Kepulauan Rempah namun bukan melalui jalur timur dengan melewati Tanjung Harapan, Afrika. Ia beserta rombongan berharap bisa sampai di Kepulauan Rempah dengan jalur barat tersebut, yang sebelumnya gagal dilakukan oleh Colombus.

Adalah penguasa Spanyol, Charles I yang memberikan “modal” bagi pelayaran Magelhaens tersebut. Dalam pelayaran tersebut, Magelhaens menggunakan lima buah kapal yang masing-masing bernama San Antonio, Concepcion, Victoria, Santiago dan Trinidad. Pada 20 September 1519 kelima kapal tersebut lepas jangkar menuju Amerika Selatan.

Pada pertengahan  bulan Desember 1519, rombongan berhasil mencapai Brazil, setelah mengisi perbekalan rombongan kembali berlayar menyusur pantai timur Amerika Selatan.
Pelayaran yang cukup melelahkan dan memakan waktu yang lama tersebut, membuat beberapa awak kapal putus asa. Pasalnya rombongan tersebut belum juga menemukan selat yang mereka yakini sebagai pembuka jalan ke Kepulauan Rempah. 

Dalam kondisi yang tidak meyakinkan, rombongan Magelhaens harus berjuang melawan cuaca dingin. Bagi awak kapal yang putus asa mulai timbul niat untuk pulang ke Eropa. Namun hal itu urung terjadi setelah Magelhaens dapat meyakinkan mereka.
Dengan tiga kapal tersisa, setelah kapal San Antonio dan Santiago karam akibat gelombang, rombongan berusaha mencari rute pasti agar sampai ke Kepulauan Rempah. Apa yang selama ini mereka cari akhirnya mulai terlihat. Ya sebuah selat yang mereka lihat! Selat El-Paso namanya.

Setelah berhasil membelah Selat El-Paso mereka disambut oleh samudera yang sedemikian tenang. Samudera itu adalah Samudera Pasifik. Walaupun keadaan gelombong jauh lebih tenang, akan tetapi Samudera Pasifik menjadi lawan yang tanggung pula buat rombongan Magelhaens. Mereka tidak menyangka jika laut yang sedemikian tenang yang mereka karungi itu belum juga menunjukan sebuah daratan. Hingga mereka berpikir seolah-olah laut ini tak bertepi.

Dalam buku berjudul Sukun Solusi Alternatif Atasi Krisis Pangan dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, tertulis bahwa rombongan Magelhaens mulai kehabisan perbekalan makanan, semakin lapar, dan semakin banyak yang sakit lalu mati. Antonio Pigafetta, seorang wak kapal Italia yang ikut dalam ekspedisi Magelhaens, menuliskan “....Hari Rabu, tanggal 28 November 1520, kami memasuki Laut Pasifik. Kegembiraan telah berganti menjadi penderitaan. Selama berbulan-bulan, kami belum mingisi perbekalan sedikitpun. Kami hanya makan biskuit busuk yang telah menjadi remahan halus yang penuh dengan belatung dan berbau amat busuk akibat kotoran tikus di atasnya. Kami juga terpaksa meminum air yang berwarna kuning dan berbau busuk. Kami bahkan terpaksa memakan kulit sapi, sebuk gergaji dan tikus-tikus kapal yang masing-masing berharga setengah keping emas yang tidak dapat kami tangkap....”.

Pada 6 Maret 1521, rombongan sampai di daratan bagian barat Samudra Pasifik yang sekarang bernama Kepulauan Marianas dan Guam. Di pulau-pulau itulah rombongan Magelhaens mendapatkan rezeki berupa buah berbentuk bulat atau yang oleh masyarakat Indonesia sebut buah Sukun.

Dengan memakan buah sukun inilah rombongan Magelhaens berhasil bertahan hingga mereka dapat berlabuh di Filipina. Walaupun Magelhaens tidak dapat kembali ke Eropa karena ia terbunuh oleh Suku Mactan (suku asli Filipina), namun pelayaran rombongan Magelhaens membuahkan hasil.
Rombongan yang dapat kembali ke Eropa memperkenalkan buah sukun kepada masyarakat di Eropa. Hingga mulai diperbincangkannya oleh para ahli botani tentang buah sukun yang memiliki rasa dan aroma seperti roti yang kemudian dikenal dengan nama Breadfruit oleh warga masyarakat Eropa.

Referensi : Widoyoko, Yoyok dkk. 2010. Sukun Solusi Alternatif Atasi Krisis Pangan dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim. Jakarta : Gibon Media Group

(Oleh Adi Setiawan, Jum’at 07 April 2017)

67 Sebuah Bedeng di Antara 67 Bedeng : Jejak Kolonisasi di Lampung



67 Sebuah Bedeng di Antara 67 Bedeng : Jejak Kolonisasi di Lampung

Oleh : Adi Setiawan
Guru Sejarah SMAN 1 Sekampung Lampung Timur 
email: adiabuuwais@gmail.com

Bukti-bukti adanya kolonialisme Belanda di Indonesia hingga kini masih tersisa di sebagian penjuru Nusantara. Keberadaannya ada yang berupa peninggalan fisik berupa arsitektur seperti gedung, jembatan, jalan dan lain-lain. Juga ada pula peninggalan berupa budaya-sosial di masyarakat. Hal ini memang tak mengherankan, jika Belanda yang telah bertahan di Indoneia lebih dari 300 tahun itu, banyak memberikan pengaruh bagi masyarakat Indonesia. 

Dalam beberapa kebijakan, pemerintah kolonial Belanda menaruh perhatian pada aspek kependudukan. Tercatat dalam sejarah, pada tahun 1900-an di Hindia Belanda (nama Indonesia pada saat itu) pernah digulirkan sebuah kebijakan yang disebut dengan Politik Etis. Politik Etis sendiri muncul dari ide seorang Belanda yang bernama C.Th van Deventer. Ide yang kemudian disetujui oleh Ratu Belanda tersebut muncul sebagai wujud keinginan van Deventer kepada bangsa Belanda agar memberikan balas budi bagi bangsa Indonesia yang telah memberikan kesejahteraan bagi negeri Belanda.

Politik Etis yang dicetuskan van Deventer memiliki tiga unsur atau yang sering disebut Trilogi van Deventer. Trilogi tersebut adalah edukasi (pendidikan), irigasi (pengairan), dan transmigrasi (pemindahan penduduk). Yang disebut terakhir ini muncul atas pertimbangan jumlah penduduk di Hindia Belanda yang kurang merata. Jawa sebagai pulau yang luasnya kurang dari setengah luas pulau Kalimantan harus menampung penduduk yang luar biasa jumlahnya. Akan tetapi pulau-pulau lain di Hindia Belanda, jumlah penduduk masih relatif sedikit. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pemerintah kolonial Belanda setuju untuk mengadakan pemindahan penduduk keluar Jawa. Apalagi disertai dengan kepentingan Pemerintah Kolonial untuk membuka hutan-hutan di luar Jawa, yang diorientasikan sebagai onderneming, maka pemindahan penduduk ke luar Jawa adalah hal yang cukup diperlukan.

Transmigrasi yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda pada tahap awal memilih Lampung sebagai daerah tujuan. Pemindahan penduduk untuk pertama kali dilakukan dari Jawa ke Lampung terjadi pada tahun 1905. Penduduk yang dipindahkan ditahap awal ini berasal dari Karesidenan Kedu Jawa Tengah. Kolonisasi pertama di Lampung ini ditempatkan di daerah Gedong Tataan.

Wilayah Lampung yang luas dan masih berupa hutan belukar tentu menyimpan nilai ekonomis perlu dikembangkan menjadi daerah pertanian dan perkebunan. Atas hal ini pemerintah kolonial Belanda lebih mengintensifkan pemindahan penduduk dari Jawa ke Lampung.  Keberhasilan kolonisasi tahap awal di Lampung tersebut juga menjadi patokan pemerintah kolonial Belanda untuk melakukan transmigrasi lebih lanjut.

Di antara sekian kolonisasi yang ada di Lampung terjadi di wilayah antara sungai Way Sekampung dan Way Raman. Proyek kolonisasi tersebut diebut dengan Proyek Kolonisasi Gedong Dalem. Di wilayah ini pemerintah kolonial Belanda menempatkan penduduk dari Jawa untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan. Dalam pelaksanaan kolonisasi di wilayah ini, pemerintah kolonial Belanda membagi daerah-daerah kolonisasi menjadi 70 bedding (bedeng). Ke-70 bedeng tersebut dikelompokan ke dalam beberapa asisten kawedanan seperti asisten kawedanan Trimurjo, asisten kawedanan Pekalongan, asisten kawedanan Batanghari dan asisten kawedanan  Sekampung. Untuk asisten kewedanan Sekampung sendiri terdiri dari bedeng 53 sampai bedeng 70, walaupun dalam perjalanannya diantara bedeng-bedeng tersebut ada yang tidak mampu bertahan seperti bedeng 68, 69 dan 70.

Tulisan ini mencoba untuk menelisik tentang pelaksanaan kolonisasi di wilayah Lampung dengan ruang lingkup kolonisasi di bedeng 67. Daerah kolonisasi yang kini telah menjelma menjadi sebuah desa, dengan penduduk yang telah mengikuti perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahannya. Walaupun demikian perubahan itu sepatutnya tidak melupakan  sejarahnya. Melalui tulisan inilah, penulis ingin mendokumentasikan ingatan kolektif masyarakat bedeng 67 tentang kolonisasi para pendahulunya.  

Bedeng 67 yang memiliki nama lain desa Girikarto, kini masuk ke dalam kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur itu mayoritas berpenduduk suku Jawa. Saat pembentukannya, di bedeng 67 suku Jawa yang datang berasal dari berbagai daerah yang ada di Pulau Jawa seperti Wonogiri dan Yogyakarta. Nama Girikarto diambil dari dua kata yakni kata Giri yang berarti Gunung dan kata Karto yang berarti sejahtera atau makmur. Kata Giri disinyalir diambil dari kata Wonogiri, daerah asal kolonis. Hal ini seperti ini barangkali juga dijumpai pada penamaan bedeng yang lain, sebagai contoh adalah bedeng 61 yang bernama Wonokarto. Wonokarto, yang berasal dari kata Wono dan Karto. Sepertinya penamaan bedeng tersebut juga masih berkaitan erat dengan tempat asal kolonis. 
Salah satu mantan warga kolonis di bedeng 67 adalah Mbah Redo. Ia datang ke Lampung bersama keluarganya. Menurut penuturannya, Ia berasal dari Janggan, Bantul Yogyakarta (menurut cerita yang ia sampaikan kepada penulis tempat tinggalnya di Bantul berdekatan dengan Pabrik Gula Gesikan).
Kedatangan para kolonis ke Lampung tidak terlepas dari kondisi kehidupan ekonomi  di Pulau Jawa, yakni ada sebagian kolonis yang tidak memiliki lahan, sehingga saat ditawari untuk pindah ke Lampung mereka setuju. Begitupun dengan Ardjodinomo (ayah dari Mbah Redo), ia juga tidak memiliki lahan bercocok tanam. Di tempat asal ia hanya bekerja sebagai buruh tani. Saat ditawari untuk pindah ke Lampung ia menyetujui. Hingga akhirnya ia memboyong istri dan ketiga anaknya untuk berhijrah ke Lampung.

Masih berdasarkan penuturan Mbah Redo, saat para calon kolonis akan diberangkatkan ke Lampung. Mereka dikumpulkan di kelurahan, kemudian setelah siap mereka naik pra oto (sejenis mobil truk) lalu naik kereta api, kemudian naik kapal menyeberangi Selat Sunda. Kapal yang membawa calon kolonis saat itu berlabuh di Pelabuhan Panjang, kemudian para calon kolonis ini diberi peralatan bertani  seperti pacul dan gancu/dandan hingga kemudian para calon kolonis kembali naik pra oto untuk diantar ke daerah kolonisasi.

Kembali dari penuturan Mbah Redo, bahwa para calon kolonis yang dibawa pra oto tadi tidak diantar sampai ke bedeng 67. Tetapi mereka diturunkan di Sekampung (bedeng 56). Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju bedeng 67 dengan rute melewati bedeng 58 dan bedeng 61. Sesampainya di bedeng 67 mereka dikumpulkan di kelurahan dengan luruhnya saat itu bernama Joyo Wiryo (perlu penulis beritahukan bahwa saat kedatangan Mbah Redo di bedeng 67, sudah terdapat kolonis yang datang lebih awal, jadi kolonis seperti Mbah Redo bukan kolonis angkatan pertama di bedeng 67). 

Saat Mbah Redo datang, di bedeng 67 telah terdapat keluarga-keluarga kolonis yang datang lebih awal. Sehingga para kolonis seperti Mbah Redo karena belum memiliki tempat tinggal mereka ditampung dirumah keluarga-keluarga kolonis yang datang lebih awal tersebut. Mbah Redo saat itu ditampung atau istilahnya mondok dirumah Pak Marto, rumah itu beratap welit dan dindingnya terbuat dari klitok/kulit kayu.

Mbah Redo menuturkan saat kedatangannya di bedeng 67, para kolonis yang datang lebih awal telah bercocok tanam. Salah satunya adalah menanam jenis padi gogo. Lahan yang diusahakan sebagai lahan bercocok tanam saat itu masih belum luas. Pada umumnya bedeng 67 masih berupa hutan lebat. Sehingga belum sepenuhnya lahan yang sekarang terbagi menjadi 4 dusun tersebut, dijadikan pemukiman. Di bedeng 67 saat pertama kali dibentuk kolonisasi terbagi menjadi dua kolompok kolonis, kelompok pertama berada di sebelah barat (jika sekarang berada di dusun 67A, sekitar perbatasan antara bedeng 67A dan bedeng 61B), dan kelompok kedua berada di sebelah timur (jika sekarang berada di dusun 67 polos perbatasan dengan Kota Tengah). Sedangkan untuk dusun 67 Badran dan 67 B masa itu masih berupa hutan (kedua dusun ini terbentuk setelah adanya proyek transmigrasi dari Pemerintah Republik Indonesia/setelah kemerdekaan).

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, dan dimulainya perang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman pasukan Belanda. Di bedeng 67 walaupun tidak terjadi peperangan namun ada sebagian warganya yang turut berjuang dan menjadi sukarelawan perang. Konon certitanya dalam salah satu kesempatan, pernah terjadi patroli dari tentara Belanda di bagian barat bedeng 67 tepatnya di perbatasan bedeng 67A dengan bedeng 61B. Patroli tersebut adalah untuk mencari para pejuang. Dari penuturan Mbah Redo, jika ada patroli tentara Belanda maka kaum laki-laki segera meninggalkan kampung untuk bersembunyi.
Pada masa peperangan dengan Belanda, terjadi penembakan terhadap sukarelwan perang dari bedeng 67. Sukarelwan tersebut bernama Gino, kronologi kejadian tersebut adalah saat Gino yang hendak mengantar makanan kepada para pejuang kemerdekaan bertemu dengan tentara Belanda di Tanjung Kari (sekarang masuk kecamatan Marga Tiga). Belanda yang curiga, kemudian menembak Gino yang membawa makanan tersebut. Gino pun gugur sebagai sukarelawan perang. Jenazahnya di makamkan di pemakaman umum bedeng 67. Kini untuk menghormati jasanya setiap tanggal 11 September (tanggal 11 September diyakini sebagai hari jadi Desa Girikarto) dilakukan tabur bunga di makamnya dan makam para pendiri desa. 

Dalam perkembanganya bedeng 67 yang hampir 100% penduduknya beretnis Jawa tersebut, mengembangkan ekonomi dari pertanian. Pada awalnya masyarakat bercocok tanam palawija juga jenis padi gogo. Maklum pada awal terbentuknya bedeng 67 belum memiliki sistem irigasi. Namun untuk saat ini pertanian didominasi dengan pertanian padi sawah saat musim tanam rendeng dan gadu dan bertanam palawija selepas panen padi sawah (saat musim kemarau). Pada masa lalu, selain bercocok tanam, masyarakat di bedeng 67 khususnya di dusun 67 Badran juga mengusahakan kerajinan genteng. Genteng dari 67, dulu cukup dikenal  dan diminati di kecamatan Sekampung dan sekitarnya, namun kini eksistensinya meredup dan banyak perajin genteng beralih cetak bata.

Dari pemerintahan desa, dari mulai awal terbentuknya hingga kini di bedeng 67 setidaknya sudah beberapa kali berganti kepala desa, diantaranya :
1.      Joyo Wiryo
2.      Suro Wiyono
3.      Dulah
4.      Parno
5.      Sarno
6.      Purwanto
7.      Sudiyanto
8.      Sugiyatmi

Demikianlah tulisan singkat tentang kolonisasi di bedeng 67 semoga dapat memberikan informasi kepada pembaca. Penulis menyadari pada tulisan ini masih banyak kekurangan baik dari sistematika penulisan maupun literatur. Penulis sangat berharap pada masyarakat, khususnya yang mengetahui sejarah bedeng 67 untuk dapat berkontribusi dalam penulisan sejarah perkembangan bedeng 67 (desa Girikarto).

Disusun Oleh : Adi Setiawan (Guru Sejarah SMA N 1 Sekampung Lampung Timur)
Sabtu, 25 Maret 2017

Ketakutan terhadap Malaria di Oosthaven

              Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan                                         ...

Populer