Minggu, 08 Desember 2024

Setelah Pasukan Belanda Menguasai Pelabuhan Panjang

Pelabuhan Panjang adalah pelabuhan penting yang ada di Teluk Lampung. Ketika pasukan Belanda melakukan serangan di Lampung mereka mengawalinya dengan serangan di Pelabuhan Panjang. Bagaimanakah yang terjadi setelah pasukan Belanda menguasai Pelabuhan Panjang.

Oleh: Adi Setiawan

Ilustrasi Perang Kemerdekaan (Sumber: Klausa.co)


Pada tulisan-tulisan sebelumnya telah dibahas mengenai pendaratan pasukan Belanda di Lampung yang dimulai dengan serangan terhadap Pelabuhan Panjang. Serangan yang terjadi pada 1 Januari 1949 tersebut lantas berakibat pada penguasaan Belanda terhadap daerah-daerah sekitar Panjang. Daerah Teluk Betung dan Tanjung Karang menjadi daerah terdekat yang dikuasai oleh Belanda.

Pasukan TNI berupaya keras untuk mempertahankan dua daerah ini. Namun kondisi yang sulit membuat pemerintah daerah Lampung mengubah taktik perlawanan. Pemerintah daerah Lampung kemudian melakukan perang gerilya di daerah-daerah, hal itu membuat pemerintahan daerah Lampung tetap dapat dijalankan.

Taktik perang gerilya dijabarkan pula dengan melakukan strategi bumihangus, sebagai contoh yang dilakukan oleh ALRI di Pelabuhan Panjang. Pasukan ALRI saat itu melakukan bumihangus terhadap pelabuhan serta gudang. Taktik perlawanan terhadap Belanda di Tanjung Karang sebagaimana dijelaskan oleh Indische Documentatie Dienst van ANP-Aneta (21 Januari 1949), TNI melakukan taktik bumihangus.

Hal itu berdampak pada kerusakan bangunan dan saluran pipa air. Dampaknya paling serius terjadi pada kerusakan pembangkit listrik. Oleh karena itu, kota ini akan tanpa lampu listrik untuk beberapa waktu. Di Teluk Betung dan Tanjung Karang oleh TNI juga melakukan bumihangus terhadap rumah residen, kantor residen, stasiun kereta dan kantor telepon.

Taktik bumihangus dipilih dalam beberapa perang, termasuk saat perang mempertahankan kemerdekaan adalah sebagai upaya agar fasilitas atau infrastruktur tidak dapat dimanfaatkan oleh pasukan musuh. Hal itu guna memberikan kesulitan dalam menunjang keperluan perang. Taktik bumihangus yang sering dilakukan adalah dengan melakukan pembakaran dan pengrusakan terhadap sarana-sarana penting yang kemungkinan besar tidak dapat dipertahankan.

Oleh karena itu, kondisi yang terjadi Tanjung Karang dengan melakukan pengrusakan terhadap saluran air dan pembangkit listrik ditujukan agar pasukan Belanda kesulitan dalam memenuhi kebutuhan minum dan penerangan.

Masih dalam Indische Documentatie Dienst van ANP-Aneta dijelaskan pula bahwa taktik lain yang dijalankan oleh TNI di Lampung untuk mempersulit pasukan Belanda adalah dengan menguasai daerah-daerah penghasil beras. Kondisi ini kemudian dirasakan oleh Belanda sulit dalam menerima pasokan beras.

Taktik ini dilakukan tentunya dengan berbagai tujuan, pertama sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan beras bagi TNI di Lampung. Sedangkan tujuan kedua agar pasokan beras tidak jatuh ketangan pasukan Belanda. Dengan hal ini setidaknya dapat memberikan kesulitan bagi Belanda dalam memenuhi logistik perang mereka.

Pertempuran antara TNI dan pasukan Belanda bukan hanya berdampak pada kekacauan dalam hal infrastruktur saja. Dampak lain yang terjadi di Teluk Betung dan Tanjung Karang saat itu adalah terganggunya aktivitas ekonomi. Sebagai gambaran bahwa dengan adanya peperangan membuat kegiatan di pasar terhenti hingga tanggal 4 Januari 1949.

Kekacauan ekonomi ini dipengaruhi pula oleh banyaknya mata uang yang beredar di masayrakat. Tercatat masa itu uang yang digunakan dalam transaksi terdiri atas tiga jenis mata uang, yakni mata uang NICA, mata uang Jepang dan ORIPS (Oeang Repoeblik Indonesia Provinsi Soematera). Dari ketiga mata uang itu mata uang Jepang memiliki nilai yang paling rendah, bahkan dibeberapa tempat terlihat mata uang Jepang yang dibuang. Nilai tukar mata uang Jepang terhadap ORIPS saat itu adalah 100 rupiah mata uang Jepang sama dengan 1 rupiah ORIPS. Kondisi ini tentu memperlihatkan bahwa dalam kondisi perang masyarakat di Teluk Betung dan Tanjung Karang mengalami banyak kesulitan dalam ekonomi.

 

Referensi:

Indische Documentatie Dienst van ANP-Aneta, 21 Januari 1949

Supangat, dkk. 1994. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lampung Buku II. DHD Angkatan 45: Bandar Lampung

 

 

Sabtu, 30 November 2024

Dapur Umum Bedeng 44 di Masa Agresi

Kemerdekaan Indonesia yang terlepas dari penjajagan sejatinya adalah buah dari gotong royong dan persatuan semua elemen bangsa. Bangsa Indonesia bahu membahu guna mempertahankan kemerdekaan. Para pejuang dengan tekad dan keterampilan yang dimiliki berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Adakalanya tokoh-tokoh pejuang berjuang dengan senjata, adapula yang berjuang dengan diplomasinya, termasuk mereka yang berjuang dengan memberikan harta benda serta tenaga. Hal itulah yang membuat kemerdekaan Indonesia terasa mendalam. Kemerdekaan Indonesia adalah hasil jerih payah perjuangan bukan pemberiaan apalagi hasil mengemis dari pemerintah Jepang atau Sekutu.

Oleh: Adi Setiawan

Ilustrasi Dapur Umum di Masa Perang (Sumber: Vredeburg.id)

Perlawanan yang begitu heroik hampir terjadi di seluruh pelosok negeri bahkan dari pejuang yang berjuang di luar negeri. Semboyan merdeka atau mati senantiasa menggema dalam benak para pejuang. Bangsa Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 merupakan amanah yang harus tetap bersatu. Negara Indonesia yang telah dibentuk adalah suatu tekad yang tetap harus dipertahankan. Sekalipun Belanda mengajak sekutunya untuk kembali merebut tanah air Indonesia, para pejuang tak gentar menghadapi serangan mereka. 

Belanda yang bertekad memulihkan kekuasaannya di Indonesia, beramai-ramai melakukan serangan di berbagai pelosok negeri. Dari kota-kota besar hingga ke kampung-kampung, rakyat kian akrab dengan suara dentuman perang dan loreng-loreng seragam tentara Belanda. Belanda yang sepertinya sangat antusias merebut kembali Indonesia kemudian melancarkan aksi agresi militer. Tak hanya sekali saja, serangan besar-besaran itu mereka lakukan pada 21 Juli 1947 yang dikelanal dengan Agresi Militer Belanda I dan 19 Desember 1948 disebut Agresi Militer Belanda II. Kota-kota di Indonesia kemudian berubah menjadi ajang pertempuran. Begitupun di kampung-kampung tentara Belanda melakukan teror kepada panduduk, meminta penduduk buka suara menyebutkan persembunyian tentara Republik. Sekuat tenaga pemerintah, tentara dan penduduk bergotong royong menghadapi serangan macan loreng. 

Lampung, sebagai daerah di Sumatera yang paling dekat dengan Pulau Jawa juga menghadapi hal serupa. Serangan besar-besaran tentara Belanda terhadap Lampung terjadi pada akhir Desember 1948 hingga Januari 1949. Pada 1 Januari 1949, Angkatan Laut Belanda berhasil menguasai Pelabuhan Panjang. Mereka kemudian mendaratkan pasukan untuk menguasai Teluk Betung dan Tanjung Karang. Pemerintahan di Lampung kemudian diungsikan keluar daerah tersebut. Para pejabat pemerintah sipil dan militer berusaha mempertahankan kemerdekaan di Lampung. Sedapat mungkin para pejuang memberikan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Para pejuang di daerah telah bersiap menghadapi situasi apapun jika pasukan Belanda menyerang. 

Keberhasilan menguasai daerah Teluk Betung dan Tanjung Karang, kemudian mendorong pasukan Belanda bergerak lebih dalam. Di antara pasukan Belanda melakukan pergerakan ke daerah Tegineneng, berbelok ke kanan menuju Trimurjo. Tujuan mereka adalah Metro, satu daerah yang terbilang masih muda di tahun 1949 itu, namun memiliki nilai ekonomis dan strategis. Mengetahui pasukan Belanda berhasil menguasai Pelabuhan Panjang, para pejuang Republik berusaha mengambil langkah pencegahan. Hal yang dilakukan pejuang di Metro adalah melakukan rapat di Gedung PU Metro pada 1 Januari 1949 pukul 19.00 hingga 23.00 (Supangat dkk, 1994:407). 

Hasil rapat menyebut mengenai pembentukan pemerintahan darurat di luar Metro serta berbagai hal untuk mendukung pemerintahan. Para pejuang sepakat menempatkan Desa Rejoagung, Bedeng 49 di Batanghari sebagai tempat kedudukan Pemerintahan darurat Metro. Sejak Metro diduduki oleh Belanda tepatnya 3 Januari 1949, pertempuran mulai terjadi. Kondisi itu membuat para pejuang membuat berbagai strategi perlawanan. Desa-desa di sekitar Metro seperti Bedeng 49, 47, 45, 44, 43, 41, 38 di Batanghari dan Bedeng 35 di Pekalongan serta beberapa desa lain menjadi basis pertahanan pejuang. 

Menariknya perjuangan melawan Macan Loreng kala itu bukan hanya dilakukan oleh para tentara. Di Batanghari perjuangan juga dilakukan oleh warga sipil termasuk kaum wanita. Dengan koordinasi antara pemerintah daerah Metro dengan pemerintah-pemerintah desa dibuatlah dapur umum. Keberadaan dapur umum ini sangat penting dalam membantu penyediaan konsumsi para pejuang. Logistik yang diperlukan dalam dapur umum ini disiapkan oleh lurah atau kepala desa bersama warganya. Penduduk dengan sukarela memberikan bahan pangan yang dimiliki untuk membantu perjuangan saat itu. Hal ini tentu membuktikan bahwa rasa rela berkorban untuk negara hadir dalam diri penduduk kala itu. Mereka sadar bahwa keterlibat mereka dalam memberikan bahan pangan dan mengolahnya menjadi makanan adalah bagian dari perjuangan. 

Dapur umum yang ada dalam pemerintahan darurat Metro ini, salah satunya berada di Bedeng 44, Desa Telogorejo, Batanghari. Secara garis perjuangan Bedeng 44 memang menjadi bagian titik sentral dari pemerintahan darurat. Lokasinya dekat dengan Metro serta Bedeng 49 yang merupakan pos komando pemerintahan darurat. Salah seorang penggerak dapur umum di Bedeng 44 ini adalah RS Yudho Sukarto, Lurah Bedeng 44. Pada masa Agresi Militer Belanda II di Bedeng 44 ini menjadi daerah pertahanan pasukan Indonesia yang bergerilya menghadapi Belanda. 


Lurah RS Yudho Sukarto (Sumber: Dok. Penulis) 

Untuk mencukupi kebutuhan konsumsi para pasukan, Lurah RS Yudho Sukarto bersama dengan warganya mendirikan dapur umum untuk mengolah makanan. Dipilihnya lurah atau kepala desa guna mengkoordinir dapur umum ini menurut Baha Uddin dalam Rizal Hidayat (2022:34) karena pamong desa mempunyai pengaruh yang sangat kuat di masyarakat dan mempunyai bahan makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pejuang maupun masyarakat. Dana dapur umum didapat dari berbagai macam sumber, seperti kas desa, sumbangan dari pejuang, sumbangan dari masyarakat, bahkan pinjaman dari beberapa orang.

 


Rumah Lurah RS Yudho Sukarto (Sumber: Dok. Penulis) 

 

Menurut penuturan Suhartono (71 tahun) dan Suciptanto (69) lokasi dapur umum di Bedeng 44 ini tersembunyi dan tidak mudah diketahui pasukan musuh. Warga secara sukarela memberikan bahan makanan baik itu ayam, kambing, beras dan lain-lain untuk diolah oleh ibu-ibu sekitar. Lokasi dapur umum di Bedeng 44 tidak jauh dari kediaman rumah Lurah RS Yudho Sukarto. Rumah ini saat itu juga dijadikan sebagai markas tentara. Jadi apabila tentara membutuhkan makanan mereka dapat langsung menuju dapur umum. 

Peran serta wanita sangat terlihat dalam dapur umum di Bedeng 44, mereka menyiapkan makanan bagi tentara yang jumlahnya ratusan prajurit. Oleh karena itu diketahui bahwa dalam perjuangan sampai di daerahpun peran serta kaum hawa tidak dapat diremehkan. Perjuangan nyatanya bukan hanya memanggul senjata namun juga menanak nasi sekalipun. Keberadaan dapur umum di kala perang ternyata juga menunjukan bahwa adanya solidaritas yang besar antara militer Indonesia dengan rakyat. Fakta lainya juga menunjukan bahwa kedudukan negara Indonesia memang dilandasi oleh keinginan bersama, termasuk oleh rakyat.

Perjuangan warga di Bedeng 44 selain menyediakan dapur umum, mereka juga terlibat dalam keanggotaan militer. Dalam hal ini pemuda bergabung dengan laskar pejuang guna membantu perlawanan menghadapi macan loreng. Di masa perang kemerdekaan, pasukan macan loreng kerap kali melakukan operasi di desa-desa sekitar Metro. Pada suatu ketika di tanggal 17 Mei 1949, pasukan Belanda memasuki Bedeng 44. Akibatnya terjadi insiden penembakan oleh Belanda terhadap dua orang anggota laskar di Bedeng 44. Dua orang anggota laskar tersebut adalah Parino dan Sawon, masing-masing tertembak pada bagian betis dan lutut. Namun syukur dalam insiden ini dua orang anggota laskar ini berhasil meloloskan diri. (Supangat dkk, 1994: 419). 

Perjuangan warga di Bedeng 44 ini tentu merupakan salah satu dari sekian banyak memori masyarakat Indonesia di zaman perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu di era modern ini kita wajib terus meneladani nilai-nilai perjuangan dalam membangun negeri ini. Bakti kita kepada bangsa dan negara dapat diwujudkan dengan hal apapun, selagi itu arif dan bermanfaat. Sebagaimana dahulu masyarakat berbakti kepada negara dengan menyumbangkan pikiran, harta dan tenaganya dalam menggerakan dapur umum.


Referensi:


Rizal Hidayat. Peran Dapur Umum Dalam Mendukung Perjuangan Masyarakat Dusun Kemusuk Pada Agresi Militer Belanda II1949. Karmawibangga: Historical Studies Journal, Vol: 04, No: 01, 2022: 30-40 

Supangat, dkk. 1994. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Lampung Buku II. DHD Angkatan 45: Bandar Lampung

 

Wawancara:

 

Suhartono (71 tahun), anak dari Lurah RS Yudho Sukarto pada 17 November 2024

Suciptanto (69), anak dari Lurah RS Yudho Sukarto pada 17 November 2024

 

 

Minggu, 03 November 2024

Serbuan Pasukan Jepang di Lampung Tahun 1942

Era pendudukan Jepang di Indonesia merupakan satu zaman yang penuh dengan penderitaan. Eksploitasi sumberdaya alam serta sumberdaya manusia begitu marak dilakukan pada zaman itu. Pelaksanaan romusha adalah salah satu bentuk upaya yang dilakukan oleh Jepang dengan mempekerjakan warga dalam berbagai proyek baik di Indonesia maupun di luar negeri. Perkembangan industri Jepang yang pesat, memaksa negeri matahari terbit ini untuk melakukan ekspansi dan eksploitasi sumberberdaya di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Wilayah Indonesia, termasuk daerah Lampung turut merasakan penindasan selama pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945. Lantas bagaimanakah serbuan pasukan Jepang di Lampung tahun 1942?

 Oleh: Adi Setiawan


Peta Sumatera Selatan

    (Sumber: Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant, 28 Februari 1942)

 

           Secara resmi Jepang menguasai Indonesia lewat perundingan di Kalijati, Subang, Jawa Barat pada 8 Maret 1942. Kota-kota penting di Indonesia sebelumnya telah berhasil dikuasai oleh angkatan perang Jepang. Upaya yang dilakukan oleh tentara Sekutu tidak dapat membendung serangan pasukan Jepang yang cepat itu. Belanda akhirnya dengan berat hati meninggalkan Indonesia yang dikuasainya selama beratus-ratus tahun itu. Di Sumatera, Jepang berhasil menguasai kota-kota penting seperti Medan dan Palembang. Pendudukan atas Pulau Sumatera ini juga dimaksudkan oleh Jepang untuk dijadikan pangkalan pengawasan terhadap kapal kapal milik Sekutu di Samudra Hindia bagian barat juga sebagai daerah suplai bahan makanan, minyak bumi serta tenaga manusia guna keperluan bangunan perang sewaktu-waktu Jepang memerlukan (Depdikbud, 1981:154).

           Uur der Beproeving: Onze Marine in Den Strijd Tegen Japan, 1945:56 mengisahkan pertempuran antara Belanda dengan Jepang, salah satunya pertempuran yang terjadi di Palembang. Jepang mulai memasuki Palembang pada 14 Februari 1942. Belanda yang tetap ingin bertahan kemudian terlibat adu persenjataan dengan pasukan Jepang. Setelah dua hari pertempuran terus menerus, angkatan udara Belanda dan Sekutu mulai menyerah. Sisa-sisa angkatan udara harus terbang ke Pulau Jawa karena lapangan terbang di sekitar Palembang lama kelamaan hilang semua. Pasukan Sekutu merasa kewalan dengan serangan-serangan yang dilakukan oleh pasukan Jepang. Mereka kemudian memutuskan untuk bergerak menuju Pulau Jawa, meninggalkan medan tempur di Palembang. Banyak pasukan Belanda kemudian melarikan diri menuju Oosthaven atau Pelabuhan Panjang melalui jalur kereta api dan jalan raya untuk menyeberang ke Pulau Jawa. Dari Pelabuhan Panjang ini mereka berlayar ke Tanjung Priok. Dengan demikian pasukan Belanda dapat dikatakan benar-benar dipermalukan dalam pertempuran di Palembang ini.

            Akhirnya Kota Palembang secara resmi dikuasi Jepang pada 16 Februari 1942. Dampak selanjutnya, pasukan Jepang semakin leluasa untuk menguasai Sumatera Selatan. Pasukan Jepang yang terdiri atas angkatan darat dan angkatan laut berusaha menaklukan tempat-tempat strategis di Sumatera Selatan. Tak terkecuali Lampung, daerah yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda, Laut Jawa dan Samudera Hindia ini dipandang sebagai wilayah strategis.

 


Berita Serangan Pasukan Jepang

(Sumber: Delftsche Courant: Nieuwsblad voor Delft en Delfland, 19 Februari 1942)

 

Untuk menaklukan wilayah Lampung, pasukan Jepang menyerbu dari beberapa arah. Delftsche Courant: Nieuwsblad voor Delft en Delfland, 19 Februari 1942 memberitakan bahwa barisan depan tentara Jepang di Palembang yang mendarat di Sumatera bergerak maju di sepanjang jalur kereta api hingga Teluk Betung. Dampaknya pasukan Jepang berhasil memutus jalur hubungan dari Sumatera menuju Jawa. Hal ini seperti dilaporkan oleh Haagsche Courant, 23 Februari 1942 “Pemutusan total hubungan antara Jawa dan Sumatra telah dicapai oleh pasukan Jepang. Formasi Jepang, yang maju ke selatan dari Palembang pada hari Sabtu, telah menduduki persimpangan kereta api penting Tanjungng Karang di sekitar Teluk Betung.”

 

             Berita Dampak Serangan Jepang

    (Sumber: Haagsche Courant, 23 Februari 1942)

           

Serbuan pasukan Jepang terhadap Lampung yang dilakukan dari arah utara membuat mereka dapat membereskan pasukan Belanda di daerah Tulung Buyut (Supangat dkk, 1994:99). Keberhasilan Jepang ini lantas mempermudah langkah mereka untuk menyerbu daerah lain di Lampung. Pasukan Jepang kemudian mulai bergerak ke menuju Kotabumi. Mereka kemudian bergerak ke Krui, Menggala, Metro dan Sukadana. Dari perairan laut, Jepang mengerahkan pasukannya untuk mengalahkan angkatan angkatan laut Belanda yang berjaga di sekitar Teluk Lampung dan Teluk Semangka. Dua perairan itu menjadi daerah strategis yang juga menjadi fokus utama dalam serbuannya di Lampung.

            Penaklukan daerah pesisir Lampung oleh pasukan Jepang itu ramai diberitakan oleh koran-koran berbahasa Belanda. Seperti dalam Leidsch Dagblad, 28 Februari 1942 dan Leeuwarder Courant, 28 Februari 1942 memberitakan serbuan pasukan Jepang di Kota Agung pada 23 Februari 1942. Pada serbuan ini Jepang berhasil memukul mundur angkatan laut Hindia Belanda di Teluk Semangka di ujung selatan Sumatera. Sebelumnya, pada tanggal 20 Februari 1942 Jepang telah berhasil menguasai Teluk Betung dan Tanjung Karang.

            Keberhasilan Jepang menaklukan pesisir Lampung ini menjadi salah satu kemenangan berharga di Sumatera. Karena dengan jatuhnya pesisir Lampung maka penguasaan Jepang atas Selat Sunda secara penuh telah terwujud. Termasuk yang tidak boleh dilupakan penguasaan Jepang atas Oosthaven, sebuah pelabuhan penting di Teluk Lampung (Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant, 28 Februari 1942). Setelah menguasai Lampung, pemerintah pendudukan Jepang kemudian menetapkan daerah Lampung sebagai Karesidenan yang dikepalai oleh seorang residen militer (Lampung Shu Co Kan) bernama Kolonel Kurita, dengan dibantu oleh seorang kepala kepolisian yang bernama Tsukabihara. Masyarakat di Lampung kemudian menerima segala bentuk kebijakan-kebijakan Jepang dalam berbagai bidang.

 

Referensi:

Delftsche Courant: Nieuwsblad voor Delft en Delfland, 19 Februari 1942

Haagsche Courant, 23 Februari 1942

Leidsch Dagblad, 28 Februari 1942

Leeuwarder Courant, 28 Februari 1942

Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant, 28 Februari 1942

Uur der Beproeving: Onze Marine in Den Strijd Tegen Japan, 1945

Depdikbud. 1981. Sejarah Daerah Lampung. Jakarta: Depdikbud

Supangat, dkk. 1994. Sejarah Perkembangan Pemerintah di Lampung Buku II. Lampung: DHD Angkatan ‘45

 

 

Minggu, 13 Oktober 2024

Menyaksikan Tanah Sabrang: Film Propaganda di Era Kolonial

Sebuah gedung pertunjukan film modern diresmikan di Kota Metro, sebuah daerah yang lahir dari proses kolonisasi di masa lampau. Hadirnya bioskop ini menarik warga Metro dan sekitarnya untuk menonton gambar bergerak. Jauh di masa lampau, ternyata kehadiran masyarakat dari Jawa ke Lampung juga dipengaruhi oleh sebuah film. Film itu berjudul Tanah Sabrang. Lantas bagaimanakah pengaruh film tersebut hingga membuat orang Jawa mau berpindah ke Lampung?

Oleh: Adi Setiawan

 
Poster Film Tanah Sabrang

(Sumber: vanstarkenburg.com)

 

Pada tahun 1938, Mannus Franken mensutradarai pembuatan film berjudul “Tanah Sabrang: Land Aan de Overkant, Landbouwklonisatie en Wayang” atau dalam Bahasa Indonesia berarti “Tanah Sabrang: Mendarat di Sisi Lain, Kolonisasi Pertanian dan Wayang.” Film yang kemudian lebih dikenal dengan Tanah Sabrang ini merupakan film dokumenter tentang kehidupan masyarakat Jawa yang berada di daerah kolonisasi. Film yang diproduksi oleh Sindikat Perfilman Hindia Belanda (Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat/ANIF) ini menjadi salah satu media propaganda oleh pemerintah kolonial kepada masyarakat di Pulau Jawa agar tertarik mengikuti program kolonisasi atau transmigrasi.

Program kolonisasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial menargetkan pemindahan penduduk dari Jawa ke Pulau Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Program kolonisasi merupakan usaha pemerataan penduduk yang dilakukan oleh pemerintah saat itu, sebagai bagian dari Politik Etis. Pasalnya populasi penduduk di Jawa semakin padat, oleh karena itu pemindahan penduduk menjadi kebijakan yang dianggap menjadi solusi dalam mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa.

Program kolonisasi pertama kali dilaksanakan oleh pemerintah kolonial dengan membawa masyarakat dari Jawa ke daerah Gedong Tataan, di Karesidenan Lampung. Kolonisasi di tahap awal ini, pemerintah secara terorganisir menyiapkan lahan yang akan digunakan sebagai pemukiman dan pertanian. Tidak hanya itu pemerintah juga menyiapkan biaya pemberangkatan bagi para kolonis. Begitupun setelah mereka sampai di Lampung, kolonis ini diberikan bekal secukupnya.

Selain program kolonisasi yang biayanya disubsidi oleh pemerintah, sistem lain yang digunakan saat itu adalah sistem kolonisasi bawon. Dalam sistem ini, pemerintah mendatangkan kolonis ke Lampung dengan tujuan agar mereka bekerja kepada kolonis yang lebih awal datang. Kolonis baru ini bekerja memanen padi atau membawon. Hasil dari upah membawon digunakan untuk keperluan hidup, sambil mereka membuka dan mengolah lahan garapan. Dengan sistem ini pemerintah dapat menekan biaya yang dikeluarakan untuk para kolonis baru.


Artikel Berita tentang Tanah Sabrang

(Sumber: Het Vaderland, 11 Agustus 1940)


Menariknya selain dengan menggunakan sistem bawon agar penduduk Jawa mau berpindah ke Lampung. Pemerintah kala itu juga berusaha melakukan propaganda lewat berbagai media, seperti foto, buku, selebaran dan film. Dengan media itu, pemerintah kolonial berusaha meyakinkan masyarakat di Pulau Jawa bahwa kondisi tanah kolonisasi dapat memberikan kesejahteraan hidup. Film Tanah Sabrang merupakan sebuah film yang menjadi alat propaganda dan media untuk menarik hati orang Jawa untuk mau membangun hidup di tanah seberang. Film Tanah Sabrang memberikan gambaran mengenai perekrutan kolonis baru dari desa-desa di Jawa Tengah. Juga ditampilkan tentang kehidupan para kolonis tersebut, termasuk di kehidupan kolonis di daerah kolonisasi Sukadana. Film ini dibuat tanpa dukungan pemerintah, hanya atas nama pemerintah. Skenarionya sendiri berasal dari Mannus Franken dan A. Jonkers. Proses pembuatan film dilakukan dalam tanggungjawab Mannus Franken dan Jan van der Kolk. Sementara agar film nampak lebih menarik diberikan alunan musik yang direkam di bawah arahan RAA Danoesoegondo dan R. Ng. Pringgohardana (De Locomotief, 24 Oktober 1939).


Mannus Franken

(Sumber: www.indonesianfilmcenter.com)

 

Tokoh utama dalam film tersebut bernama Sokromo, sebuah nama yang memiliki padanan Jansen dalam bahasa Belanda. Untuk peran ini, seorang lurah di desa Niten, yang cukup menunjukkan bahwa dia bisa berakting untuk film tersebut. Dalam lakon, Sokromo adalah pemuda yang hendak berhijrah bersama istri dan kedua anaknya. Untuk itu Sokromo menemui lurah untuk membicarakan cara hijrah. Ia pun bertemu dengan temannya, Kario yang juga ragu-ragu untuk mengikuti program kolonisasi.

Selain adegan tersebut, dalam film juga ditampilkan adegan wayang kulit. Tokoh semar ditampilkan dengan mata yang indah dan melihat seperti apa masa depan orang yang ragu-ragu di tanah sabrang. Permainan wayang dipilih sebagai salah satu bentuk ekspresi, karena bagaimanapun inilah yang paling berkesan bagi orang Jawa. Terlihat jelas bahwa pemerintah kolonial saat itu berusaha mengambil hati rakyat dengan menggunakan sosio-kultural yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Adegan lainnya adalah ditampilkan perjalanan besar kolonis ke tanah seberang, mulai dari proses kedatangan, pekerjaan, dan panen. Singkatnya, seluruh kehidupan di tanah kolonisasi ditampilkan dalam film ini (Nederlandsch Dagblad, 22 Oktober 1940). 



                                                              Adegan dalam Film Tanah Sabrang

(Sumber: De Tij dan Maasbode)

 

Sementara itu Het Nationale Dagblad, 16 April 1941 membuat kesimpulan atas film berbahasa Jawa ini, sebagai berikut:

De film behandelt de geschiedenis van een jongen Javaanschen boer, die met vrouw en twee kinderen naar “Tanah Sabrang" koloniseert. In het nieuwe gebied aangekomen helpen zij eerst oudere kolonisten bij het binnenhalen van den oogst, waarmede zij zooveel verdienen, dat zij voldoende levensmiddelen hebben voor 5 tot 6 maanden. Daarna beginnen zij voor zichzelf. Hen stuk oerwoud wordt omgehakt en jlatgebrand en in de vruchtbare humuslaag wordt rijst gezaaid. Dit herhaalt zich eenige jaren, totdat de bodem minder vruchtbaar wordt en overgegaan moet worden tot natte rijstbouw. Inmiddels is het bedrijfje dan zoo gcgroeid, dat de kolonisten handen te kort komen, om de rijke oogst binnen tehalen, zoodat zij weer hulp noodig hebben van nieuw aangekomen kolonisten. Zoo komt het Javaansche gezin tot welvaart, dank zij het feit, dat zij den moed hadden naar “Tanah Sabrang" te trekken. 

Terjemahan: 

Film ini berkisah tentang sejarah seorang petani muda Jawa yang menjadi kolonis di “Tanah Sabrang” bersama istri dan kedua anaknya. Ketika mereka tiba di daerah baru, pertama-tama mereka membantu kolonis lama untuk membawa hasil panen (membawon). Dengan usaha ini kolonis baru ini menghasilkan banyak uang sehingga mereka memiliki dapat memenuhi kebutuhan makanan untuk 5 sampai 6 bulan. Kemudian mereka memulai usaha mereka sendiri. Kolonis baru ini mulai menebang hutan dan membakar. Mereka kemudian menanam padi di lapisan humus yang subur. Hal ini berulang selama beberapa tahun, hingga tanah menjadi kurang subur dan perlu beralih ke budidaya padi basah. Hal itu membuat darah kolonisasi berkembang pesat sehingga para kolonis lama kekurangan sumber daya untuk memanen hasil panen yang melimpah. Sehingga mereka kembali membutuhkan bantuan dari kolonis yang baru tiba. Dengan demikian keluarga Jawa menjadi sejahtera karena berani pergi ke "Tanah Sabrang". 

Bagi masyarakat pedesaan, tontonan berupa film sudah barang tentu menarik bagi mereka. Ketika pemerintah menggelar acara pemutaran film Tanah Sabrang, beribu-ribu orang antusias untuk menyaksikannya. Pemerintah kala itu memang membuat sejenis tur berkeliling di desa-desa yang ada kabupaten/kota di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Pemutaran film dilakukan di alun-alun. Ketika film ini diputar, bukan hanya rakyat biasa saja yang turut menyaksikan, pejabat daerah pun turut di dalamnya. Hal itu seperti pemberitaan De Indische Courant 16 Mei 1939, menjelaskan bahwa film Tanah Sabrang telah diputar di Alun-alun Nganjuk. Dihadiri ratusan warga serta pejabat Binnenlands Bestuur dan Bupati setempat.


               Berita Pemutaran Film di Nganjuk

   (Sumber: De Indische Courant, 16 Mei 1939)

 

Pemutaran film yang sama juga terjadi Alun-alun Ambarawa. Antusiasme masyarakat Jawa untuk menonton Tanah Sabrang ditunjukan dengan kerelaan berjalan berjam-jam untuk dapat menyaksikan. Dalam pemberitaan Nederlandsch Dagblad, 22 Oktober 1940, cuaca hujan juga tidak menyurutkan warga Wonosobo untuk menonton. Tercatat 20.000 orang datang menonton film tersebut.

Film Tanah Sabrang bukan hanya menarik perhatian masyarakat Jawa saja, namun juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Bersama istri dan tamu undangan, Gubernur Jenderal diberitakan menyaksikan film Tanah Sabrang di Batavia.  Pertunjukan film di Batavia ini dibuka dengan pidato oleh Tuan Kuneman, seorang anggota Dewan Hindia, dan ketua panitia. Bahkan film propaganda ini juga turut diputar di Belanda yang menarik penonton orang-orang Jawa di sana.

Dengan propaganda film Tanah Sabrang pemerintah menargetkan 100.000 kolonis per tahunnya. Pengiriman kolonis ke daerah transmigrasi kemudian ditujukan pada pembukaan lahan-lahan pertanian baru. Terutama bagi warga Jawa yang akrab dengan pola pertanian basah, pemerintah mengimbangi pembukaan sawah-sawah baru dengan pembangunan sarana irigasi. Oleh karena itu pemerintah berharap dengan penayangan film Tanah Sabrang, masyarakat Jawa akan tertarik untuk mengikuti program transmigrasi. Pemerintah mengharapkan setelah menonton film, muncul gambaran dalam benak orang Jawa bahwa di daerah baru mereka akan hidup makmur seperti memiliki rumah, tanah pekarangan, lahan persawahan yang subur, dan mereka dapat menikmati wayang sehingga mereka merasa seperti hidup di tanah Jawa (Lindayanti, 2006:300).


       Pemutaran Tanah Sabrang di Belanda

(Sumber: Algemeen Handelsblad, 30 November 1940)

 

Referensi

Algemeen Handelsblad, 30 November 1940

De Indische Courant, 16 Mei 1939

De Locomotief, 24 Oktober 1939

Het Nationale Dagblad, 16 April 1941

Nederlandsch Dagblad, 22 Oktober 1940

Lindayanti. 2006. Menuju Tanah Harapan: Kolonisasi Orang Jawa Di Bengkulu. Humaniora. Vol. 18.

Sabtu, 12 Oktober 2024

Kabar Pendidikan di Lampung Era Kolonial

               Pendidikan menjadi suatu hal yang penting dalam kehidupan seorang manusia. Pendidikan menjadi jembatan bagi kemajuan peradaban bangsa. Dengan pendidikan seseorang dilatih, dididik dan diajarkan berbagai penegtahuan, keterampilan dan norma-norma. Maka pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang perlu dienyam sedari dini oleh manusia. Lantas bagaimanakah kondisi pendidikan di Lampung era Kolonial?

Oleh: Adi Setiawan

Sekolah Muhammadiyah di Metro

(Sumber: Kian Amboro)

            Kemajuan peradaban suatu bangsa pasti tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan yang dimiliki manusianya. Berbagai tinggalan sejarah yang membuat takjub adalah saksi bisu dari majunya pengetahuan dan keterampilan manusia di zaman dulu. Karena tanpa pengetahuan dan keterampilan mustahil mereka dapat membuat karya-karya yang monumental itu. Bagi bangsa Indonesia, sejak zaman kuno telah memiliki peradaban yang maju. Tinggalan berupa candi dan lain sebagainya menjadi contoh dari hal itu. Sistem pendidikan selalu berkembang seiring dengan perubahan zaman. Pendidikan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah maupun swasta berupaya untuk mempersiapkan generasi yang cakap dalam menjawab setiap perubahan zaman. 

              Sejarah pendidikan di Indonesia telah dimulai sejak zaman Hindu-Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, zaman Jepang dan zaman Kemerdekaan. Di setiap zaman, pendidikan yang diselenggarakan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Adakalanya pendidikan diselenggarakan guna melahirkan golongan agamawan seperti zaman Hindu-Budha dan Islam. Kemudian pada zaman kolonial pendidikan di Indonesia diarahkan pada lulusan yang dipersiapkan menjadi pegawai. Pada zaman Jepang pendidikan di Indonesia mengalami penurunan akibat dampak perang. Sedangkan pada era Kemerdekaan pendidikan dikembangkan untuk melahirkan bangsa yang berpengetahuan, terampil dan berakhlak mulia.

            Sebagai daerah yang bersentuhan dengan era Kolonial perkembangan pendidikan di Lampung menarik untuk diketahui. Daerah yang disebut sebagai pintu gerbang pulau Sumatra ini tentunya memiliki sejarah pendidikan yang panjang pula. Dengan berbekal dari laporan jurnalistik era kolonial, pada tulisan singkat ini berusaha untuk mengabarkan pendidikan Lampung pada era Kolonial.

 

Sekolah Muhammadiyah di Metro

Pada pemberitaan De Indische Courant, 23 Februari 1940 dijelaskan bahwa telah diresmikan Sekolah Muhammadiyah di daerah Kolonisasi Sukadana. Sekolah ini terletak di Metro, sebuah daerah yang menjadi pusat dari kolonisasi ini. Dalam acara peresmian ini dilaksanakan di kediaman Penghulu Metro. Berdirinya Sekolah Muhammadiyah di Metro ini tidak terlepas dari kerjasama antara pengurus perkumpulan Muhammadiyah Metro dengan perkumpulan Muhammadiyah Telukbetung. Sekolah Muhammadiyah di Metro ini memiliki kapasitas 50 murid. Kehadiran sekolah Muhammadiyah merupakan harapan masyarakat kolonis di Metro.

Berita Peresmian Sekolah Muhammadiyah Metro

(Sumber: De Indische Courant, 23 Februari 1940)

 

Pada pemberitaan De Indische Courant Sekolah Muhammadiyah lainnya akan segera dibuka di Gedongdalem, yang juga merupakan daerah kolonisasi Sukadana. Tercatat sekitar tahun 1930 pertama kali sebuah sekolah dasar Muhammadiyah didirikan di Telukbetung. Pada tahun 1937, sekolah Muhammadiyah juga telah berdiri di Talang Padang. Salah seorang yang patut dicatat sebagai tokoh pendidikan dari Muhammadiyah di Talangpadang ialah Taib Jailahi yang menjabat sebagai kepala sekolah sampai saat Jepang menguasai daerah Lampung (Depdikbud, 1982:65).

 


Sekolah Muhammadiyah di Metro

(Sumber: Kian Amboro) 

Perlu diketahui pula bahwa perkumpulan Muhammadiyah di Lampung selain menaruh perhatian dalam urusan pendidikan juga memiliki peran dalam membantu rakyat di Lampung melalui kegiatan bakti sosial. Dalam Bataviaasch Nieuwsblad, 25 Mei 1939 perkumpulan Muhammadiyah yang bekerjasama dengan masyarakat adat Lampung membentuk sebuah komite yang bertujuan untuk mengumpulkan pakaian-pakaian bekas, peralatan dapur, kaleng dan botol kosong, perabotan dan barang-barang rumah tangga lainnya. Barang-barang itu nantinya akan dibagikan kepada kolonis di Lampung. Memang saat itu kondisi kolonis dalam kondisi hidup yang sulit di tengah hutan, tidak terlindung dari angin dan cuaca, mudah terserang berbagai macam penyakit seperti malaria, disentri, dan lain-lain.

 Maka dalam perkembangannya perkumpulan Muhammadiyah Lampung, menjadi organisasi keagamaan dan sosial. Mereka berfokus dalam pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial. Apalagi setelah Indonesia merdeka, perkumpulan Muhammadiyah Lampung banyak mendirikan sekolah mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

 

Sekolah Taman Siswa di Lampung

Perguruan Tinggi Taman Siswa merupakan perguruan nasional yang menjiwai pergerakan kebangsaan kita pada zaman pergerakan nasional. Tak lama setelah didirikan di Lampung berdiri Perguruan Taman Siswa untuk tingkat sekolah dasar di Tanjungkarang, Telukbetung dan di Gedong Tataan di sekitar tahun 1925. Sebagaimana kita lihat perkembangan selanjutnya dengan adanya Undang-undang Sekolah Liar maka perguruan Taman Siswa mengalami pasang surut (Depdikbud, 1982:64).

Pada tahun 1938 Ki Hadjar Dewantara, pimpinan lembaga pendidikan nasional Taman Siswa, melakukan kunjungan di Telukbetung untuk meninjau lembaga pendidikan Taman Siswa yang terletak di Lampung. Sebagai penyambutan, diadakan pertemuan di gedung sekolah Taman Siswa Telukbetung yang dihadiri kurang lebih 300 orang. Kunjungan Ki Hajar ini juga diramaikan dengan pertunjukan teater siswa sekolah Taman Siswa di gedung Teater Pusat di Telukbetung. Dalam kunjungannya di Lampung, Ki Hajar Dewantara memberikan ceramah di gedung tersebut tentang pendidikan nasional bagi generasi muda (Bataviaasch Nieuwsblad, 11 April 1938).


                Berita Taman Siswa di Lampung

          (Sumber: Bataviaasch Nieuwsblad, 11 April 1938)

Sampai masa pendudukan Jepang Perguruan Taman Siswa sudah terdapat di kota-kota kecil di Lampung, yaitu di Kotabumi, Talangpadang, Kotaagung, Gedong Tataan, Sukadana dan Kalianda. Jumlah murid tidak menunjukkan angka yang menggembirakan, namun sebagai suatu sekolah nasional dapat menunjukkan prestasi yang baik dalam menunjang perjuangan di daerah Lampung. Salah seorang yang terkenal ialah Pangeran Emir Mochammad Noor merupakan pejuang yang gigih dari daerah Lampung. Beliau adalah guru Taman Siswa di Telukbetung yang dalam tahun 1943 memperoleh pendidikan Gyugun di Pagaralam, Sumatera Selatan. (Depdikbud, 1982:64).

 

Sekolah di Kolonisasi I.E.V Giesting

Salah satu hal yang menarik dari sejarah di Lampung adalah keberadaan kolonisasi yang dilakukan oleh kaum Indo-Eropa di Giesting, Tanggamus. Keberadaan kolonisasi ini tidak terlepas dari berdirinya Indo-Europeesch Verbond (I.E.V), yang berdiri pada tahun 1919 atas prakarsa Karel Zaalberg. Indo-Europeesch Verbond melaksanakan kolonisasi di Giesting pada tahun 1926 adalah karena adanya motif sosial dan ekonomi yang mendorong kaum Indo-Eropa untuk melaksanakan kolonisasi. Tujuan Indo-Europeesch Verbond melaksanakan kolonisasi di Giesting adalah untuk menghidupkan kesejahteraan kaum Indo-Eropa di Indonesia (Aulia Mutiara Putri, 2022).

Masalah kesejahteraan kaum Indo-Eropa yang telah berpindah di Lampung ini kemudian bukan hanya menyangkut pemenuhan ekonomi semata. Kaum Indo-Eropa di Giesting kemudian meminta pemerintah memperhatikan masalah pendidikan bagi anaka-anak mereka. Pasalnya di Kolonisasi Giesting belum ada sekolah yang dapat memberikan layanan pendidikan. Ketiadaan sekolah ini menjadi kekhawatiran yang dirasakan, oleh karena pemerinta diminta mendirikan sekolah dasar di Giesting.

Mendengar harapan dari para kolonis ini, pemerintah kemudian melakukan perencanaan mengenai pendirian sekolah di Giesting. Mengenai rencana sekolah di koloni tersebut, dapat dilaporkan bahwa jumlah minimum murid yang ditentukan untuk pendirian sekolah dasar belum tercapai. Hasilnya, agar pendidikan tetap dapat diberikan kepada anak-anak kolonis maka Departemen Pendidikan mengirim Ibu Dulon Barre ke Giesting, yang suaminya memang tinggal di Lampung. Pemberitaan dari De Sumatra post, 3 Mei 1927 bahwa Ibu Dulon Barre sebelumnya mengajar di Madiun.

Laporan De Indische Courant, 24 Februari 1928 kolonisasi I.E.V diperluas sekitar sepertiga dari jumlah pemukim. Antusiasme untuk menetap di kolonisasi semakin terlihat. Perkembangan kolonisasi ini kemudian berdampak pada perhatian pemerintah pada ketersedian sekolah di Giesting. Pemerintah menilai dengan perluasan kolonisasi ini juga akan mencapai jumlah minimum sejumlah 25 murid yang ditentukan untuk pendirian sekolah (sekolah I.E.V bersubsidi). Departemen Pendidikan kemudian berhasil mendirikan de Lagere School van de Landbouwkolonie Giesting van het I.E.V atau Sekolah Dasar Koloni Pertanian Giesting I.E.V. Dengan dibukanya sekolah ini maka kebutuhan akan sekolah dasar bagi anak-anak kolonis dapat terpenuhi.

       Pada suatu kesempatan Inspektur Pendidikan Dasar, Tuan Kok, berkunjung di Sekolah Giesting yang saat itu memiliki 20 siswa (8 laki-laki dan 12 perempuan). Sekolah Giesting dikelola oleh Ny. Walker, dibantu oleh Miss. E.I. Leckie. Kedua guru tersebut diperbantukan di Giesting oleh Pemerintah dan Departemen Pendidikan. Inspektur Kok mengirimkan laporan kunjungannya ke sekolah Giesting ke Departemen Pendidikan, di mana dalam laporan tersebut ia berbicara dengan sangat menghargai sekolah tersebut dan pendidikan yang diberikan di sana (De Locomotif, 14 Desember 1928).


Berita tentang Sekolah di Giesting

(Sumber De Locomotif, 14 Desember 1928)

 

Kebijakan pemerintah terhadap pendidikan di Giesting kemudian disinkronkan dengan kebijakan kolonisasi. Dimana untuk mencukupi kebutuhan guru, pemerintah mengutamakan mengirim calon kolonis yang istrinya memiliki kemampuan mengajar. Kemudian pada tahun 1938 pemerintah juga berencana mendirikan sebuah panti asuhan di Giesting. Dimana panti asuhan diharapkan dapat berdampak pada peningkatan jumlah murid di Giesting. Panti asuhan ini juga akan memberikan pengajaran bagi anak-anak yang tinggal di panti.

Soerabaijasch Handelsblad, 5 Mei 1938 menuliskan bahwa tujuan panti asuhan adalah untuk mengadakan kursus pendidikan pertanian praktis untuk anak laki-laki, sedangkan pelajaran pendidikan rumah tangga sederhana akan diberikan untuk anak perempuan. Kedua mata kuliah tersebut akan berjalan paralel dengan 3 kelas tertinggi sekolah. Desain ini dipilih untuk memberikan pelatihan kepada anak laki-laki dan perempuan dalam kerangka pertanian, sehingga mereka akan merasa betah sejak usia dini dan bahwa anak laki-laki akan menjadi kekuatan yang mapan untuk koloni pertanian dan anak perempuan untuk pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan pertanian tambahan. Realisasi rencana ini tentunya akan bermanfaat bagi masa depan Giesting. Diharapkan panti asuhan tersebut dapat dibuka pada bulan Agustus 1938.

 

HCS Xaverius Tanjungkarang

Pada pemberitaan Soerabaijasch Handelsblad, 9 Agustus 1937 diceritakan tentang pembukaan Tahun Ajaran 1937/1938 di Sekolah Xavierius Telukbetung yang merupakan HCS (Hollandsch Chineesche School). Sekolah yang berada di bawah Misi Tanjungkarang ini saat pada Tahun Ajaran 1937/1938 memiliki murid sekitar 350 dari berbagai etnis, kebanyakan orang Tionghoa. Berdirinya sekolah Xaverius di Telukbetung ini tidak terlepas dari usaha Pendeta van Oort dan Ny. Voorsmitde Leau pada tahun 1929. Di awal berdirinya Sekolah Xaverius membuka kelas Frobel (Taman Kanak-kanak) dengan jumlah murid 7 anak.

            Berita tentang HCS Telukbetung

             (Sumber: Soerabaijasch Handelsblad, 9 Agustus 1937)

     

 Beranjak tiga tahun dari berdirinya Sekolah Xaverius ini, telah diperluas menjadi Sekolah Umum Eropa yang terdiri dari tujuh kelas dengan total 160 siswa. Sekolah ini dijalankan oleh Suster-suster dari Kongregasi Hati Kudus Yesus. Para orang tua sangat puas dengan pendidikan di sekolah ini. Direktur dan Kepala Sekolah, Suster Wilhelmina, tidak hanya memiliki peran utama dalam masalah manajemen sekolah, tetapi ia juga memiliki kemampuan mengajar bahasa modern (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20 Oktober 1932).

Sekolah Xaverius yang berkembang menjadi HCS Telukbetung ini, kemudian menjadi sekolah kebanggaan masyarakat Eropa di Lampung kala itu. Kebanggaan itu sebagaimana tertulis dalam surat kabar Soerabaijasch Handelsblad:

De resultaten van de Missie van Tandjongkarang wat betreft het onderwijs zijn dus prachtig. Als men op Telokbetong komt dan ziet men aan den Schoolweg een complex gebouwen en een modern, schoolgebouw, de Xaveriusschool, de eerste particuliere H. C. S. in de Lampongs.

Terjemahan:

Oleh karena itu, hasil dari Misi Tanjungkarang dalam hal pendidikan sungguh luar biasa. Sesampainya di Telukbetung, anda akan melihat komplek bangunan dan gedung sekolah modern Sekolah Xaverius, HCS swasta pertama di Lampung.

Selain karena fasilitas gedung yang modern, Sekolah Xaverius ini memang diperhatikan betul dalam hal tenaga pendidik. Untuk itu, Misi Tanjungkarang merekrut guru-guru yang berkompeten. Umumnya guru-guru itu bersal dari Belanda. Sehingga tidak heran dalam tahun ke tahun jumlah murid terus bertambah. Dalam waktu kurang lebih 8 tahun dari didirikan sekolah ini memiliki sebanyak 350 murid. Alumni HCS Telukbetung ini banyak yang kemudian melanjutkan studi di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Hogere Burger School (HBS).

            Pada perkembangannya sekolah-sekolah Xaverius, terutama yang setingkat Sekolah Dasar, selain berkembang di Telukbetung juga berkembang Tanjungkarang, Gedongtataan, Pringsewu, Talangpadang. Bahkan selepas Indonesia merdeka juga didirikan sekolah menengah dan atas. Dengan demikian hadirnya sekolah Xaverius ini juga memberikan warna dalam perkembangan pendidikan di daerah Lampung hingga kini.

           

Referensi

Bataviaasch Nieuwsblad, 11 April 1938

Bataviaasch Nieuwsblad, 25 Mei 1939

De Indische Courant, 24 Februari 1928

De Indische Courant, 23 Februari 1940

De Locomotif, 14 Desember 1928

De Sumatra post, 3 Mei 1927

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 20 Oktober 1932

Soerabaijasch Handelsblad, 9 Agustus 1937

Soerabaijasch Handelsblad, 5 Mei 1938

Putri, Aulia Mutiara. 2022. Perkembangan Kolonisasi Giesting Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda Pada Tahun 1926-1942. Metro: Universitas Muhammadiyah Metro.

Depdikbud. 1982. Sejarah Pendidikan Daerah Lampung. Jakarta: Depdikbud

Ketakutan terhadap Malaria di Oosthaven

              Malaria memberikan citra buruk bagi Oosthaven. Orang-orang menyadari bahaya yang akan                                         ...

Populer