Minggu, 21 Desember 2025

Sistem Irigasi Batanghari Utara: Jejak Sejarah dan Visi Ketahanan Pangan

Keberadaan Bendung Garongan atau Swadaya menjadi satu fasilitas pengairan yang dikenal oleh masyarakat di wilayah Pekalongan dan Purbolinggo. Bendung ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem irigasi Batanghari Utara. 

Oleh: Adi Setiawan

Bendung Garongan
(Sumber: Adi Setiawan, 2025) 

Sistem Irigasi Batanghari Utara, atau yang secara historis dikenal dengan nama Batanghari Noord, bukanlah sebuah proyek yang lahir secara instan. Keberadaannya memiliki akar sejarah yang panjang, merentang hingga masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan arsip peta yang disusun pada tahun 1940, terlihat jelas bahwa cetak biru sistem irigasi ini telah direncanakan dengan sangat matang. Dalam peta tersebut, para perancang kolonial telah menggambarkan sebuah skema bendung atau dam lengkap dengan jaringan saluran irigasi primer yang membelah wilayah Lampung Timur. Perencanaan ini bukan tanpa tujuan; proyek Batanghari Noord merupakan bagian integral dari strategi besar pemerintah kolonial dalam mendukung perluasan wilayah Kolonisasi Sukadana.

Bukti sejarah ini diperkuat oleh pemberitaan surat kabar De Indische Courant edisi 28 Januari 1939. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pada awal dekade 1940-an, pemerintah kolonial telah mencanangkan pembukaan area kolonisasi baru di wilayah utara. Untuk merealisasikan visi tersebut, Ir. A.P. Wehlburg ditunjuk untuk memimpin studi lapangan guna memetakan kondisi medan dan menentukan teknis perluasan wilayah. Rencana ambisius ini sedianya akan dieksekusi pada rentang tahun 1943 hingga 1944. Meskipun dinamika politik dunia kemudian berubah akibat Perang Dunia II, garis-garis saluran irigasi yang tertuang dalam peta tahun 1940 tersebut tetap menjadi landasan fisik yang sangat akurat, di mana jalur-jalurnya hampir persis dengan jaringan irigasi yang kita temukan saat ini.

Pasca terbentuknya pemerintahan Republik Indonesia, visi pengairan yang sempat tertunda di masa kolonial mendapatkan nafas baru. Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan yang tinggi dalam melanjutkan pembangunan infrastruktur irigasi sebagai fondasi kedaulatan pangan nasional. Dalam garis waktu sejarah, terdapat dugaan kuat bahwa pembangunan fisik Bendung Garongan, yang juga dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bendung Swadaya, berhasil diselesaikan pada tahun 1952. Pembangunan ini memanfaatkan aliran Way Batanghari sebagai sumber utama untuk menyuplai air ke area persawahan yang kian meluas di Lampung Timur.

Nilai strategis Bendung Garongan di mata pemerintah pusat terbukti dengan kehadiran tokoh bangsa. Pada tanggal 3 Juli 1954, Wakil Presiden Mohammad Hatta melakukan kunjungan kerja atau peninjauan langsung ke lokasi bendung ini. Kunjungan Bung Hatta bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah penegasan betapa pentingnya infrastruktur irigasi bagi stabilitas ekonomi rakyat pedesaan. Di lokasi tersebut, beliau memantau progres pembangunan serta memastikan fungsi teknis infrastruktur pengairan berjalan optimal. Momentum ini menjadi catatan sejarah penting yang menempatkan Sistem Irigasi Batanghari Utara sebagai prioritas pembangunan nasional sejak dekade awal kemerdekaan Indonesia.

Estafet pembangunan terus berlanjut melintasi zaman. Memasuki periode pemerintahan Orde Baru hingga era modern saat ini, kapasitas Sistem Irigasi Batanghari Utara terus ditingkatkan melalui berbagai program rehabilitasi dan modernisasi. Berdasarkan data teknis terbaru, sistem irigasi ini telah berkembang menjadi jaringan yang sangat masif. Saat ini, panjang saluran induk atau saluran primer mencapai 32.200 meter, yang kemudian didistribusikan lebih lanjut melalui jaringan saluran sekunder sepanjang 29.246 meter. Keberadaan jaringan yang terstruktur dari tingkat primer, sekunder, hingga tersier ini memastikan distribusi air dapat menjangkau lahan secara presisi.

Menurut studi evaluasi yang dilakukan oleh Mardika dkk (2024), daerah irigasi ini kini memiliki luas fungsional mencapai 5.430,89 hektar. Luas lahan yang sangat signifikan ini menjadi tumpuan bagi ribuan petani di dua wilayah administratif utama, yakni Kecamatan Purbolinggo dan Kecamatan Way Bungur. Dengan efisiensi saluran yang terus terjaga, sistem ini mampu mempertahankan produktivitas padi di wilayah tersebut, menjadikan kedua kecamatan ini sebagai lumbung pangan yang krusial bagi Kabupaten Lampung Timur. Keberhasilan pengelolaan air ini secara langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat agraris di sekitarnya.

Di luar fungsi teknisnya yang vital bagi pertanian, Bendung Garongan yang terletak di Desa Gondangrejo, Kecamatan Pekalongan, juga memiliki dimensi sosial yang kental. Sebagaimana diungkapkan oleh Utara Setya Nugraha, seorang pemerhati sejarah lokal, bendung ini telah lama bertransformasi menjadi ruang publik dan destinasi wisata alternatif. Keindahan arsitektur bendung yang berpadu dengan ketenangan air sungai menciptakan daya tarik visual yang memikat masyarakat lokal. Warga sering kali datang berkunjung pada sore hari atau saat hari libur untuk sekadar menikmati pemandangan alam, bersantai, atau berfoto di sekitar struktur bendungan yang bersejarah.

Selain sebagai tempat rekreasi keluarga, kawasan genangan air di Bendung Garongan menjadi surga tersembunyi bagi para penghobi memancing. Kondisi perairan yang tenang dan ekosistem sungai yang terjaga menjadikan area genangan ini sebagai lokasi favorit untuk menyalurkan hobi. Keberadaan para pemancing yang rutin berkumpul di titik-titik genangan air menambah semarak suasana di sekitar bendungan, sekaligus menciptakan interaksi sosial antarwarga. Dengan demikian, Bendung Garongan menjalankan peran ganda yang harmonis: sebagai jantung pengairan bagi ribuan hektar sawah, sekaligus sebagai paru-paru sosial dan tempat wisata yang menghidupkan kebahagiaan masyarakat di Lampung Timur.


Referensi: 

De Indische Courant, 28 Januari 1939

Mardika, M. G. I., Fitriana, I. R., & Priyono, A. (2024). Evaluasi Efisiensi Rehabilitasi Saluran Irigasi pada Daerah Irigasi Batanghari Utara Kabupaten Lampung Timur. Journal of Civil Engineering and Infrastructure Technology, 3 (2).

Utara Setya Nugraha, pemerhati sejarah Kec. Pekalongan (wawancara, 18 Desember 2025)



Jumat, 12 Desember 2025

Katalog Buku


Apa Kabar Lampung Tempo Dulu?
Rupa-rupa yang Terlupa

Penulis:

Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
Vii + 123 hal, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Maret 2025
QRCBN: 62-2589-3014-990

Harga Buku:
55.000

Pesan:
0857-5905-2979



Membaca Lampung
Kumpulan Artikel Sejarah dan Budaya

Penulis:
Setio Widodo,  Adi Setiawan,  Datu Purwonugroho 
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
ix+129 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, November 2025 
QRCBN: 62-2589-7678-499 

Harga Buku:
60.000

Pesan:
0857-5905-2979



Rejoagung Desa yang Penuh Sejarah

Penulis:
Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi Bergambar (Anak-anak)
vii+28 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, September 2025 
QRCBN: 62-2589-3621-513 

Harga Buku:
25.000

Pesan:
0857-5905-2979


Mengenal Tinggalan Prasasti 
Masa Hindu-Budha di Lampung

Penyusun:
Adi Setiawan
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi (Buku Pengayaan)
vii+27 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, Oktober 2025 
QRCBN: 62-2589-1426-928 

Harga Buku:
30.000

Pesan:
0857-5905-2979



Warisan dan Nilai di Balik Desa

Penyusun:
Dinar Berliana, dkk.
 
Penerbit:
Warta Sejarah Lampung
 
Detail Buku: 
Nonfiksi
vii+62 hal, 14,8 x 21 cm 
Cetakan Pertama, November 2025 
QRCBN: 62-2589-1677-541

Harga Buku:
35.000

Pesan:
0857-5905-2979



 









Sabtu, 29 November 2025

Dermaga Cabang: Gerbang Ekonomi di Muara Way Seputih

 Sejarah niaga di Lampung tentu sangat menarik untuk diperbincangkan. Aktivitas ekonomi masyarakat Lampung masa Lampung erat sekali dengan perairan sungai. Salah satu sungai itu adalah Way Seputih yang memiliki Dermaga Cabang yang digunakan sebagai sarana perdagangan. 

Oleh: Adi Setiawan

 

Peta Daerah Cabang Tahun 1802

(Sumber: Kian Amboro, 2022)

Citra Satelit Daerah Cabang Tahun 2025

(Sumber: Google Maps, 2025)

 

Way Seputih sebagai Urat Nadi Peradaban

Provinsi Lampung, dengan kekayaan geografisnya, memiliki jaringan sungai yang telah lama menjadi urat nadi kehidupan dan peradaban. Salah satu sungai itu adalah Sungai Seputih atau dikenal sebagai Way Seputih. Way Seputih dinobatkan sebagai sungai terpanjang ketiga di Provinsi Lampung, dengan hulu yang bersumber di Gunung Tangkit Tebak dan mengalirkan airnya sejauh kurang lebih 190 kilometer hingga bermuara ke laut.

Sebagaimana sungai-sungai besar lainnya di nusantara, Way Seputih tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menyimpan beragam narasi sejarah dan aktivitas ekonomi masyarakat. Sungai ini telah menjadi jalur untuk transportasi, perdagangan, dan interaksi sosial antar-daerah. Dalam konteks sejarah maritim dan perdagangan Lampung di masa lampau, peran Way Seputih terbilang membantu aktivitas masyarakat, terutama pada bagian muaranya yang menjadi lokasi berdirinya sebuah dermaga penting, yaitu Dermaga Cabang atau pada ejaan lama dikenal sebagai Tjabang. Dermaga inilah yang menjadi titik temu antara arus sungai pedalaman dan jalur pelayaran pesisir, menjadikannya simpul strategis dalam pergerakan barang dan manusia.

Way Seputih Tahun 1910

(Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl)

 

Dermaga Cabang dalam Peta Perdagangan Timur Lampung

Dermaga Cabang menempati posisi penting sebagai salah satu gerbang maritim di wilayah timur Lampung. Keberadaannya disejajarkan dengan dermaga atau pelabuhan lain yang juga berperan vital, seperti Pelabuhan Menggala yang berada di Way Tulangbawang, dan Labuhan Maringgai. Posisi ini menegaskan bahwa Dermaga Cabang bukanlah pelabuhan biasa, melainkan salah satu pilar penopang sistem distribusi dan perdagangan regional pada masa kolonial.

Beberapa literatur kolonial dari awal abad ke-20, yang seringkali memuat catatan detail mengenai infrastruktur dan ekonomi wilayah, menyebut Dermaga Cabang bersama dengan dermaga-dermaga lainnya seperti Labuhan Maringgai di pesisir timur dan Rantaujaya Ilir di Sungai Pegadungan. Hal ini mengindikasikan bahwa otoritas kolonial Belanda mengakui Cabang sebagai titik pengumpulan dan distribusi komoditas.

Dalam publikasi yang dibuat oleh R. Broersma pada tahun 1916 berjudul De Lampongsche Districten, disebutkan secara khusus mengenai lokasi dan konektivitas Dermaga Cabang. Dermaga ini terletak pada titik geografis yang sangat strategis, yaitu di pertemuan antara Way Seputih dan Way Pegadungan. Posisi pertemuan dua sungai ini memberikan keuntungan akses ganda ke wilayah pedalaman. Lebih lanjut, Broersma mencatat bahwa Dermaga Cabang memiliki koneksi pelayaran yang aktif tidak hanya secara lokal tetapi juga antar pulau:

  1. Pertama, koneksi dengan Palembang: Jalur ini memungkinkan pertukaran komoditas dan informasi dengan pusat ekonomi penting di Sumatera Selatan.
  2. Kedua, koneksi dengan Jawa: Pelayaran ini dilakukan menggunakan kapal layar (zeilschip), yang menghubungkan hasil bumi Lampung langsung ke pasar-pasar besar di Jawa, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi Hindia Belanda.

Konektivitas yang luas ini menjadikan Cabang bukan sekadar dermaga singgah, tetapi sebuah simpul distribusi regional yang sangat efisien dalam menghubungkan wilayah pedalaman Lampung dan sekitarnya, khususnya di Onderafdeling Seputih dengan jaringan perdagangan yang lebih besar.

Neraca Perdagangan Padi dan Beras di Pelabuhan Lampung

(Sumber: JFP. Richter, 1910)

 

Peran Dermaga Cabang semakin terlihat jelas dalam fungsinya sebagai moda transportasi utama ke berbagai daerah sekitarnya, baik melalui jalur sungai Way Seputih dan Way Pegadungan maupun melalui jalur laut. Keberadaan dermaga ini menjadi solusi sebelum infrastruktur jalan darat berkembang pesat.

Salah satu bukti dokumentasi mengenai aktivitas logistik di Cabang termuat dalam Rapport Nopens Den Aanleg Van Staatsspoorwegen in Zuid-Sumatra (Laporan Mengenai Pembangunan Jalur Kereta Api Negara di Sumatera Selatan), yang diterbitkan pada tahun 1910 oleh JFP. Richter. Laporan ini mencantumkan jalur pelayaran antara Cabang dengan Sukadana. Data yang tercatat dalam laporan tersebut memberikan gambaran konkret mengenai biaya dan mekanisme transportasi yang berlaku pada masa itu:

  • Biaya Transportasi Penumpang: Pelayaran dari Cabang ke Sukadana (dan sebaliknya) dikenakan biaya sebesar 1,50 gulden per penumpang.
  • Biaya Transportasi Barang: Untuk pengiriman barang, biayanya adalah 2,50 gulden per pikul (satuan berat tradisional, kurang lebih 60–80 kg).

Informasi tarif ini menunjukkan bahwa pelayaran tersebut merupakan layanan komersial. Adapun salah satu muatan barang yang secara reguler dikirim melalui Dermaga Cabang adalah lada. Komoditas lada memang merupakan tanaman primadona di wilayah Onderafdeling Seputih. Way Seputih dan daerah sekitarnya, yang subur dan cocok untuk perkebunan lada, mengandalkan dermaga Cabang sebagai salah satu gerbang utama untuk mengirimkan hasil panen lada hitam Lampung ke luar pulau, contohnya ke Jawa.

Selain itu dijelaskan oleh JFP. Richter (1910:126) melalui Dermaga Cabang perdagangan beras dilakukan. Tercatat pernah dilakukan diimpor 170 pikul beras dengan nilai 1.172 gulden dan ekspor 70 pikul beras dengan nilai 350 gulden melalui Dermaga Cabang ini. Komoditas lain yang juga dilakukan pengiriman melalui Dermaga Cabang di masa lalu adalah damar, karet dan rotan. Dengan nilai masing-masing ekonomis, karet 9.000 gulden, rotan  21.000 gulden dan damar 20.000 gulden, sehingga total nilai ekspor dapat diperkirakan mencapai 352.000 gulden.

Dermaga Cabang Masa Kini

Meskipun zaman telah berubah, infrastruktur modern telah masuk, dan jalur darat semakin dominan, Dermaga Cabang menunjukkan suatu kontinuitas fungsi yang luar biasa hingga saat ini. Dermaga ini tidak hilang ditelan sejarah, melainkan bertransformasi dan tetap menjadi pilihan utama dalam moda penyeberangan bagi masyarakat lokal.

Bahkan, Dermaga Cabang saat ini dapat disebut sebagai dermaga yang paling sibuk melayani jasa penyeberangan orang dan barang di kawasan tersebut. Keunggulan lokasinya yang strategis, menghubungkan dua kabupaten atau lebih di kawasan perairan, menjadikannya tak tergantikan bagi pergerakan harian masyarakat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh R. Didin Kusdian pada tahun 2011 mengenai Potensi Revitalisasi Transportasi Sungai di Lampung, operasi Dermaga Cabang hampir tidak pernah berhenti, ia beroperasi hampir 24 jam sehari. Terutama selama masih ada permintaan dari masyarakat yang ingin menyeberang. Moda transportasi yang digunakan adalah klotok (perahu bermotor tradisional), yang mampu membawa penumpang dan barang dalam skala kecil hingga menengah. Rute penyeberangan utama yang dilayani oleh Dermaga Cabang saat ini meliputi:

  1. Dermaga Antasena, Berada di wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Rute ini menghubungkan masyarakat di dua wilayah kabupaten yang berbeda secara cepat melalui jalur air.
  2. Dermaga Kuala, Terletak di Kabupaten Lampung Tengah. Rute ini memfasilitasi pergerakan antar-desa atau antar-kecamatan di sepanjang muara sungai.

Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun peran ekspor lada telah bergeser ke pelabuhan-pelabuhan yang lebih besar dan modern, fungsi sosial dan ekonomi lokal Dermaga Cabang tetap relevan. Ia melayani kebutuhan esensial masyarakat, konektivitas harian yang murah dan efisien, menjembatani jarak yang mungkin jauh jika ditempuh melalui jalur darat yang berputar-putar.

Signifikansi Historis dan Potensi Masa Depan

Dermaga Cabang adalah penanda sejarah yang kaya. Kisahnya merangkum evolusi transportasi dan perdagangan di Lampung, mulai dari era kapal layar yang membawa lada ke Jawa hingga klotok yang mengangkut warga menyeberang antar-kabupaten.

Secara historis, Dermaga Cabang adalah cermin dari bagaimana infrastruktur sungai dimanfaatkan secara maksimal sebagai basis ekonomi pada masa kolonial. Keberadaannya memberikan gambaran tentang bagaimana ekonomi komoditas (khususnya lada) membentuk pola permukiman, koneksi regional (Palembang, Jawa), dan sistem logistik di pedalaman Lampung.

Secara sosiologis, keberlangsungan operasinya hingga saat ini menunjukkan ketahanan budaya maritim dan sungai masyarakat setempat. Peran Dermaga Cabang yang tidak pernah berhenti beroperasi adalah pengingat bahwa infrastruktur yang berakar pada kondisi geografis alami (sungai dan muara) seringkali lebih tahan lama dan relevan bagi kehidupan masyarakat dibandingkan infrastruktur buatan yang tidak terintegrasi.

Ke depan, Dermaga Cabang dapat diposisikan bukan hanya sebagai fasilitas penyeberangan, tetapi juga sebagai situs warisan sejarah dan budaya. Melalui narasi Dermaga Cabang, kita dapat menghargai betapa eratnya hubungan antara sungai, perdagangan, dan kehidupan masyarakat Lampung dari masa ke masa.

 

Referensi:

JFP. Richter. 1910. Rapport Nopens Den Aanleg Van Staatsspoorwegen in Zuid-Sumutra. Batavia: Landsdrukkerij

Kusdian, R. D. (2011). Potensi Revitalisasi Transportasi Sungai di Provinsi Lampung. Jurnal Transportasi, 11(2), 143–152.

R. Broersma. 1916. De Lampongsche Districten. Batavia: Javasche Boekhandel & Drukkerij

Rabu, 02 Juli 2025

Onderneming Redjosari: Jejak Perkebunan Kolonial di Natar

Natar dikenal sebagai daerah yang memiliki kawasan industri di Lampung. Beberapa perusahaan industri berdiri di sepanjang jalan lintas Sumatra, Natar ini. Mengenai industri, ternyata di masa lalu Natar juga menjadi daerah penghasil bahan mentah industri. Dalam hal ini adalah komoditas karet dan sawit yang dikelola oleh Onderneming Redjosari.

Oleh: Adi Setiawan

Sawit di Onderneming Redjosari

(Sumber:  Indië en Jong-Nederland, 1926) 

Di tengah bentang alam Sumatera bagian selatan, berdiri salah satu perusahaan perkebunan berpengaruh di Lampung pada masa kolonial, yakni Onderneming Redjosari. Didirikan pada tahun di awal abad 20 kurang lebih pada tahun 1908, perusahaan ini menjadi saksi dari ekspansi industri perkebunan yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda. Dengan luas areal tanam mencapai 2.418 hektar, Redjosari menjelma menjadi perusahaan karet dan kelapa sawit terbesar kedua di Lampung. Ini bukan sekadar entitas bisnis, tetapi juga bagian penting dari lanskap sosial dan ekonomi di masa kolonial.

Onderneming Redjosari merupakan satu dari 53 onderneming atau perusahaan perkebunan besar yang tersebar di Sumatera. Total luas lahan onderneming di Sumatra ketika berkuasa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mencapai 44.673 hektare. Dari jumlah tersebut, jenis tanaman yang dibudidayakan mencerminkan arah kebijakan kolonial dalam memaksimalkan ekspor hasil bumi. Adapun rincian dari lahan yang dikelola oleh seluruh onderneming tersebut mencakup:

  • Karet: 26.345 hektare
  • Kopi: 6.930 hektare
  • Campuran karet dan kopi: 2.444 hektare
  • Teh: 4.927 hektare
  • Kelapa sawit: 3.374 hektare
  • kina: 353 hektare
  • Fiber (serat): 300 hektare

Catatan ini tercantum dalam arsip surat kabar De Indische Courant tertanggal 17 Januari 1938 dan 3 Desember 1937. Dari data tersebut, terlihat jelas bahwa karet menjadi komoditas utama dalam orientasi pertanian kolonial, diikuti oleh kopi dan teh. Redjosari, dalam konteks ini, memainkan peranan vital sebagai pusat produksi karet dan sawit.

Keberadaan Onderneming Redjosari memberikan gambaran tentang bagaimana sistem ekonomi kolonial bekerja di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial memosisikan wilayah Lampung sebagai lumbung bahan mentah. Wilayah ini disulap menjadi sentra produksi karet dan sawit, hasil-hasil yang memiliki nilai jual tinggi di pasar dunia pada masa itu. Selain Redjosari, beberapa perusahaan lain yang memiliki fungsi serupa di Lampung, sebagai contoh adalah Onderneming Kedaton, Onderneming Pesawaran, dan Onderneming Bekri. Keberadaan onderneming-onderneming di Lampung itu menjadi bagian dari jaringan perusahaan yang menopang struktur ekonomi kolonial yang berorientasi pada ekspor.

Jhr. AJD van Suchtelen v.d Naere

Administrator Onderneming Redjosari

(Sumber:  Haagsche Courant, 1935) 

Salah satu aspek menarik dari sejarah Onderneming Redjosari adalah mekanisme perekrutan tenaga kerja. Dalam catatan TH.G.E. Hoedt (1930:123), dijelaskan bahwa perusahaan ini merekrut buruh-buruh dari Pulau Jawa, khususnya dari daerah padat penduduk seperti Kebumen dan Karanganyar. Pada tahun 1916, sejumlah besar keluarga direkrut untuk bekerja di Redjosari melalui sistem yang dikenal sebagai Perjanjian Bebas.

Perjanjian ini berlangsung selama enam bulan. Para kepala keluarga maupun pekerja lajang menandatangani kontrak kerja dengan imbalan berupa lahan kebun dan tempat tinggal setelah masa kontrak berakhir. Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk membentuk komunitas tetap yang dapat sewaktu-waktu dimobilisasi kembali sebagai tenaga kerja. Dengan kata lain, sistem ini tidak hanya memfasilitasi kebutuhan jangka pendek perusahaan akan buruh, tetapi juga menciptakan bentuk kolonisasi perkebunan yang bersifat permanen. Fenomena ini merupakan bagian dari kebijakan besar kolonial Belanda yang dikenal sebagai kolonisasi atau pemindahan penduduk dari Jawa ke luar pulau demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri perkebunan. Strategi ini menjadi awal mula terbentuknya komunitas Jawa di banyak wilayah di Sumatera, termasuk Lampung.

Gambaran Onderneming Redjosari sebagai perusahaan bukan hanya terlihat dari luas lahannya, tetapi juga dari neraca keuangan yang dijalankan. Dalam laporan neraca per 31 Desember 1935 yang dimuat dalam De Telegraaf tanggal 10 Juni 1936, tercatat bahwa perusahaan memiliki total aset sebesar f 1.744.624 (gulden), dengan rincian sebagai berikut:

  • Aset perusahaan: f 25.296
  • Surat berharga: f 11.000
  • Inventaris kantor: f 1,-
  • Stok hasil panen karet tahun 1935: f 13.000
  • Berbagai debitur: f 120
  • Kas dan rekening pos: f 761
  • Saldo rugi: f 76.009
  • Modal: f 1.000.000
  • Cadangan pajak: f 41.541
  • Cadangan cuti personel Eropa: f 13.030
  • Cadangan personel pribumi: f 14.719
  • Dividen belum terkumpul: f 60
  • Berbagai kreditor: f 801.461 

Untuk memperkuat daya saing dan stabilitas usaha, Redjosari tergabung dalam sebuah sindikat perusahaan perkebunan. Dalam sindikat ini, para administrator perusahaan saling bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam operasional sehari-hari.

Salah satu bukti dari aktivitas sindikat ini adalah Rapat Umum yang digelar pada 4 November 1939 di Tanjungkarang. Rapat ini dihadiri oleh berbagai perwakilan perusahaan, termasuk Jhr. AJD van Suchtelen v.d Naere, Administrator dari Onderneming Redjosari. Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, serta berbagai solusi yang dapat diambil secara kolektif.

Meski zaman telah berganti, jejak Onderneming Redjosari masih dapat ditemukan hingga kini. Perusahaan ini tetap beroperasi dan kini berada di bawah manajemen PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII), salah satu BUMN yang mengelola aset-aset perkebunan warisan kolonial di Indonesia. Redjosari menjadi saksi bisu perubahan dari era kolonial ke era kemerdekaan.

Lebih dari sekadar perusahaan, Redjosari adalah bagian dari mosaik sejarah Indonesia, menggambarkan bagaimana kekuatan ekonomi kolonial membentuk struktur sosial, pola migrasi, dan perubahan lanskap agraria. Warisan ini, baik dalam bentuk aset fisik maupun jejak sosial, terus memengaruhi kehidupan masyarakat Lampung dan Indonesia hingga hari ini. Khususnya bagi masyarakat Natar, Lampung Selatan Onderneming Redjosari menjadi satu titik sejarah yang mewarnai kehidupan di masa lalu. 

Referensi:

De Indische Courant, 03 Desember 1937

De Indische Courant, 17 Januari 1938

De Telegraaf, 10 Juni 1936

TH.G.E., Hoedt. 1930. Indische Bergcultuurondernemingen Voornamelijk In Zuid-Sumatra. H. Veenman & Sons: Wageningen

Sistem Irigasi Batanghari Utara: Jejak Sejarah dan Visi Ketahanan Pangan

Keberadaan Bendung Garongan atau Swadaya menjadi satu fasilitas pengairan yang dikenal oleh masyarakat di wilayah Pekalongan dan Purbolinggo...

Populer